Menjadi Versi Terbaik Diri: Ketika Hambatan Menjadi Tempaan Allah

Menjadi Versi Terbaik Diri: Ketika Hambatan Menjadi Tempaan Allah
*) Oleh : Muhammad Hidayatulloh
Pengurus PRM Berbek dan Pengasuh Kajian Tafsir Al Qur'an di Masjid Al Huda Berbek Sidoarjo.
www.majelistabligh.id -

Tetapi potensi bukanlah prestasi.

Potensi hanyalah kemungkinan yang diberikan Allah.

Ia harus ditemukan, dilatih, didisiplinkan, dan diarahkan kepada kebaikan.

Bakat tanpa ikhtiar akan tetap menjadi kemungkinan.

Kesempatan tanpa keberanian akan berlalu.

Ilmu tanpa amal tidak akan banyak mengubah kehidupan.

Karena itu, jangan hanya bertanya, “Apa kelebihan yang Allah berikan kepadaku?”

Tanyakan pula:

“Apa yang telah kulakukan terhadap kelebihan itu?”

Mungkin Allah tidak sedang menuntut kita menjadi orang lain. Bisa jadi Allah sedang menuntut kita menjadi versi terbaik dari diri yang telah Dia amanahkan kepada kita.

Dan proses menuju ke sana tidak selalu menyenangkan.

Besi menjadi kuat setelah ditempa.

Karakter manusia pun sering menjadi kuat setelah melewati tekanan.

Kesabaran tidak tumbuh dari kehidupan yang selalu mudah.

Keteguhan tidak lahir dari keadaan yang selalu nyaman.

Kematangan tidak muncul tanpa pengalaman.

Maka jangan selalu melihat hambatan sebagai tanda bahwa Allah sedang menghalangi perjalanan kita. Bisa jadi hambatan itu justru bagian dari tarbiyah Allah agar kita memiliki kemampuan yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang lebih besar.

Ada kalanya Allah tidak segera memberikan apa yang kita inginkan karena kita sedang dipersiapkan untuk sesuatu yang lebih besar daripada yang kita bayangkan.

Ada kalanya jalan diperlambat agar kita belajar sabar.

Ada kalanya kita dijatuhkan agar belajar bangkit.

Ada kalanya kita ditolak agar belajar memperbaiki diri.

Dan ada kalanya kita diremehkan agar belajar bahwa nilai diri kita tidak bergantung pada penilaian manusia.

Karena itu, jangan takut pada tempaan kehidupan. Takutlah jika kita melewati tempaan tanpa menjadi lebih baik.

Kesulitan seharusnya membuat kita lebih dewasa.

Kegagalan seharusnya membuat kita lebih bijaksana.

Ejekan seharusnya membuat kita semakin kuat tanpa menjadi pendendam.

Keberhasilan seharusnya membuat kita semakin bersyukur tanpa menjadi sombong.

Inilah keseimbangan seorang mukmin: realistis terhadap kehidupan, tetapi optimistis terhadap pertolongan Allah.

 

Tinggalkan Balasan

Search