Merdeka artinya bebas dari belenggu dosa nestapa.
Sebenarnya manusia bisa hidup dengan meminimalisir dosa dan maksiat asalkan dekat dengan Allâh Swt
Hidup terlindungi.
وَاِ ذَا سَاَ لَـكَ عِبَا دِيْ عَنِّيْ فَاِ نِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّا عِ اِذَا دَعَا نِ ۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 186)
Kajian tafsirnya:
Merdeka dari nafsu angkara murka.
Nasfu terkadang dikejar sampai ujung dunia sedangkan akhirat depan mata terlupakan.
Al-Hijr, ayat 39-44
{قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأرْضِ وَلأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (39) إِلا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (40) قَالَ هَذَا صِرَاطٌ عَلَيَّ مُسْتَقِيمٌ (41) إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ (42) وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوْعِدُهُمْ أَجْمَعِينَ (43) لَهَا سَبْعَةُ أَبْوَابٍ لِكُلِّ بَابٍ مِنْهُمْ جُزْءٌ مَقْسُومٌ (44) }
berkata, “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku “sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti ‘aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlas di antara mereka.” Allah berfirman, “Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan), semuanya. Jahanam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka.
Allah menceritakan perihal iblis dan pembangkangan serta keangkuhannya, bahwa ia berkata kepada Tuhannya:
{بِمَا أَغْوَيْتَنِي}
oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat. (Al-Hijr: 39)
Sebagian ulama mengatakan bahwa iblis bersumpah atas nama penyesatan Allah terhadap dirinya. Menurut kami, makna ayat dapat ditakwilkan bahwa ‘karena Engkau telah menyesatkan aku’.
{لأزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأرْضِ}
pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi. (Al-Hijr: 39)
Yang dimaksud dengan “mereka’ ialah anak cucu dan keturunan Adam a.s. Dengan kata lain iblis mengatakan, “Sesungguhnya aku akan membuat mereka senang dan memandang baik perbuatan-perbuatan maksiat, dan aku akan anjurkan mereka serta menggiring mereka dengan gencar untuk melakukan kemaksiatan.”
{وَلأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ}
dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. (Al-Hijr: 39)
Yakni sebagaimana Engkau telah menyesatkan aku danmenakdirkanku menjadi sesat, maka aku akan berupaya keras untuk menyesatkan mereka.
{ إِلا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ}
kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlas di antara mereka. (Al-Hijr: 40)
Ayat ini semakna dengan yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{أَرَأَيْتَكَ هَذَا الَّذِي كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَئِنْ أَخَّرْتَنِي إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لأحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُ إِلا قَلِيلا}
Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil. (Al-Isra: 62)
Allah (Subhanahu wa Ta’ala) berfirman dengan nada mengancam:
{هَذَا صِرَاطٌ عَلَيَّ مُسْتَقِيمٌ}
Allah berfirman, “Inilah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya).” (Al-Hijr: 41)
