Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA) sedang berada pada fase penting: mengejar mutu, akreditasi unggul, publikasi, internasionalisasi, transformasi digital, dan daya saing. Itu bukan dosa. Bahkan merupakan keniscayaan. . Muhammadiyah sendiri mencatat perjuangan kampus-kampusnya untuk meningkatkan kualitas dan menghapus stigma sebagai perguruan tinggi swasta.
Tetapi justru di tengah perlombaan menjadi excellent itulah MKCH (Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah) perlu dibaca kembali—bukan sebagai dokumen yang dihafal, melainkan sebagai cermin yang menguji arah.
MKCH menegaskan keyakinan bahwa Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya ajaran Islam dalam kehidupan manusia dan mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Maka pendidikan bukan sekadar aktivitas akademik. Ia bagian dari gerakan dakwah dan pembentukan manusia.
Persoalannya: apakah semangat itu masih menjadi napas PTMA ketika kampus semakin dikelola dengan bahasa indikator, target, ranking, akreditasi, income generating, dan branding?
Jangan-jangan kita sedang mengalami paradoks: kampus semakin modern, tetapi ideologi semakin menjadi mata kuliah; gedung semakin megah, tetapi cita-cita semakin menjadi slogan.
MKCH tidak pernah meminta Muhammadiyah memilih antara Islam dan kemajuan. Justru Islam harus menjadi energi kemajuan. Karena itu, mengejar akreditasi unggul sah. Mengejar reputasi internasional penting. Memperkuat riset wajib. Mengembangkan teknologi perlu. Tetapi semua itu harus menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: unggul untuk apa dan untuk siapa?
Sebab jika keunggulan hanya menghasilkan kampus yang pintar mengumpulkan skor, tetapi tidak mampu melahirkan manusia yang jujur, berintegritas, peduli kepada masyarakat, dan memiliki keberpihakan kepada kemaslahatan, maka ada sesuatu yang keliru dalam cara kita membaca kemajuan.
MKCH mestinya menjadi rem sekaligus kompas. Rem agar PTM-A tidak berubah menjadi korporasi pendidikan yang hanya kebetulan memakai nama Muhammadiyah. Kompas agar modernisasi kampus tetap bergerak menuju cita-cita Persyarikatan.
Di sinilah penguatan ideologi harus keluar dari seremoni. Jangan sampai warga kampus sangat fasih menyebut Islam Berkemajuan, tetapi gagap menerapkannya ketika berhadapan dengan persoalan kekuasaan, kepentingan, ketidakadilan, atau konflik internal.
Ideologi paling mudah diuji di ruang seminar. Yang sulit adalah membuktikannya di ruang keputusan.
Ketika jabatan diperebutkan, apakah yang menang kepentingan pribadi atau kepentingan Persyarikatan? Ketika anggaran dibagi, apakah efisiensi berjalan bersama keadilan? Ketika mahasiswa miskin datang, apakah ia dilihat sebagai beban biaya atau sebagai manusia yang harus diberi kesempatan? Ketika dosen berbeda pandangan, apakah perbedaan diperlakukan sebagai kekayaan intelektual atau ancaman?
Di situlah MKCH menjadi hidup—atau mati secara perlahan.
PTMA tidak boleh terjebak pada Islamisasi atribut tetapi sekularisasi praksis: simbol Islam berada di mana-mana, sementara nilai Islam justru semakin sulit ditemukan dalam perilaku kelembagaan. .
Karena itu, penguatan MKCH hari ini bukan nostalgia terhadap masa lalu. Ia adalah uji ketahanan identitas PTMA menghadapi masa depan.
Kampus boleh menjadi world class. Tetapi jangan sampai menjadi world class dengan ruh kelas lokal.
Sebab Muhammadiyah tidak mendirikan perguruan tinggi hanya agar memiliki banyak universitas. . .
Muhammadiyah mendirikan pendidikan untuk membentuk manusia.
Dan pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan apakah PTM-A semakin unggul.
Pertanyaannya: ketika PTM-A semakin unggul, apakah Muhammadiyah juga semakin terasa di dalamnya—dalam ilmu, akhlak, tata kelola, keberpihakan, dan pengabdiannya kepada umat serta bangsa?
Jika jawabannya tidak, mungkin yang sedang kita bangun bukan Islam Berkemajuan, melainkan *kemajuan yang kehilangan Islamnya. (*)
