Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) adalah gerbang awal anak-anak menapakkan kaki di dunia pendidikan formal lebih lebih dunia pesantren. Namun jauh sebelum istilah MPLS lahir, para ulama terdahulu telah memiliki “hari pertama sekolah” yang luar biasa.
Di balik keagungan ilmu para ulama besar, terdapat peran tangguh para ibunda yang mempersiapkan bekal terbaik: ketulusan niat, kemandirian, kemuliaan adab, dan pengorbanan.
Berikut adalah potret indah “MPLS” para ulama yang wajib menjadi inspirasi bagi setiap orang tua modern:
1. Ibunda Imam Malik: Mengutamakan Adab Sebelum Ilmu
Sebelum sang anak melangkah ke majelis ilmu, ibunda Imam Malik mendandani putranya dengan pakaian terbaik, merapikan sorbannya, lalu menanamkan prinsip paling mendasar dalam belajar, yaitu mendahulukan etika. Beliau berpesan:
« تَعَلَّمْ مِنْ أَدَبِهِ قَبْلَ عِلْمِهِ »
“Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya.“[^1]
2. Ibunda Imam Ahmad: Menemani dan Menjaga Istiqamah
Ibunda Imam Ahmad bin Hanbal adalah teladan dalam totalitas pengasuhan. Sejak sebelum waktu fajar, beliau telah terbangun untuk menyiapkan air hangat demi kebersihan putranya, memakaikan pakaian, hingga mengantarkannya berjalan membelah malam menuju halaqah ilmu agar sang anak tetap konsisten (istiqamah) dalam belajar.[[^2]]
3. Ibunda Sufyan Ats-Tsauri: Pengorbanan Materi demi Keberkahan
Tidak semua orang tua lahir dalam kelapangan harta, begitu pula ibunda Sufyan Ats-Tsauri. Di tengah keterbatasan ekonomi, tekadnya tidak surut. Beliau membanting tulang memeras keringat dengan menenun kain demi membiayai sekolah anaknya, seraya berkata:[[^3]]
« يَا بُنَيَّ، اشْتَرِ الطَّلَبَ، وَأَنَا أَكْفِيكَ مِنْ غَزْلِي »
“Wahai anakku, tuntutlah ilmu. Aku akan mencukupi kebutuhanmu dari hasil tenunan benangku.”
Bekal Utama Orang Tua untuk Anak di Hari Pertama Sekolah
Berkaca dari madrasah para ulama di atas, tugas orang tua saat menyambut MPLS dan tahun ajaran baru bukan sekadar menyiapkan seragam baru atau bekal makanan yang lezat. Ada bekal non-fisik yang jauh lebih utama untuk disisipkan ke dalam dada anak-anak kita:
Meluruskan Niat Belajar: Tanamkan bahwa sekolah adalah sarana beribadah. Katakan kepada mereka: “Nak, belajarlah agar Allah ridha dan sayang kepadamu, agar Allah memakai ilmumu, serta menjadikannya bermanfaat bagi orang banyak.”
Menanamkan Adab dan Hormat: Ingatkan anak untuk selalu menghormati bapak dan ibu guru, menyayangi teman-teman, serta menjaga sopan santun di lingkungan sekolah. Adab yang baik adalah wadah yang akan menjaga berkahnya ilmu.
Dukungan Spiritual dan Doa: Lepas keberangkatan anak dengan pelukan hangat dan untaian doa yang tulus agar mereka diberikan kemudahan, perlindungan, serta kelapangan dalam memahami setiap pelajaran.
Mari kita jadikan momentum MPLS ini sebagai langkah awal membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga agung secara spiritual dan berkarakter mulia layaknya para ulama terdahulu. (*)
Catatan Kaki:
1. Abu Nu’aym al-Asbahani, Hilyat al-Awliya’ wa Tabaqat al-Asfiya’, jilid 6 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1997), 330.
2. Ibnu al-Jawzi, Manaqib al-Imam Ahmad bin Hanbal, ed. Adil Nuwayhid (Beirut: Dar al-Afaq al-Jadidah, 1979), 114.
3. Al-Khatib al-Baghdadi, Al-Jami’ li Akhlaq al-Rawi wa Adab al-Sami’, jilid 1 (Riyadh: Maktabah al-Ma’arif, 1983), 104.
