Muhammadiyah Targetkan Masjid Jadi Pusat Investasi Peradaban Umat

Para pimpinan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) DKM3 Muhammadiyah. (ist)
www.majelistabligh.id -

Keberhasilan sebuah masjid tidak hanya diukur dari kemegahan kubah fisik atau saldo kas yang menumpuk, melainkan dari hidupnya denyut pendidikan (tarbiyah) di serambinya.

Melalui Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Dewan Kemakmuran Masjid dan Musala Muhammadiyah (DKM3), Sabtu (11/7/2026), Persyarikatan meluncurkan cetak biru arsitektur peradaban umat yang menempatkan masjid sebagai episentrum pembentukan generasi Muslim Berkemajuan.

Rapat Kerja berlangsung di Tabligh Institute Muhammadiyah, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dalam pemaparannya secara daring yang bertajuk “Tata Kelola Pendidikan Berbasis Masjid: TPQ dan MADIN Muhammadiyah”, Wakil Sekretaris Majelis Tabligh PWM Jatim Afifun Nidlom, M.Pd., menegaskan perlunya pergeseran paradigma total dalam pengelolaan masjid. Masjid harus dikembalikan ke fungsi era Rasulullah saw—bukan sekadar tempat ibadah ritual pasif, melainkan laboratorium kehidupan, pusat transfer ilmu, dan pembinaan akhlak (Tarbiyah Wat Ta’dib).

“Tata kelola yang profesional akan mengubah peran masjid dari yang selama ini dianggap sebagai pusat pengeluaran (cost center) untuk biaya perawatan fisik, menjadi Pusat Investasi Peradaban yang produktif mencetak kader,” ujar Nidlom.

Dua Sayap Utama: TPQ dan MADIN

Strategi besar ini digerakkan oleh dua sayap lembaga pendidikan non-formal yang terstruktur di dalam ekosistem masjid:

  1. Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ): Berfokus pada pemberantasan buta huruf Al-Qur’an menggunakan metode praktis dan aplikatif (seperti Metode Tajdid) untuk semua jenjang usia.
  2. Madrasah Diniyah (MADIN): Merupakan pendidikan keagamaan luar sekolah yang berjenjang klasikal terstruktur (Awaliyah/Ula, Wustho, hingga Ulya) untuk usia 7–18 tahun. MADIN berfungsi sebagai pendalaman ilmu agama (Tafaqquh Fiddin) yang komplementer bagi siswa sekolah umum melalui kajian kitab referensi standar yang terjaga orisinalitas sanad keilmuannya.

Agar program ini tidak menjadi sekadar wacana, Muhammadiyah menerapkan kerangka manajemen modern Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling (POAC). Seluruh instrumen diatur ketat mulai dari standardisasi administrasi kesantrian, penjenjangan lewat ujian komprehensif (Munaqasah), hingga standardisasi dan sertifikasi kompetensi pedagogik para ustaz.

Selain itu, akuntabilitas pengelolaan akan diintegrasikan secara nasional berbasis digital melalui Education Management Information System (EMIS) yang menghubungkan lembaga tingkat ranting, takmir masjid, daerah, hingga pusat demi mempermudah pemetaan aset dan akreditasi.

Menjaga Kesejahteraan Pendidik

Salah satu poin krusial yang disoroti adalah ekuilibrium kesejahteraan pengajar. Meski operasional TPQ/MADIN merdeka dari orientasi komersial murni, Nidlom menekankan bahwa kesejahteraan para ustaz/ah tidak boleh diabaikan. Melalui kombinasi filantropi dan ruhul jihad, pendanaan akan dioptimalkan dari iuran wali santri sistem subsidi silang (gratis bagi dhuafa), serta pemanfaatan dana Zakat, Infaq, dan Shadaqah (ZIS) jemaah.

Pada akhirnya, cetak biru ini melahirkan sebuah ekosistem mutu yang solid antara takmir masjid, persyarikatan, ustadz, dan orang tua. Sinergi inilah yang diibaratkan sebagai “Pohon Peradaban Islam Berkemajuan”—berakar pada manajemen masjid yang kokoh, berbatang pada sistem pendidikan TPQ/MADIN yang terukur, dan berbuah pada ketahanan moral umat serta lahirnya generasi Tafaqquh Fiddin. || chusnun

 

Tinggalkan Balasan

Search