Mumpung Masih Ada Tarikan Napas 

Mumpung Masih Ada Tarikan Napas 
*) Oleh : Agus Rosid
Pekerja Sosial.
www.majelistabligh.id -

Selesai bertemu dan berbincang dengan seorang teman, tiba-tiba di perjalanan pulang, mendapat kabar ia meninggal dunia. Agenda acara yang telah kami rencanakan pada saat pertemuan itu, seketika lenyap tak bermanfaat.

Di momen seperti inilah kadang-kadang kita baru mulai merenung jika manusia hanya bisa merencanakan, Tuhanlah yang menentukan.

Dari sini kita mengetahui, ternyata ada pesan mulia dalam Al-Qur’an yang di beberapa surat mengingatkan tentang datangnya kematian. Begitu pula hadis Nabi SAW yang berpesan agar umatnya mempersiapkan kematian.

Semua pesan itu tidak dimaksudkan untuk menakut-nakuti, melainkan agar kita lebih hati-hati dan waspada menjalani kehidupan di dunia fana. Sebab, kapan ajal tiba, tidak ada satu pun dari kita yang tahu.

Ketika sudah waktunya, pahala dari semua amal akan terputus. Perhiasan dunia berupa pangkat, jabatan, ataupun kekayaan tidak lagi berguna. Saat kematian yang bisa menemani hanyalah amal yang sudah kita kerjakan selama hidup.

Namun kenyataannya, sebagian dari kita justru menganggap kematian bukan sesuatu yang mencekam, sehingga tidak perlu persiapan jauh-jauh hari. Bukannya dijadikan peringatan, kematian malah disepelekan dan dianggap sebagai peristiwa alam biasa yang pasti datang sendiri, cepat atau lambat.

Sebenarnya, banyak kejadian yang ditayangkan di berbagai media yang bisa menjadi renungan bahwa kematian datang tanpa rencana.

Masih belum lepas dari ingatan kita, peristiwa memilukan yang merenggut banyak korban. Sebuah bus yang sarat penumpang tergelincir masuk ke jurang saat melewati jalanan pegunungan. Akibatnya, tidak kurang dari 40 orang penumpang meregang nyawa di tempat. Para korban tentu tak menyangka kalau kematian itu datang tiba-tiba.

Belum lagi peristiwa bencana alam yang beritanya terus silih berganti setiap waktu, seperti gempa bumi, gunung meletus, banjir bandang, dan lainnya, yang korbannya bisa berjumlah ribuan.

Semua itu bisa terjadi setiap hari di sekitar kita sebagai penanda bahwa jarak antara kehidupan dan kematian hanya sejauh satu tarikan napas.

Sayangnya, sering kali kesadaran itu baru muncul saat kita sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Padahal, Allah sudah mengingatkan bahwa jika kematian sudah terjadi, tidak ada cara untuk menunda dan meminta waktu sedetik pun demi sekadar ingin melakukan perbuatan terbaik.

Hal ini diabadikan dalam ayat: “Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: ‘Ya Tuhanku kembalikanlah aku ke dunia, agar aku berbuat amal yang salih terhadap yang telah aku tinggalkan…”

Sayangnya, jawaban Allah tegas: “Sekali-kali tidak! Sungguh itu adalah dalih yang diucapkannya saja.” (QS. Al-Mu’minun: 99-100).

Dari sini kita diingatkan akan pentingnya menjadikan bumi ini sebagai ladang amal sebanyak-banyaknya selagi napas masih ada. Bukankah tugas utama kita tidak lain hanyalah beribadah selama hayat masih di kandung badan.

Namun, praktiknya memang cukup berat. Aneka macam godaan duniawi yang melalaikan selalu tampak di depan mata. Harta, jabatan, pesona lawan jenis, kesibukan, dan rasa “nanti saja” sering kali mengalahkan tekad dan niat baik kita.

Sebenarnya hal ini tidak mengherankan, karena sejak dulu sudah ‘diwanti-wanti’ bahwa dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang yang ingkar.(HR. Muslim, No. 2956).

Artinya, selama hidup kita tidak akan bisa menikmati kesenangan dan kelezatan fana seperti yang dinikmati orang-orang ingkar. Segalanya dibatasi, mulai dari bangun tidur sampai hendak beranjak ke peraduan lagi di malam hari.

Layaknya di dalam penjara, kehidupan kita di dunia diikat oleh berbagai aturan syariat. Kita dilarang menuruti hawa nafsu yang haram, diwajibkan melakukan ibadah yang berat bagi fisik, dan harus menahan diri dari hal-hal syubhat.

Tujuannya supaya kita dapat menahan diri, sembari menanam amal salih dan bersabar. Karena kita menyakini bahwa hasil panennya bukan di sini, tetapi nanti setelah hari perhitungan. Ada kenikmatan luar biasa yang telah Allah siapkan di surga nanti. Bagi kita, keindahan dunia hari ini bak fatamorgana, semakin dikejar semakin hampa, tidak ada apa-apanya dibanding akhirat.

Karena itu, hari-hari yang kita jalani sekarang adalah kesempatan untuk tidak menunda bersegera menunaikan kebajikan (fastabiqul khairat), apalagi dengan dalih bisa “tobat nanti saja”. Bukankah kematian tidak pernah mengirim undangan lebih dahulu? Siapa pun tak ada yang tahu. Bisa jadi ia datang saat kita paling lengah: di tengah pesta pora, di tengah perjalanan, bahkan di tengah rencana panjang yang sudah kita susun tapi belum sempat kita jalani.

Inilah mengapa setiap hari yang berlalu tanpa amal adalah hari yang tidak bisa kita tebus. Karena jika napas sudah lepas dari kerongkongan tak akan bisa dikembalikan lagi. Mumpung masih diberi waktu, hal terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan memperbaiki diri, menebar manfaat, dan meninggalkan jejak kebaikan yang terus mengalir meski raga sudah terkubur tanah.

Hidup ini singkat, hanya sebatas menunda kematian, namun jejaknya bisa panjang tergantung niat dan amal kita. Pangkat yang melekat di pundak seiring waktu akan dilupakan, harta yang kita kejar pada saatnya akan dibagi oleh para ahli waris, bahkan nama harum yang jadi pembicaraan orang selama hayat mungkin hilang ditelan zaman.

Lantas yang tersisa hanyalah amal. Saat itu kita akan datang kepada Maha Pencipta sendiri-sendiri seperti pertama kali diciptakan, semua fasilitas terputus total dan tertinggal di dunia. Inilah gambaran salah satu rangkaian kehidupan abadi setelah kematian.

Maka sebelum ajal menjemput tiba-tiba, lebih baik mengisi hidup ini dengan sesuatu yang tidak mati bersama kita. Karena ketika semua pintu dunia tertutup, hanya amal yang akan membukakan pintu di alam baka.

 

Tinggalkan Balasan

Search