Musyawarah: Ketika Integritas Bertemu Kapasitas

Musyawarah: Ketika Integritas Bertemu Kapasitas
*) Oleh : Muhammad Hidayatulloh
Pengurus PRM Berbek dan Pengasuh Kajian Tafsir Al Qur'an di Masjid Al Huda Berbek Sidoarjo.
www.majelistabligh.id -

Pendidikan harus membentuk kemampuan berpikir sekaligus karakter.

Sebab seseorang dapat memperoleh gelar tanpa memperoleh kebijaksanaan. Ia dapat menguasai teori tanpa mampu membedakan kepentingan publik dari kepentingan pribadi. Ia dapat memiliki kemampuan berbicara tetapi tidak memiliki kemampuan mendengarkan. Ia dapat memenangkan perdebatan tetapi kehilangan kebenaran.

Musyawarah membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan berbicara.

Ia membutuhkan kemampuan mendengar.

Mendengar pendapat orang lain bukan berarti kehilangan pendirian. Justru orang yang memiliki dasar pemikiran kuat tidak takut mendengar. Ia mampu menerima informasi baru, mempertimbangkan argumen berbeda, mengoreksi kesalahan, dan mengubah pendapat ketika menemukan alasan yang lebih kuat.

Inilah salah satu ciri penting manusia Ulul Albab: ia tidak berhenti pada suara yang paling keras, tetapi mencari makna yang paling benar.

Karena itu, musyawarah tidak seharusnya menjadi arena pertarungan ego.

Jika setiap orang datang dengan keyakinan bahwa pendapatnya sendiri harus menang, maka forum tersebut mungkin disebut musyawarah, tetapi secara substansial ia telah berubah menjadi arena perebutan pengaruh.

Musyawarah yang sehat justru dimulai dengan kesediaan untuk mengatakan:

“Saya mungkin benar, tetapi saya mungkin juga keliru.”

Kalimat tersebut bukan tanda kelemahan. Ia adalah tanda kerendahan hati intelektual.

Dalam kerangka tauhidik, sikap ini memiliki dasar yang kuat. Manusia adalah makhluk yang terbatas. Pengetahuannya terbatas. Pengalamannya terbatas. Kemampuannya membaca masa depan terbatas. Karena itu, manusia membutuhkan orang lain untuk melengkapi kekurangannya.

Di sinilah musyawarah menjadi sebuah mekanisme epistemologis sekaligus sosial.

Ia bukan hanya cara mendapatkan persetujuan, tetapi cara mengumpulkan pengetahuan yang tersebar pada banyak manusia.

Seorang ahli ekonomi mungkin memahami persoalan ekonomi, tetapi belum tentu memahami seluruh persoalan pendidikan. Seorang ahli pendidikan mungkin memahami proses pembelajaran, tetapi belum tentu memahami seluruh persoalan ekonomi. Seorang ulama mungkin memiliki kedalaman dalam memahami teks agama, tetapi persoalan teknologi modern mungkin membutuhkan keahlian tambahan. Seorang teknokrat mungkin menguasai data, tetapi keputusan publik juga memiliki dimensi moral dan kemanusiaan.

Musyawarah mempertemukan berbagai kapasitas tersebut.

Karena itu, musyawarah yang sehat bukan berarti semua orang harus menjadi ahli dalam segala hal. Justru salah satu tanda kedewasaan adalah mengetahui apa yang kita ketahui dan apa yang tidak kita ketahui.

Orang yang tidak mengetahui persoalan tertentu seharusnya memiliki kerendahan hati untuk mendengar orang yang lebih mengetahui.

Dan orang yang memiliki keahlian seharusnya memiliki kerendahan hati untuk tidak menggunakan keahliannya sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.

Di sini kembali bertemu dua kata penting: ilmu dan adab.

Ilmu memberikan kemampuan untuk memahami.

Adab memberikan kemampuan untuk menggunakan pemahaman itu dengan benar.

Keduanya diperlukan dalam musyawarah.

Maka kita mulai melihat bahwa konsep musyawarah tidak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari sebuah bangunan yang lebih besar:

epistemologi yang benar melahirkan cara berpikir yang sehat; cara berpikir yang sehat membentuk manusia yang matang; manusia yang matang memiliki integritas dan kapasitas; manusia yang berintegritas dan berkapasitas mampu bermusyawarah secara dewasa; musyawarah menghasilkan keputusan; dan keputusan dijalankan melalui institusi yang amanah.

 

Tinggalkan Balasan

Search