Musyawarah: Ketika Integritas Bertemu Kapasitas

Musyawarah: Ketika Integritas Bertemu Kapasitas
*) Oleh : Muhammad Hidayatulloh
Pengurus PRM Berbek dan Pengasuh Kajian Tafsir Al Qur'an di Masjid Al Huda Berbek Sidoarjo.
www.majelistabligh.id -

Tetapi masih ada satu pertanyaan yang sangat penting.

Dari mana manusia dengan integritas dan kapasitas tersebut akan lahir?

Apakah kita bisa berharap mereka muncul dengan sendirinya ketika bangsa membutuhkan?

Tentu tidak.

Manusia Ulul Albab tidak lahir hanya karena sebuah jabatan menunggunya. Ia tidak muncul secara otomatis karena seseorang mendapatkan gelar akademik. Ia tidak terbentuk hanya karena seseorang berasal dari keluarga baik atau lingkungan elite.

Ia dibentuk melalui proses pendidikan yang panjang.

Karena itu, seluruh pembahasan kita akhirnya kembali kepada titik yang sangat fundamental: pendidikan.

Jika pendidikan hanya menghasilkan manusia yang pandai mendapatkan nilai, kita akan memperoleh manusia yang pandai menghadapi ujian.

Jika pendidikan hanya menghasilkan manusia yang pandai mendapatkan pekerjaan, kita akan memperoleh tenaga kerja.

Jika pendidikan hanya menghasilkan manusia yang pandai memenangkan kompetisi, kita akan memperoleh manusia kompetitif.

Tetapi jika pendidikan diarahkan untuk membentuk Ulul Albab, kita berharap lahir manusia yang mampu menggunakan ilmu untuk membaca kehidupan, menggunakan akal untuk mencari kebenaran, menggunakan hati untuk menjaga moral, dan menggunakan kekuasaan sebagai amanah.

Di situlah pendidikan tidak lagi sekadar menjadi urusan sekolah.

Pendidikan menjadi proyek peradaban.

Sebab bangsa yang ingin memiliki sistem yang baik harus mempersiapkan manusia yang mampu mengelolanya. Bangsa yang ingin memiliki musyawarah yang sehat harus membentuk manusia yang mampu berpikir dan mendengar. Bangsa yang ingin memiliki kekuasaan yang amanah harus membentuk manusia yang memahami bahwa kekuasaan bukan milik pribadi.

Dan bangsa yang ingin membangun peradaban tauhidik harus mulai dari pertanyaan yang paling mendasar:

Manusia macam apa yang hendak kita lahirkan?

Pertanyaan itulah yang akan menjadi pintu masuk bagian terakhir dari seri ini.

Setelah kita berbicara tentang ideologi, epistemologi, sistem, manusia, Ulul Albab, integritas, kapasitas, dan musyawarah, kita akhirnya sampai pada fondasi yang memungkinkan semuanya terbentuk: pendidikan.

Sebab jika kita ingin mengubah masa depan, mungkin kita tidak cukup hanya mengubah sistem yang ada.

Kita harus mulai mendidik manusia yang mampu membangun, mengoreksi, dan menjaga sistem tersebut.

Bersambung — Bagian 6 dari 6: “Pendidikan Qurani dan Jalan Menuju Peradaban Tauhidik.”

 

Tinggalkan Balasan

Search