Di bawah lampu stadion yang megah dan gemuruh riuh jutaan pasang mata di Piala Dunia 2026, nama Noussair Mazraoui berada di tempat yang diimpikan setiap anak manusia. Di usia 28 tahun, ia menjadi salah satu pemain Timnas Maroko.
Status bek sayap elite dunia, dan posisi pilar utama dalam generasi emas Timnas Maroko yang kini nangkring di peringkat 7 dunia FIFA. Namun, tepat ketika kariernya berada di titik kulminasi, Mazraoui justru memilih untuk menjemput sunyi. Mengakhiri karier sepak bola.
Keputusannya untuk gantung sepatu selepas Piala Dunia 2026 mengejutkan jagat sepak bola. Ini bukan cerita klise tentang atlet yang menyerah karena lutut yang remuk oleh cedera, atau performa yang merosot digerus usia. Langkah drastis ini diambil murni karena panggilan hati yang teramat kuat—sebuah kerinduan mendalam untuk mengejar aspek akhirat yang kekal.
“Mungkin saya akan memutuskan mengakhiri karier setelah Piala Dunia 2026. Hidup itu singkat. Saya ingin menghafal Al-Qur’an, memahaminya, membagikan pengetahuan ini kepada orang lain, dan menjadi imam masjid.” Kata Noussair Mazraoui.
Bagi Mazraoui, kilau trofi dan kontrak bernilai jutaan Euro tak lagi cukup untuk mengisi ruang di dadanya. Ada kesadaran spiritual yang menghentak, mengingatkannya bahwa lapangan hijau hanyalah panggung sementara.
Ketika Maroko tampil gemilang di fase grup Piala Dunia 2026—menahan imbang Brasil 1-1 dan menundukkan Skotlandia 1-0—Mazraoui tetaplah sang dinamo di sisi sayap. Namun di balik ketangguhan fisiknya menghalau penyerang lawan, hatinya telah terpaut pada hamparan sajadah dan bait-bait firman Tuhan.
Religiusitas Mazraoui bukanlah sebuah dorongan mendadak yang tanpa akar. Jauh sebelum hiruk-pikuk turnamen akbar ini, sebuah video di media sosial sempat viral memperlihatkan dirinya mengenakan peci sederhana, melantunkan Surah Ad-Dhuha dengan begitu syahdu.
Ayat demi ayat mengalir dari bibirnya dengan tajwid yang tertata dan nada yang menggetarkan jiwa siapapun yang mendengar. Melalui lantunan itu, Mazraoui seolah sedang berbisik kepada dunia bahwa kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam gemuruh tepuk tangan penonton, melainkan dalam kedamaian saat bersujud.
Pilihan Mazraoui menjadi refleksi yang menampar kehidupan modern kita yang serba bergegas. Di dunia yang mendewakan pencapaian materi, popularitas, dan status sosial, Mazraoui melakukan hal yang dianggap ‘gila’ oleh standar sekuler. Melepaskan mahkota di puncak keemasannya demi selembar sajadah dan peran sebagai pelayan umat di masjid.
Ia tidak menunggu masa tuanya tiba untuk beribadah. Ia mengorbankan masa mudanya yang paling berkilau demi sebuah investasi jangka panjang yang melampaui batas umur dunia.
Ketika peluit panjang Piala Dunia 2026 nanti ditiup, perjalanannya sebagai pesepakbola profesional mungkin akan berakhir. Namun, bagi Mazraoui, itu adalah pertandingan yang sesungguhnya—sebuah langkah tegap untuk menjadi seorang penghafal Al-Qur’an dan imam jemaah menuju keabadian. (*/chusnun)
