Penguatan Kultur Kepesantrenan dalam Delapan Dimensi Profil Lulusan

Penguatan Kultur Kepesantrenan dalam Delapan Dimensi Profil Lulusan
*) Oleh : Ali Efendi, M.Pd.
Kepala SMPMu Jipat Karangasem & Ketua Foskam SMPM Lamongan.
www.majelistabligh.id -

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof Dr  H. Abdul Mu’ti, MEd menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen), Nomor 10 Tahun 2025 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL) pada Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah.

Salah satu titik poin dalam Permendikdasmen Nomor 10 Tahun 2025 adalah mengganti konsep enam dimensi dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) menjadi Delapan Dimensi Profil Lulusan dalam Standar Kompetensi Lulusan (SKL) melalui pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning).

Delapan Dimensi Profil Lulusan, di antaranya sebagai berikut:
1. Keimanan dan Ketakwaan, memiliki akhlak mulia serta taat kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Kewargaan, memahami peran dalam lingkungan sosial serta taat pada aturan dan norma.
3. Penalaran Kritis, mampu berpikir analitis untuk mencari solusi dari sebuah masalah.
4. Kreativitas, berani mengeksplorasi ide baru dan menciptakan sesuatu yang bermanfaat.
5. Kolaborasi, mampu bekerja sama secara efektif dengan orang lain.
6. Kemandirian, bertanggung jawab penuh atas diri sendiri dan percaya diri.
7. Kesehatan, menjaga kebersihan, bergerak aktif, dan merawat fisik serta mental.
8. Komunikasi, mampu menyampaikan pendapat dengan sopan dan mendengarkan orang lain.

Nilai-nilai dalam Delapan Dimensi Profil Lulusan tersebut di atas telah diterapkan di Tahun Ajaran 2025-2026 dan sekarang telah masuk tahun ajaran kedua. Apabila dianalisa dengan cermat, ternyata konsep tersebut memiliki kesamaan dan relevansi dengan kultur yang diterapkan di dalam pendidikan pesantren (boarding school).

Nilai-nilai Dasar Pendidikan Pesantren

Pesantren mengajarkan nilai dasar-dasar dan pendidikan karakter secara langsung yang tidak disadari oleh santri. Adapun dasar-dasar karakter yang diajarkan sehari-hari di dalam kehidupan pesantren, di antaranya sebagai berikut:

1. Kepatuhan (tha’at), menjalankan perintah dengan sungguh-sungguh dan menjahui larangan.
2. Keteladanan (uswatun hasanah), mampu mencontoh perilaku yang positif dan memberikan contoh yang baik.
3. Kesalehan (shaleh), rajin beribadah dan menjaga sopan santun dalam berperilaku
4. Kemandirian (i’tamadu alan-nafsi), mampu mengerjakan sesuatu yang baik dengan madiri dan menyelesaikan masalah sendiri.
5. Kedisiplinan (intidham), mampu mengerjakan tugas tepat waktu dan tidak menunda-nunda pekerjaan.
6. Kesederhanaan (zuhud), mentradisikan hidup sederhana atau pola hidup yang tidak berlebih-lebihan dan tidak tamak.
7. Toleransi (tasaamuh), menghargai pendapat orang lain dan tidak memaksakan pendapatnya sendiri, serta menghormati perbedaan asal usul etnis atau suku bangsa.
8. Qona’ah (qona’ah), bersikap wajar atas pujian dan celaan yang diterima.
9. Rendah hati (tawadhu’), tidak berlaku sombong dalam berbagai hal.
10. Ketabahan (shabar), pantang menyerah dan berusaha, tidak mudah kecewa dan putus asa.
11. Kesetiakawanan (ta’awun), memiliki kepedulian dan suka menolong.
12. Ketulusan (ihlash), tidak mengharapkan imbalan dan pujian, beramal tanpa pamrih.
13. Konsisten (istiqamah), teguh terhadap keyakinan dan ajaran Islam, serta konsisten antara ucapan dan perbuatan.
14. Kemasyarakatan (mujtama’iyah), menyatu dengan kegiatan masyarakat dan berpartisipasi dalam bermasyarakat (Kholis Ridho & Ahmad Shofyan, 2012: 24-30).
15. Ukhuwah Islamiyah, membangun rasa persaudaraan yang erat antarsesama santri dari berbagai daerah.
16. Adab, kepribadian atau perilaku terpuji yang mencakup tata cara berbicara, dan bertindak.
17. Tawadhu’, sikap mental dan perbuatan terpuji, tidak takabur (sombong), dan selalu menghargai orang lain.
18. Gotong royong (ro’an), budaya kerja bakti membersihkan lingkungan pesantren bersama-sama secara berkala.

Integrasi Kultur Kesantrenan dengan 8 Dimensi SKL

Konsep Delapan Dimensi Profil Lulusan dalam SKL yang dijabarkan di atas memiliki relevansi dengan nilai dan kultur yang diterapkan dalam pendidikan pesantren. Maka sekolah yang berbasis pesantren dikuatkan dengan konsep tersebut, karena pesantren telah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari bagi murid yang berstatus santri.

Pembentukan karakter santri sebagaimana yang disampaikan Zamakhsyari Dhofier, bahwa pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari (1994: 18).

Sedangkan konsep lain disampaikan oleh Mastuhu, bahwa pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari (1994: 55).

Metode yang diterapkan di pesantren merupakan proses pembentukan karakter dalam kehidupan, bisa juga disebut dengan pendidikan kecakapan hidup (life skills education). Di pesantren teori dan konsep yang belum diajarkan langsung dipraktikan dalam kegiatan sehari-hari mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali. (*)

Tinggalkan Balasan

Search