Al-Qur’an mendampingkan ketakwaan dan kesabaran untuk menjamin kokohnya amanah yang diemban seorang muslim. Namun kebanyakan manusia melalaikan dua hal itu ketika mendapati dirinya dipercaya memegang suatu amanah. Bukan hanya amanahnya yang lepas tetapi manusianya juga ikut sirna dan tenggelam ditelan amarah pemberi amanah.
Nabi Yusuf bisa dijadikan sebagai contoh manusia yang mampu mengemban tugas amanah setelah menjalani hidup penuh ujian. Ketakwaan dan sabar menjadi modal utama sehingga terselamatkan dari liku-liku kehidupan. Allah mengokohkan kedudukannya dan menjadikannya buah bibir kebaikan sepanjang sejarah manusia.
Amanah dan tanggung jawab
Amanah merupakan perkara besar yang akan manusia berkedudukan tinggi ketika menjalankannya dengan baik, dan terhina ketika menyalahgunakan wewenangnya. Amanah merupakan pondasi dasar bagi manusia yang ingin memutuskan perkara. Tanpa amanah membuat hukum tergoncang dan dan merusak tatanan yang telah berjalan dengan baik. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
ِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا
“Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. An-Nisa‘ : 58)
Amanah merupakan tanggung jawab berat bukan hanya di hadapan pemberi amanah di dunia tetapi juga di hadapan pencipta alam semesta. Bagi langit, bumi, dan gunung, amanah merupakan perkara berat, dan tak mudah berlaku lurus sehingga ketiga makhluk itu meletakkannya dan tak mau menerimanya. Namun manusia dengan segala keterbatasannya justru menerimanya shingga berujung tragis. Hal ini ditegaskan Allah sebagaimana firman-Nya :
اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًاۙ
Artinya :
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu amanah itu dipikul oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.” (QS. Al-Ahzab : 72)
Ayat ini tidak sedang memuji manusia karena berani menerima amanah, tetapi justru menunjukkan kegagalannya. Allah mengingatkan bahwa kegagalannya itu karena dzalim dan bodoh. Dikatakan dzalim, karena manusia ketika mendapatkan, menggunakan amanah itu untuk kepentingan dirinya, dan dikatakan bodoh karena ketika menyalahgunakan amanah tidak memahami besarnya konsekuensi.
Menghianati Amanah
Khianat dapat terjadi ketika seseorang mengetahui yang benar tetapi justru lalai, dan lebih memilih menyalahgunakan gunakan amaanah itu demi keuntungan pribadi. Mengetahui hak orang lain tetapi menahannya; mengetahui kewajibannya tetapi mengabaikannya; atau memiliki kekuasaan untuk melayani tetapi justru menggunakan kekuasaan tersebut untuk mengambil keuntungan. Padahal, hal ini merupakan kesalahan besar.
Al-Qur’an sudah mengingatkan hal ini sebagaimana firman-Nya :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَخُوْنُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ وَتَخُوْنُوْٓا اَمٰنٰتِكُمْ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (Al-Anfal : 27)
Pemegang amanah yang telah teruji ditunjukkan oleh Nabi Yusuf. Sebagai manusia istimewa yang diselamatkan Allah sehingga mampu mengemban amanah. Ketakwaan dan kesabaran menjadi kunci penting, sehingga nabi Yusuf lolos dari berbagai ujian.
Ketakwaan dan kesabaran telah mengantarkan dirinya menjadi pembesar Mesir dan ternama. Hal ini diakuinya ketika bertemu dengan saudara-saudaranya yang pernah iri dan dengki kepadanya. Nabi Yusuf mengatakan bahwa kekuasaan yang kokoh ini karena ketakwaan dan kesabaran, sehingga Allah mengganjar kekuasaan di dunia ini. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
قَالُوْٓا ءَاِنَّكَ لَاَنْتَ يُوْسُفُۗ قَالَ اَنَا۠ يُوْسُفُ وَهٰذَآ اَخِيْ قَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَيْنَاۗ اِنَّهٗ مَنْ يَّتَّقِ وَيَصْبِرْ فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يُضِيْعُ اَجْرَ الْمُحْسِنِيْنَ
“Mereka berkata, ‘Apakah engkau benar-benar Yusuf?’ Dia (Yusuf) menjawab, ‘Aku Yusuf dan ini saudaraku. Sungguh, Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barang siapa bertakwa dan bersabar, maka sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.’” (QS. Yusuf : 90)
Kisah Nabi Yusuf sangat relevan. Beliau mengalami godaan, fitnah, penjara, kekuasaan, dan akhirnya mempunyai kesempatan membalas orang-orang yang pernah menzaliminya. Seluruh perjalanan itu karena kekokohan agamanya. Nabi Muhammad sudah mengingatkan bahwa manusia yang memegang amanah. namun tak sabar, dan tak bertakwa maka tindakananya bukan hanya merusak dirinya tetapi merusak agamanya. Hal ini ditegaskan Nabi sebagaimana sabdanya :
عَنْ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
«مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ، بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ»
Dari Ka’ab bin Malik Al-Anshari, dia mengatakan bahwa Rasulullah bersabda : “Tidaklah dua ekor serigala lapar yang dilepaskan di tengah kumpulan kambing, yang lebih merusak kambing itu dibandingkan dengan semangat seseorang terhadap harta dan kedudukan yang merusak agamanya.”
Demikianlah manusia yang memiliki ambisi berkuasa dan ingin menguasai harta, sementara di dalam dirinya hilang ketakwaan dan kesabaran, maka bukan hanya merugikan orang lain tetapi merusak tatanan sosial.
Surabaya, 20 Agustus 2026
