Sekitar Judul Buku ‘Islam Ala Prabowo’ yang Dianggap Kontroversial

Sekitar Judul Buku 'Islam Ala Prabowo' yang Dianggap Kontroversial
*) Oleh : Dr. Risman Muchtar, M.Si
Wakil Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Jangan Mengultuskan Pemimpin, Jangan Pula Menistakannya
Polemik ini memberikan pelajaran yang lebih luas tentang hubungan agama dan politik. Ada dua ekstrem yang sama-sama perlu dihindari.

Pertama, kultus terhadap pemimpin. Seorang pemimpin dipuji secara berlebihan, semua tindakannya dianggap benar, kritik dianggap sebagai permusuhan, dan keberhasilannya dikaitkan dengan kesempurnaan pribadi. Sikap seperti ini berbahaya bagi demokrasi sekaligus tidak sehat bagi kehidupan keagamaan. Kedua, demonisasi terhadap pemimpin. Sebaliknya, karena tidak menyukai seorang pemimpin, segala sesuatu tentang dirinya dianggap buruk. Bahkan kebaikan yang dilakukannya pun tidak mau diakui.

Kedua sikap tersebut sama-sama tidak Islami. Islam mengajarkan al-‘adl (keadilan). Kita dapat mengakui kebaikan seorang pemimpin tanpa harus menganggapnya sempurna, kita dapat mengkritik kebijakannya tanpa harus membenci pribadinya, dan kita juga dapat mendukung program yang baik tanpa menjadi pengikut buta. Dan kita dapat menolak kebijakan yang dianggap keliru tanpa melakukan penghinaan. Inilah kedewasaan politik yang sejalan dengan akhlak Islam.

Pelajaran Penting bagi Dakwah dan Muhammadiyah
Polemik Islam ala Prabowo juga memberikan pelajaran penting bagi gerakan dakwah.Dakwah jangan sampai menjadikan agama sebagai alat legitimasi kekuasaan. Agama harus menjadi sumber moral yang mengontrol kekuasaan, bukan sekadar ornamen untuk memperindah citra penguasa.

Dalam konteks Muhammadiyah, prinsip ini sangat penting. Muhammadiyah sejak awal menempatkan dakwah sebagai gerakan amar makruf nahi mungkar dan pembinaan masyarakat.
Karena itu, hubungan dengan penguasa harus tetap berada dalam kerangka independensi, objektivitas dan amar makruf nahi mungkar.

Pemimpin yang baik harus diapresiasi. Kebijakan yang baik harus didukung. Kebijakan yang tidak tepat harus dikritisi. Dan ketika terjadi penyimpangan, dakwah harus tetap mempunyai keberanian moral untuk mengingatkan.

Jangan sampai karena kedekatan dengan kekuasaan, organisasi keagamaan kehilangan daya kritisnya. Sebaliknya, jangan pula karena sikap kritis, organisasi keagamaan kehilangan kemampuan untuk bekerja sama dalam kebaikan.

Allah SWT berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. al-Mā’idah [5]: 2).

Penutup: Yang Diperlukan Bukan “Islam ala Siapa”, tetapi Pengamalan Islam
Kontroversi buku Islam ala Prabowo seharusnya tidak berhenti pada perdebatan tentang judul. Polemik ini justru dapat menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa Islam tidak membutuhkan personifikasi seorang tokoh. Islam sudah sempurna sebagai agama yang bersumber dari wahyu Allah SWT.

Yang membutuhkan penilaian adalah sejauh mana manusia mengamalkan Islam dalam kehidupannya. Karena itu, daripada mengatakan: “Islam ala Prabowo,” secara akademik dan teologis akan lebih aman mengatakan: “Nilai-Nilai Islam dalam Kehidupan dan Kepemimpinan Prabowo.” Atau: “Pengamalan Nilai-Nilai Islam dalam Kepemimpinan Prabowo.”

Dengan formulasi seperti itu, posisi Islam dan posisi manusia menjadi jelas. Islam sebagai ajaran berada pada posisi normatif. Prabowo sebagai manusia berada pada posisi subjek yang dinilai. Jika pengamalannya sesuai dengan prinsip Islam, kita apresiasi. Jika terdapat kekeliruan, kita kritik secara objektif. Jika terdapat kebijakan yang membawa maslahat bagi rakyat, kita dukung. Jika terdapat kebijakan yang merugikan rakyat, kita ingatkan. Sesama muslim kita berkewajiban memberikan taushiyah dengan kebenaran dan kesabaran.
Nashrun Miallahi Wafathun qarieb.

Daftar Pustaka:
• Al-Qur’an al-Karim.
• Al-Bukhari, Muhammad ibn Ismail. Shahih al-Bukhari.
• Muslim ibn al-Hajjaj. Shahih Muslim.
• Kementerian Agama Republik Indonesia. Al-Qur’an dan Terjemahannya.
• Hasan, Abdur Rahim, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas. Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam. Atmosphere Publishing House, 2025.
• AFU.id. “Buku ‘Islam ala Prabowo’ Memicu Kontroversi, Apa Sebenarnya Isi di Dalamnya?” 7 September 2026.
• Suara.com. “Siapa Sebenarnya Penulis Buku ‘Islam Ala Prabowo’ yang Sedang Viral?” 8 September 2026.
• Inilah.com. “Kontroversi Buku Islam Ala Prabowo: Siapa Penulis, Apa Isinya, dan Mengapa Jadi Polemik?” 10 September 2026.

 

Tinggalkan Balasan

Search