Ada satu hari dalam sejarah manusia yang memiliki makna luar biasa: Senin.
Bukan karena nama harinya, bukan pula karena kalender menjadikannya awal pekan. Senin menjadi istimewa karena pada hari itulah, menurut hadis yang sahih, Rasulullah Muhammad ﷺ dilahirkan. Dan pada hari yang sama pula, beliau menerima awal risalah wahyu.
Namun ada satu hal yang perlu kita sampaikan dengan jujur.
Kita mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ lahir pada hari Senin, tetapi kita tidak memiliki kepastian yang sama mengenai tanggal berapa beliau dilahirkan.
Para ulama dan ahli sejarah berbeda pendapat dalam menentukan tanggal kelahiran beliau di bulan Rabiulawal. Ada yang menyebut tanggal 8, 9, 10, 12 dan beberapa pendapat lainnya. Karena itu, menyebut 12 Rabiulawal sebagai tanggal kelahiran Nabi ﷺ sebaiknya dipahami sebagai pendapat yang masyhur, bukan sebagai fakta sejarah yang telah disepakati seluruh ulama.
Demikian pula dengan wafat beliau.
Tidak ada perbedaan berarti bahwa Rasulullah ﷺ wafat pada hari Senin, pada bulan Rabiulawal, tahun ke-11 Hijriah. Tetapi ketika pertanyaan diarahkan pada tanggal berapa beliau wafat, para ulama kembali berbeda pendapat. Pendapat yang paling masyhur menyebut 12 Rabiulawal, sementara pendapat lain menyebut tanggal 1 atau 2 Rabiulawal. Bahkan sebagian ulama menilai tanggal 2 Rabiulawal lebih kuat berdasarkan perhitungan kronologis peristiwa Haji Wada’.
Maka ada sesuatu yang menarik untuk direnungkan.
Yang pasti adalah Seninnya.
Yang diperselisihkan adalah tanggalnya.
Dan mungkin di situlah terdapat pelajaran penting.
Islam tidak mengajarkan kita untuk menutupi perbedaan ilmiah demi mempertahankan sebuah angka yang sudah populer. Kecintaan kepada Rasulullah ﷺ justru menuntut kita untuk mencintai kebenaran sebagaimana beliau mengajarkannya.
Kita boleh memperingati kelahiran beliau dengan penuh cinta. Kita boleh membaca sirahnya, bershalawat kepadanya, mempelajari akhlaknya dan menghidupkan sunnahnya. Tetapi kecintaan itu tidak perlu dibangun di atas kepastian sejarah yang sebenarnya masih diperdebatkan.
Sebab Rasulullah ﷺ bukan sekadar tanggal dalam kalender.
Beliau adalah risalah yang hidup.
Beliau lahir, membawa wahyu.
Beliau hidup, membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya.
Beliau wafat, tetapi risalahnya tidak ikut wafat.
Karena itu, ketika Rabiulawal datang, pertanyaan terpenting bukan semata-mata:
“Tanggal berapa Rasulullah ﷺ lahir?”
Melainkan:
“Apa yang lahir dalam diri kita karena mengenal Rasulullah ﷺ?”
Dan ketika mengingat wafat beliau, pertanyaannya bukan sekadar:
“Tanggal berapa beliau meninggalkan dunia?”
Melainkan:
“Apa yang akan kita lakukan dengan amanah yang beliau tinggalkan?”
Sebab sejarah Nabi ﷺ tidak dimaksudkan hanya untuk dikenang.
Ia dimaksudkan untuk diikuti.
Beliau datang ke dunia sebagai rahmat, menjalani kehidupan sebagai pembawa amanah, dan meninggalkan dunia setelah menyempurnakan risalah.
Tanggal kelahiran boleh diperselisihkan.
Tanggal wafat boleh diperdebatkan.
Tetapi satu hal tidak boleh menjadi perselisihan dalam hati seorang Muslim:
bahwa Muhammad ﷺ adalah Rasulullah, dan bahwa risalah yang beliau bawa adalah amanah yang harus diteruskan oleh umatnya.
Maka mungkin inilah makna terdalam dari Senin yang Mengubah Dunia:
Bukan sekadar Senin ketika seorang manusia dilahirkan.
Tetapi Senin ketika sejarah manusia memasuki sebuah babak baru.
Dan bukan pula sekadar Senin ketika seorang Rasul wafat.
Tetapi Senin ketika umatnya dipaksa untuk belajar bahwa Rasul boleh wafat, tetapi risalah tidak boleh mati. (*)
