Sikola Dilao’, Ikhtiar ‘Aisyiyah Menghapus Angka Putus Sekolah di Pulau Balu

Salah satu kelas Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Sikola Dilao’ yang diinisiasi oleh Aisyiyah. (ist)
www.majelistabligh.id -

Bagi masyarakat Desa Santiri di Pulau Balu, sebuah pulau kecil di Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara, laut adalah segalanya. Ia memberi kehidupan, sekaligus menghadirkan tantangan geografis yang tidak mudah, terutama bagi generasi muda yang ingin mengejar cita-cita.

Di wilayah yang dikelilingi hamparan biru ini, mengenyam pendidikan hingga jenjang menengah atas adalah sebuah kemewahan yang sarat perjuangan.

Selama bertahun-tahun, anak-anak di pulau ini harus bertaruh nasib demi melanjutkan pendidikan setelah lulus SMP. Mereka diwajibkan menyeberangi lautan menuju Pelabuhan Tondasi, sebelum melanjutkan perjalanan darat sejauh beberapa kilometer untuk mencapai sekolah terdekat.

Pilihan mereka sangat terbatas. SMK Negeri 2 Muna Barat yang berjarak sekitar 2 kilometer dari pelabuhan, atau SMA Negeri 1 Tiworo Tengah yang letaknya lebih dari 8 kilometer. Jarak yang membentang luas serta besarnya biaya transportasi harian membuat banyak orang tua terpaksa mengubur harapan anak-anak mereka.

Akibatnya, angka putus sekolah di kawasan pesisir ini melonjak tinggi. Tanpa banyak pilihan, para remaja akhirnya memilih turun ke laut untuk membantu ekonomi keluarga. Fenomena ini juga berdampak domino pada maraknya pernikahan usia dini—sebuah jalan pintas yang kerap diambil ketika ruang dan kesempatan belajar tertutup rapat.

Oase di Tengah Lautan

Namun, secercah harapan mulai tumbuh pada tahun 2025 lewat kehadiran Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Sikola Dilao’. Dalam bahasa lokal, nama tersebut memiliki arti yang sangat mendalam: “Sekolah di Laut“.

Lembaga pendidikan nonformal di bawah naungan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah ini hadir layaknya oase, menjawab kerinduan mendalam warga Pulau Balu akan akses pendidikan yang dekat, inklusif, dan ramah terhadap ritme kehidupan mereka.

Kehadiran sekolah ini bukan sekadar urusan administrasi belajar-mengajar, melainkan simbol perlawanan terhadap keterbatasan materi dan jarak. Julaika, atau yang akrab disapa Ika, salah seorang pengajar di PKBM Sikola Dilao’, menjelaskan bahwa lembaga ini memang dirancang khusus untuk merangkul mereka yang selama ini terlempar dari sistem pendidikan formal.

“Sikola Dilao’ menerapkan pendekatan yang sangat fleksibel. Kami memahami bahwa sebagian besar peserta didik di sini memiliki tanggung jawab besar, baik bekerja membantu orang tua maupun mengurus keluarga. Di sinilah pendidikan nonformal masuk untuk memfasilitasi kebutuhan mereka tanpa memaksa mereka meninggalkan mata pencaharian,” ujar Ika.

Lintas Generasi Mengejar Hak Belajar

Walaupun bersifat nonformal, mutu pembelajaran di sekolah ini tidak main-main. PKBM Sikola Dilao’ tetap berkiblat pada Kurikulum Merdeka jalur kesetaraan, sesuai dengan Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024.

Saat ini, mereka mengakomodasi tiga program utama, yaitu Paket A untuk anak-anak usia 10–16 tahun, Paket B untuk warga belajar usia 18–58 tahun, dan Paket C yang diikuti peserta rentang usia 19–46 tahun. Di dalam ruang kelas yang bersahaja, sekat-sekat generasi itu lebur. Tua dan muda duduk berdampingan demi satu tujuan mulia: hak untuk belajar.

Saat ini, tercatat ada 46 peserta didik yang aktif menimba ilmu di sekolah laut ini, yang terbagi atas 10 peserta Paket A, 9 peserta Paket B, dan 27 peserta Paket C. Semangat yang meluap-luap ini sayangnya masih harus berbenturan dengan realitas fasilitas yang serbaterbatas.

Hingga kini, Sikola Dilao’ belum memiliki gedung sendiri. Aktivitas pembelajaran sejauh ini masih menumpang di bangunan sekolah negeri setempat lewat skema pinjam pakai. Selain itu, pihak pengelola juga tengah berjuang merampungkan pengurusan izin operasional serta Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) agar status hukum lembaga ini semakin kukuh.

“Kami sangat berharap ke depan PKBM Sikola Dilao’ bisa memiliki sarana dan prasarana mandiri yang layak, serta mendapat kemudahan dalam proses birokrasi perizinan,” tutur Ika penuh harap.

Sebagai pendidik, Ika menaruh impian besar agar jaringan pendidikan komunitas seperti Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dapat terus melebarkan sayap di Muna Barat. Saat ini, syiar pendidikan mereka di daerah tersebut baru mencakup PAUD/TK ‘Aisyiyah serta Institut Teknologi, Bisnis, dan Kesehatan Muhammadiyah (ITBKM). Kehadiran jenjang dasar hingga menengah yang terstruktur tentu akan menjadi pilar penguat bagi masa depan anak-anak pesisir di masa mendatang. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search