Tenggelam Dalam Banjir Informasi: Peringatan Nabi ﷺ di Era Digital

Tenggelam Dalam Banjir Informasi: Peringatan Nabi ﷺ di Era Digital
*) Oleh : Moh. Mas’al, S.HI, M.Ag
Kepsek SMP Al Fattah & Anggota MTT PDM Sidoarjo
www.majelistabligh.id -

Hari ini manusia hidup di zaman yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Jika dahulu manusia kesulitan mencari informasi, kini manusia justru tenggelam dalam lautan informasi yang tidak bertepi. Dalam hitungan detik seseorang dapat menerima puluhan pesan, berita, video, opini, dan komentar yang datang silih berganti.

Ironisnya, derasnya arus informasi tidak selalu berbanding lurus dengan lahirnya masyarakat yang cerdas, beradab, dan memiliki cara berpikir yang benar. Banyaknya informasi tidak otomatis melahirkan hikmah.

Empat belas abad yang lalu Nabi ﷺ telah memberikan isyarat yang sangat mendalam:

> عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ أَحَدُهُمْ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

Dahulukanlah amal-amal sebelum datang fitnah seperti potongan malam yang gelap. Seseorang di pagi hari beriman lalu sore hari menjadi kafir, atau sore hari beriman lalu pagi hari menjadi kafir. Ia menjual agamanya demi sedikit keuntungan dunia.” (HR. Tirmidzi)

Para ulama ketika mensyarah hadits ini menjelaskan bahwa fitnah yang dimaksud bukan hanya peperangan fisik, tetapi segala bentuk syubhat dan kekacauan yang menggelapkan hati manusia. Imam Yahya bin Syaraf an-Nawawi menjelaskan bahwa fitnah dapat menyebabkan manusia kehilangan kemampuan membedakan antara hak dan batil akibat gelapnya keadaan dan bercampurnya kebenaran dengan kebatilan.

Jika dahulu fitnah bergerak melalui lisan dan pasar-pasar manusia, maka hari ini fitnah berpindah melalui layar-layar kecil di genggaman tangan. Seseorang dapat berubah pandangan, keyakinan, bahkan identitas berpikirnya hanya melalui paparan informasi yang terus menerus.

Penelitian modern tentang information overload menunjukkan bahwa manusia memiliki batas kemampuan dalam memproses informasi; arus informasi yang terlalu tinggi justru menurunkan kualitas penilaian dan respons manusia.

Bahkan penelitian lain menunjukkan bahwa kelebihan informasi dapat meningkatkan kecenderungan menyebarkan berita yang belum diverifikasi. Ketika seseorang dibanjiri informasi, kemampuan berpikir kritis menurun dan emosi lebih dominan daripada verifikasi.

Di sinilah pemikiran Abul Hasan Ali Hasani Nadwi menjadi sangat relevan. Dalam karya-karyanya seperti Mādzā Khasira al-‘Ālam bi Inhithāṭ al-Muslimīn dan pembahasannya tentang peradaban modern, beliau mengingatkan bahwa krisis terbesar manusia modern bukan kekurangan sarana, tetapi kehilangan arah ruhani. Beliau menilai bahwa modernitas telah menghasilkan kemajuan material yang besar, tetapi sering kali meninggalkan kekosongan makna dan orientasi hidup.

Syekh Abul Hasan berkata bahwa ketika manusia menjadikan materi sebagai pusat kehidupan, maka ilmu kehilangan tujuan, dan peradaban kehilangan ruhnya. Kemajuan teknologi tanpa petunjuk wahyu akan menghasilkan manusia yang cerdas secara teknis tetapi lemah secara moral.

Fenomena yang kita saksikan hari ini membuktikan hal tersebut. Banyak orang mengetahui segala sesuatu tetapi tidak memahami sesuatu secara mendalam. Banyak yang cepat berkomentar tetapi lambat merenung. Banyak yang memiliki data tetapi kehilangan hikmah.

Karena itu Nabi ﷺ tidak berkata: “Perbanyaklah informasi,” tetapi beliau berkata:

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ

“Dahulukanlah amal.”

Ilmu dalam Islam bukanlah sekadar akumulasi data, melainkan cahaya yang mengantarkan kepada amal saleh. Sebab hakikat kecerdasan bukanlah banyaknya apa yang masuk ke kepala, tetapi apa yang mampu menghidupkan hati dan membimbing langkah manusia menuju Allah.

Footnote:

1. Muhammad ibn Isa al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, Kitab al-Fitan, Bab Ma Ja’a fi Mubadarah al-A’mal.
2. Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Syarh Shahih Muslim (Beirut: Dar Ihya al-Turath al-‘Arabi).
3. Abul Hasan Ali Hasani Nadwi, Islam and the World: The Rise and Decline of Muslims and Its Effect on Mankind (Lucknow: Academy of Islamic Research and Publications).
4. Syed Abul Hasan Ali Nadwi, Islam and Civilization.
5. Azhari Setiawan, “Syed Abul Hasan Ali Hasani Nadwi Tentang Keruntuhan Peradaban, Pandangan Hidup, dan Pendidikan Islam,” Tasfiyah 1, no. 2 (2017).
6. Manuel Gomez Rodriguez et al., “Quantifying Information Overload in Social Media and its Impact on Social Contagions.”
7. Chathika Gunaratne et al., “The Effects of Information Overload on Online Conversation Dynamics.”
8. Samuli Laato et al., “Why do People Share Misinformation during the COVID-19 Pandemic?”

 

 

Tinggalkan Balasan

Search