Guru bercerita pada muridnya. Ada cerita suami sistri naik kapal tiba-tiba kapal itu terbakar dan pasti akan tenggelam. Saat itu kesempatan untuk menyelamatkan diri buat sepasang suami istri tersebut harus memilih, siapa yang mau selamat antara suami dengan istri. Karena kapal kecil, untuk menyelamatkan (skoci) yang tersedia itu tidak cukup untuk menampung semua penumpang. Maka di kapal itu ketika melihat tempat yang tersisa untuk berdiri di scoci itu hanya tinggal satu orang, maka tidak mungkin untuk buat suami dan istrinya.
Apa yang terjadi, yang melompat suaminya ke skoci itu dan meninggalkan istrinya. Kata guru kepada murid muridnya, apa yang kalian bayangkan, seorang murid menjawab, itu suaminya mau kawin lagi. Apalagi yang ingin kalian katakan lagi, para murid perempuan berkata, itu suami bejat, suami tak bertanggungjawab.
Waktu itu guru bilang sama murid-muridnya, kalian ini terlalu cepat mengambil kesimpulan, kan cerita saya belum selesai, kapalnya juga belum tenggelam, suaminya juga belum tahu ujung hidupnya gimana. Murid-murid bertanya lagi, terus gimana Pak ceritanya. Suaminya naik skoci selamat sampai di tepi pantai, sementara istrinya mati tenggelam di bawah kapal itu. Kelak kemudian hari anak-anak dari suami istri tadi menemukan catatan ayahnya ketika ayahnya sudah meninggal. Apa tulisan dalam catatan itu, ayahnya nulis.
“Saya itu sebetulnya ingin menemani istri saya bersama menghadapi musibah itu tapi saya ingat di rumah masih ada anak anak yang masih kecil yang membutuhkan orang tua untuk menyelamatkan mereka. Saya tahu istri saya sudah kena kangker stadium lima yang kesempatan hidupnya tidak banyak. Maka saya waktu itu bersepakat dengan istri saya. Saya tinggalkan istri saya di kapal untuk tenggelam, saya pilih menyelamatkan diri saya bukan karena tidak setia dengan istri, tapi karena sayang dengan anak-anak yang masih membutuhkan salah satu dari kita. Dan kemungkinan hidup panjang itu ada di saya”.
Kalau dari cerita ini, berapa banyak yang sering mengomentari orang lain tanpa pernah tahu apa yang tersembunyi dalam diri orang itu. Kita sering berkomentar hanya dari apa yang terlihat oleh mata dan dari apa yang terdengar dari telinga.
Di era media sosial dan arus informasi yang begitu deras, manusia sering tergoda untuk segera berkomentar tanpa berpikir panjang. Padahal, lisan dan tulisan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa ucapan bisa menjadi sebab seseorang masuk surga, tetapi juga bisa menjerumuskannya ke neraka.
Bahaya Terlalu Cepat Berkomentar
1. Menimbulkan fitnah
o Komentar yang tergesa-gesa sering kali tidak berdasarkan fakta.
o Akibatnya, bisa menyebarkan berita bohong dan merusak nama baik orang lain.
2. Melukai hati sesama
o Kata-kata yang keluar tanpa pertimbangan dapat menyakiti hati, menimbulkan permusuhan, dan memutus tali silaturahmi.
3. Menghilangkan wibawa diri
o Orang yang terbiasa berkomentar tanpa ilmu akan kehilangan kepercayaan dari orang lain.
o Ia dianggap tidak bijak dan kurang matang dalam berpikir.
Al-Qur’an menegaskan:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
“Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra: 36).
Hadis Nabi ﷺ: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Jalan Keluar
1. Latih kesabaran sebelum berkomentar
o Ambil jeda sejenak untuk berpikir: apakah ucapan ini bermanfaat atau justru mudarat?
2. Periksa kebenaran informasi
o Jangan terburu-buru menyebarkan atau menanggapi sesuatu sebelum jelas sumbernya.
3. Utamakan kata-kata yang menebar cinta
o Jadikan lisan sebagai sarana dakwah, bukan senjata yang melukai.
o Terapkan nilai Panca Cinta: cinta Allah, cinta Rasul, cinta diri, cinta sesama, dan cinta lingkungan.
Terlalu cepat berkomentar adalah penyakit lisan yang bisa merusak diri dan orang lain. Islam mengajarkan kita untuk menahan diri, berkata baik, atau memilih diam. Dengan demikian, komentar kita akan menjadi cahaya yang menuntun, bukan api yang membakar. (*)
