Wujud Cinta Muhammadiyah Saat Terjadi Bencana

www.majelistabligh.id -

Cinta terhadap Indonesia diwujudkan melalui pengabdian dan pengorbanan nyata, bukan dengan mengambil keuntungan pribadi dari negeri. Hal ini ditegaskan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, dalam Ceramah Kebangsaan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) beberapa waktu lalu.

“Cinta itu hakikatnya memberi, bukan meminta apalagi mencuri. Kalau kita benar-benar cinta pada negeri ini, kita tidak akan tega korupsi, merusak sumber daya alam, atau menyalahgunakan jabatan demi kepentingan pribadi,” tegas Haedar.

Pernyataan tersebut menemukan pijakan moralnya pada aksi nyata gerakan kemanusiaan Muhammadiyah. Di saat sebagian pihak tergiur memperkaya diri dan mengeksploitasi kekayaan negeri, aksi para relawan Muhammadiyah saat terjadi bencana di Flores, Nusa Tenggara Timur, menjadi bukti nyata dari makna “cinta yang memberi.” Mereka hadir memberi waktu, tenaga, dana, bahkan nyawa tanpa meminta balasan.

Bagi Muhammadiyah, bencana bukan sekadar hitungan angka statistik atau berita di layar kaca. Ketika duka merebak akibat bencana, persyarikatan mengerahkan seluruh sumber daya. Tanpa membedakan latar belakang, tim relawan menembus jalur-jalur sulit demi memastikan para penyintas tidak merasa sendirian.

Pengalaman dan ketangguhan para relawan menjadi bahan bakar respons cepat saat bumi berguncang di Flores, NTT. Begitu gempa bergetar, relawan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) bersama Lembaga Zakat, Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) langsung bergerak.

Sebelum riak bantuan publik meluas, tim medis, dokter, tenda darurat, serta logistik pangan sudah beroperasi di lokasi bencana untuk merawat luka dan menyalurkan makanan bagi warga yang kehilangan tempat bernaung.

Aksi lapangan ini disokong penuh oleh konsolidasi gerakan di seluruh penjuru negeri melalui Surat Edaran PP Muhammadiyah Nomor 18/EDR/I.0/H/2026. Instruksi penggalangan “Infak Salat Jumat untuk Bantuan Kemanusiaan Korban Bencana Gempa Bumi di Flores, NTT” dijalankan di masjid-masjid Muhammadiyah.

Pada Salat Jumat, 21 Agustus 2026, dana infak yang terhimpun disalurkan untuk pemulihan korban. Setiap lembar rupiah dari jemaah menjadi pesan tersirat bahwa duka Flores adalah duka Indonesia.

Bencana Flores mungkin menyisakan luka yang dalam, namun dari puing-puing gempa itu terlihat bahwa Indonesia tidak pernah kekurangan orang baik. Selama semangat memberi terus dirawat, harapan untuk bangkit akan selalu ada di setiap sudut tanah air. Muhammadiyah berada di garis depan bantuan untuk korban bencana.

Inilah pembuktian Cinta Indonesia yang dijalankan Muhammadiyah, memberi, bukan meminta, apalagi mencuri. || chusnun

 

Tinggalkan Balasan

Search