Sering kali, tanpa sadar kita merasa lebih tahu isi hati orang lain. Ada yang rajin ibadah, kita bilang “pamer.” Ada yang dermawan, kita bilang “cari nama.”
Padahal, siapa kita hingga berani menilai niat dan hati saudara kita?
Makhul rahimahullah berkata: “Aku melihat seorang laki-laki menangis dalam salatnya, aku curiga ia menangis karena riya’. Akibatnya, aku dihukum tidak bisa menangis selama 1 tahun.”
Jauhilah kebanyakan prasangka buruk, karena sebagian darinya adalah dosa. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.” (QS Al-Hujurat : 12)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di rahimahullahu juga mengatakan: “Sesungguhnya adanya su’udzan buruk sangka dalam hati tidak akan menyebabkan pelakunya tersebut akan berhenti di situ saja.
Akan tetapi, buruk sangka tersebut akan terus-menerus ada sampai pelakunya tersebut berkata dan berbuat yang tidak sepatutnya. Daripada sibuk menilai orang lain, lebih baik kita perhatikan kekurangan diri sendiri.”
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu juga berkata: “Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” (HR Bukhari: 460).
Hidup ini terlalu singkat jika dihabiskan untuk menghakimi orang lain. Daripada sibuk mencari salahnya orang, lebih baik sibuk memperbaiki diri. Karena saat kita sibuk memperbaiki diri, insya Allah hati menjadi lembut, dosa berkurang, dan hubungan sesama pun terjaga.
ismirzaf@gmail.com ; fimdalimunthe55@gmail.com
