Hiruk-pikuk pesta olahraga paling populer di muka bumi, Piala Dunia 2026, belum lama usai. Masih terbayang aksi penuh suka cita tim yang pulang membawa trofi. Padahal di sisi lain lapangan, banyak yang melangkah dengan gundah membawa penyesalan karena peluit panjang berbunyi terlalu cepat.
Demikianlah drama yang terjadi pascapertandingan. Ada yang menang dihiasi kegembiraan, dan ada yang kalah didera kesedihan mendalam yang kerap diiringi ratapan air mata.
Sayangnya, kita sering kali berhenti hanya pada atmosfer pertandingan hingga peluit akhir dibunyikan. Padahal, setiap denyut nadi di lapangan hijau sejatinya adalah pelajaran berharga untuk menyongsong kematian. Karena seperti sepak bola, pada saatnya kita semua pasti akan mengakhiri permainan hidup ini.
Lantas, apakah relevan jika suasana suka duka di lapangan hijau itu dihubungkan dengan sunyi senyap kematian? Bukankah keduanya memiliki kondisi yang jauh berbeda?
Sekilas, memang tidak ada hubungan antara sepak bola dengan kematian karena keduanya berbeda arena, antara hidup dan mati. Tujuan akhirnya pun berbeda, yang satu mengejar kemenangan sementara, sedangkan yang lain menuju kemenangan abadi.
Namun jika ditelaah lebih dalam, justru keduanya diikat dalam hukum universal yang sama: pentingnya sebuah persiapan matang untuk meraih kemenangan.
Dalam sepak bola, mengikuti latihan rutin dan konsisten bagi seorang pemain merupakan kewajiban. Sebab, latihan teratur dan terukur sesuai instruksi pelatih adalah kunci jika ingin memperoleh prestasi sempurna.
Di lapangan, berlaku aturan yang mutlak: gol yang tercipta hari ini adalah hasil cucuran keringat kemarin. Lewat proses disiplin dan kerja keras inilah, seorang pemain mampu berlari dan menggiring bola selama 90 menit tanpa henti demi mengejar target kemenangan.
Kondisi ini sejatinya tidak berbeda dengan kehidupan kita. Bentuk “latihan” dalam menghadapi “pertandingan besar”—berupa sakaratul maut dan hari perhitungan nanti—adalah tetap istiqamah menunaikan ibadah sehari-hari. Salat lima waktu, berpuasa, zakat, hingga membaca Al-Qur’an dan bersedekah adalah menu “latihan” wajib kita.
Dengan bekal “latihan” yang istiqamah itulah, kita sanggup terus berlari dan menjaga ritme permainan di lapangan kehidupan selama hayat masih dikandung badan. Aksi “latihan” ibadah ini bukanlah beban, melainkan persiapan. Tujuannya agar saat tiba menghadap, jiwa kita telah siap dan layak dipanggil sebagai jiwa yang muthmainnah.
Hal ini berbeda dengan mereka yang mulai kehilangan ghirah keimanan. Rutinitas “latihan” akan terasa berat dan malas dilakukan dengan dalih pertandingan besar masih jauh.
Jika demikian polanya, dipastikan ia akan kewalahan saat pertandingan besar tiba. Di detik krusial itulah timbul penyesalan paling dalam—penyesalan yang meminta perpanjangan waktu, walau hanya sekejap.
Rasanya ini persis seperti yang diingatkan dalam Al-Qur’an: “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia, agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” Tapi jawabannya sudah terlambat: “Sekali-kali tidak.” [Q.S. Al-Mu’minun: 99-100].
Saat momentum itu datang, peluit panjang telah ditiup, mustahil ada babak perpanjangan waktu.
Selain latihan penuh disiplin, seorang pemain sehebat apa pun tetap membutuhkan sosok pelatih untuk mengatur formasi, mengatur strategi serangan, dan mengingatkan ancaman lawan. Tanpa kehadiran pelatih, sebuah tim yang diisi pemain bintang sekalipun bisa dipastikan akan berantakan.
Begitu pun dalam menuju “pertandingan besar”, kita juga butuh “pelatih” sebagai pemandu jalan agar tidak terjerumus dalam kekalahan abadi. “Pelatih” kita adalah kitab suci, sunnah Rasul, serta nasihat atau fatwa para ulama.
Namun sering kali kita merasa “sudah jago”, lalu lepas dari instruksi yang memandu agar selamat melewati lika-liku permainan duniawi. Sepanjang permainan hanya menuruti hawa nafsu. Padahal selain latihan, mereka yang taat pada instruksi adalah yang sanggup mengunci kemenangan.
Latihan dan pelatih memang jadi kunci menuju kemenangan yang sempurna, tapi kita tidak boleh lupa bahwa di tengah lapangan saat permainan berlangsung, kadang dijumpai seorang pemain harus mengerang kesakitan akibat tackling lawan. Ataupun sebaliknya, terpaksa berbuat pelanggaran untuk menyelamatkan gawang dari kebobolan. Ujung-ujungnya kartu kuning, mungkin juga kartu merah sebagai imbalannya.
Demikian juga dengan kehidupan kita, sering kali menjumpai pelanggaran disengaja atau tidak yang menciderai aktivitas dan interaksi sosial sehari-hari. Ada yang merasa tersakiti, ada pula yang tidak sadar telah melukai orang lain.
Karena itu, mumpung permainan di dunia belum usai dan tarikan napas masih teratur, inilah kesempatan terbaik kita untuk memperbanyak porsi latihan sembari mendengarkan instruksi pelatih agar tidak tersesat jalan.
Mungkin tidak hari ini, tapi pada akhirnya kita semua pasti akan menghadapi pertandingan besar itu. Pilihan kini ada di tangan kita: pulang membawa trofi husnul khatimah, atau pulang hanya dengan membawa penyesalan.
Selagi peluit akhir belum ditiup, mari kita kembali ke lapangan dan mulai berlatih. (*)
