Ada sebuah ungkapan populer, experience is the best teacher, pengalaman adalah guru terbaik. Namun dalam kehidupan manusia, tidak semua pelajaran harus diperoleh dengan mengalaminya sendiri.
Ada pengalaman orang lain yang dapat menjadi cermin, ada sejarah yang dapat menjadi guru, dan ada kematian yang, meskipun tidak pernah berbicara, menyampaikan pelajaran paling sunyi tentang kehidupan.
Bagi seorang Muslim, kematian bukan sekadar akhir biologis dari keberadaan manusia, tetapi juga sebuah peristiwa eksistensial yang mengingatkan manusia tentang dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup, dan ke mana ia akan kembali.
Setiap hari yang baru sesungguhnya merupakan kesempatan yang dianugerahkan Allah. Dalam ungkapan yang sederhana,
كُلُّ يَوْمٍ جَدِيدٍ هُوَ فُرْصَةٌ جَدِيدَةٌ مِنَ اللهِ لِتَصْحِيحِ أَخْطَاءِ الأَمْسِ، وَلِلتَّعَلُّمِ مِنَ المَاضِي، وَلِتَجْدِيدِ النِّيَّاتِ، وَلِإِصْلَاحِ مَا أَفْسَدْنَاهُ، وَلِبِدَايَةِ طَرِيقٍ أَفْضَلَ نَحْوَ اللهِ
Setiap hari baru adalah kesempatan untuk memperbaiki kesalahan masa lalu, belajar darinya, memperbarui niat, membenahi apa yang telah rusak, dan memulai perjalanan yang lebih baik menuju Allah.
Dalam perspektif ini, waktu bukan sekadar fenomena kronologis. Waktu adalah amanah. Setiap hari yang berlalu sesungguhnya mengurangi jatah kehidupan sekaligus membuka kesempatan untuk memperbaiki kualitas keberadaan kita sebagai manusia.
Persoalannya, manusia sering kali hidup seolah-olah kesempatan itu tidak memiliki batas. Kita membangun karier, mengejar jabatan, mengumpulkan harta, memperoleh gelar, membangun reputasi, memperluas pengaruh, dan mencari pengakuan sosial.
Semua itu pada dirinya tidak selalu buruk. Bahkan jabatan dapat menjadi sarana pelayanan, harta dapat menjadi instrumen kemaslahatan, ilmu dapat menjadi jalan pencerahan, dan kedudukan dapat digunakan untuk menegakkan keadilan. Yang menjadi persoalan adalah ketika sarana berubah menjadi tujuan, ketika amanah berubah menjadi kebanggaan, dan ketika apa yang seharusnya kita gunakan justru mulai menggunakan kita.
Pada titik itulah manusia perlu berhenti sejenak dan mengajukan pertanyaan yang jauh lebih mendasar: apa sebenarnya yang dapat kita banggakan dalam hidup ini? Apa yang dapat kita banggakan dari sebuah jabatan ketika masa jabatan itu berakhir dan kursi yang pernah kita duduki ditempati orang lain? Apa yang dapat kita banggakan dari harta ketika kematian memaksa kita meninggalkan seluruh kepemilikan?
Apa yang dapat kita banggakan dari gelar ketika tubuh telah dibaringkan dan nama kita tidak lagi dipanggil untuk menjalankan profesi apa pun? Apa yang dapat kita banggakan dari popularitas ketika waktu perlahan menghapus ingatan manusia? Bahkan tubuh yang selama hidup begitu kita rawat, kita hias, kita jaga, dan kita banggakan, pada akhirnya akan menjadi tubuh yang harus dimandikan oleh tangan orang lain.
Di sinilah pengalaman mengurus jenazah sesungguhnya memiliki dimensi pendidikan yang sangat dalam. Kita mungkin telah berkali-kali memandikan jenazah, mengkafaninya, menyalatkannya, mengangkat kerandanya, mengantarkannya menuju pemakaman, kemudian menyaksikan tubuh itu diturunkan ke dalam liang lahat.
Kita berdiri di tepi kubur, menyaksikan tanah menutup tubuh yang beberapa saat sebelumnya masih menjadi bagian dari kehidupan sosial kita. Setelah itu kita pulang dan kembali kepada rutinitas: pekerjaan, keluarga, bisnis, jabatan, urusan dunia, dan berbagai ambisi yang sempat kita tinggalkan beberapa saat di pemakaman.
