2. Mencintai Rasulullah ﷺ adalah Kewajiban
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian hingga aku lebih dicintainya daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (HR. Muslim)
Bahkan, kewajiban mencintai Nabi ﷺ tidak boleh dikalahkan oleh kecintaan kepada siapa pun, termasuk kecintaan kepada diri sendiri.
Pada suatu hari, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Rasulullah ﷺ, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu, kecuali diriku sendiri.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak, demi Allah, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Maka Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Demi Allah, sekarang engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Sekarang (imanmu sempurna), wahai Umar.” (HR. Al-Bukhari)
3. Cinta Itu Harus Dibuktikan
QS. An-Nisa ayat 69 di atas telah menjelaskan dengan tegas bahwa salah satu bukti cinta kepada Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ adalah ketaatan. Cinta tidak cukup hanya diungkapkan dengan lisan, tetapi harus diwujudkan dalam amal dan kepatuhan kepada Allah ﷻ dan Rasul-Nya.
Kisah berikut ini menjadi contoh nyata bahwa cinta kepada Rasulullah ﷺ harus dibuktikan dengan amal dan ketaatan. Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami radhiyallahu ‘anhu berkata:
كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ، فَقَالَ لِي: سَلْ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ، قَالَ: أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ، قُلْتُ: هُوَ ذَاك، قَالَ: فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ.
“Dahulu aku pernah bermalam bersama Rasulullah ﷺ. Aku datang kepada beliau dengan menyiapkan air untuk wudhu dan memenuhi keperluan beliau. Kemudian beliau ﷺ berkata kepadaku, ‘Mintalah sesuatu!’ Aku menjawab, ‘Wahai Rasulullah, aku memohon kepadamu agar dapat menemanimu di surga.’ Beliau ﷺ bertanya, ‘Ada permintaan yang lain?’ Aku menjawab, ‘Itu saja yang aku inginkan.’ Beliau ﷺ bersabda, ‘Kalau begitu, bantulah aku (untuk memenuhi keinginanmu itu) dengan memperbanyak sujud.’” (HR. Muslim)
4. Cinta Bukan untuk Disombongkan
Walaupun Tsauban radhiyallahu ‘anhu termasuk sahabat yang mulia dan sangat mencintai Rasulullah ﷺ, beliau tidak pernah merasa dirinya pasti masuk surga. Sebaliknya, beliau justru merasa khawatir dan gelisah tentang nasibnya di akhirat.
Hal ini mengajarkan kepada kita agar tidak menyombongkan amal, kedudukan, maupun klaim kecintaan kita kepada Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ. Cinta yang benar akan melahirkan sikap tawaduk dan rendah hati, bukan kesombongan.
Dari para sahabat yang telah diberi kabar gembira tentang surga, kita juga dapat mengambil pelajaran tentang ketawadukan dan kerendahan hati mereka.
Dari Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
عَشَرَةٌ فِي الْجَنَّةِ: أَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ، وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ، وَعُثْمَانُ، وَعَلِيٌّ، وَالزُّبَيْرُ، وَطَلْحَةُ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ، وَأَبُو عُبَيْدَةَ، وَسَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ
“Ada sepuluh orang yang (dijamin) masuk ke dalam surga: Abu Bakar berada di surga, Umar berada di surga, Utsman, ‘Ali, Az-Zubair, Thalhah, ‘Abdurrahman (bin ‘Auf), Abu Ubaidah (bin Al-Jarrah), dan Sa’ad bin Abi Waqqash.”
Anak Sa’id berkata, “Kalau dihitung, mereka tadi baru sembilan orang. Lantas, siapa yang kesepuluh?” … Sa’id bin Zaid kemudian berkata, “Kalian mohonkan kepada Allah agar aku termasuk orang yang kesepuluh tersebut yang berada di surga.” (HR. At-Tirmidzi)
Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhu termasuk salah satu dari sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira masuk surga (Al-‘Asyarah al-Mubasysyarūna bil-Jannah). Namun, hal tersebut tidak membuat beliau menyombongkan diri. Justru beliau tetap rendah hati dan tidak merasa dirinya lebih baik daripada orang lain.
Inilah teladan para sahabat, semakin besar keutamaan yang mereka miliki, semakin besar pula rasa takut dan tawaduk mereka kepada Allah ﷻ. Mereka tidak menjadikan keutamaan sebagai alasan untuk menyombongkan diri, tetapi sebagai dorongan untuk semakin bersyukur dan istiqamah dalam ketaatan.
