Berpakaian Tetapi Telanjang

Berpakaian Tetapi Telanjang
*) Oleh : M. Syukron Dian
PCM Candi Wakil Ketua Bidang Majelis Kader & SDI, Majelis MPKS
www.majelistabligh.id -

2. Berjalan berlenggak-lenggok dan menarik perhatian
Rasulullah ﷺ juga menyebut:
مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ
Ungkapan ini dijelaskan oleh para ulama dengan beberapa pemaknaan, antara lain berkaitan dengan perilaku yang membuat seseorang condong kepada penyimpangan atau sengaja menampilkan diri dengan cara yang menarik perhatian.
Karena itu, hadis tidak hanya berbicara tentang kain yang dipakai, tetapi juga tentang cara seseorang menampilkan dirinya.

Pakaian yang baik tetapi dipadukan dengan perilaku yang sengaja menggoda tentu berbeda dengan pakaian yang dikenakan dengan sikap sederhana dan terhormat.
Di sinilah Islam mengajarkan keseimbangan:
Menjaga penampilan, tetapi tidak menjadikan penampilan sebagai alat untuk mencari perhatian.

3. Kepala mereka seperti punuk unta”
Rasulullah ﷺ melanjutkan:
رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ
“kepala mereka seperti punuk unta yang miring.”
Gambaran tersebut berkaitan dengan penataan rambut atau sesuatu yang diletakkan di kepala sehingga membuatnya tampak tinggi dan menonjol.
Pesannya bukan berarti Islam melarang seorang perempuan merawat rambut atau berhias.

Islam mengenal keindahan.
Yang menjadi masalah adalah ketika berhias berubah menjadi tabarruj, yakni menampakkan perhiasan dan kecantikan secara tidak semestinya.
Maka: Berhias bukan masalah. Yang perlu dijaga adalah untuk siapa, di mana, bagaimana, dan dengan tujuan apa seseorang berhias.

Hadis Ini tidak boleh menjadi alat untuk menghakimi Perempuan. Ini bagian yang sangat penting dalam dakwah. Ketika membicarakan hadis ini, jangan sampai kita berubah dari menjelaskan ajaran menjadi menghakimi seseorang. Kita tidak boleh dengan mudah mengatakan: “Perempuan itu ahli neraka.”
Hadis Nabi ﷺ memberikan ancaman terhadap suatu perilaku, bukan memberikan kewenangan kepada kita untuk memastikan nasib akhirat individu tertentu.
Allah adalah Hakim Yang Mahaadil.

Tugas kita adalah: menjelaskan → mengingatkan → mengajak → memberi teladan.
Bukan: mempermalukan → mencela → merendahkan → menghakimi. Dakwah yang baik harus menghadirkan ilmu sekaligus kasih sayang.
Pendekatan dakwah Muhammadiyah kontemporer juga menekankan Islam sebagai kekuatan moral yang menjaga martabat manusia dan menghadirkan dakwah yang menjawab persoalan masyarakat secara mencerahkan.

Jangan hanya menyalahkan perempuan. Hadis ini menarik karena Rasulullah ﷺ menyebut dua golongan. Golongan pertama adalah:
1. orang-orang yang memukul dan menyakiti manusia dengan kekuasaan atau kekerasan.
Golongan kedua:
2. wanita yang berpakaian tetapi telanjang. Artinya, Islam tidak hanya berbicara tentang pakaian perempuan.
Islam juga berbicara tentang kezaliman laki-laki dan penguasa.
Jangan sampai masyarakat sangat keras ketika melihat persoalan pakaian perempuan, tetapi diam ketika melihat:
• kekerasan dalam rumah tangga,
• bullying,
• penyalahgunaan jabatan,
• intimidasi,
• ketidakadilan,
• dan tindakan sewenang-wenang.

Padahal semuanya disebut dalam satu hadis yang sama sebagai peringatan keras.
Maka pesan hadis ini harus adil:
Perempuan menjaga kehormatan dirinya. Laki-laki menjaga pandangannya dan kehormatannya. Pemimpin menjaga amanahnya. Semua manusia menjaga hak sesamanya.

Tinggalkan Balasan

Search