Berpakaian Tetapi Telanjang

Berpakaian Tetapi Telanjang
*) Oleh : M. Syukron Dian
PCM Candi Wakil Ketua Bidang Majelis Kader & SDI, Majelis MPKS
www.majelistabligh.id -

Berpakaian di Era Media Sosial
Hadis ini juga dapat menjadi bahan muhasabah di era digital.
Hari ini pakaian dan penampilan tidak hanya dilihat oleh orang-orang di sekitar kita.
Satu foto dapat dilihat:
puluhan, ratusan, bahkan jutaan orang.
Maka sebelum mengunggah foto atau video, ada baiknya bertanya kepada diri sendiri:
“Apa tujuan saya?”
Apakah untuk:
• dokumentasi?
• pekerjaan?
• edukasi?
• berbagi informasi?
• atau sekadar mencari perhatian dan pujian?
Tidak semua unggahan otomatis salah.
Namun seorang muslim perlu memiliki kesadaran etis bahwa apa yang ditampilkan di ruang publik juga merupakan bagian dari tanggung jawab moral.

Pakaian Adalah Bentuk Penghormatan terhadap Diri
Menutup aurat jangan dipahami sebagai bentuk merendahkan perempuan.
Justru sebaliknya.
Islam mengajarkan bahwa manusia memiliki martabat.
Karena itu tubuh tidak semestinya dijadikan komoditas untuk menarik perhatian atau mendapatkan pengakuan.
Seorang perempuan yang menjaga kehormatannya bukan berarti:
“Tidak boleh cantik.”
Bukan pula:
“Tidak boleh rapi.”
Bukan:
“Tidak boleh mengikuti perkembangan mode.”
Tetapi: Cantik dengan kehormatan.
Berhias dengan kesopanan.
Mengikuti mode dengan batas syariat.

Jangan Lupa: Laki-Laki Juga Diperintahkan Menjaga Diri
Kajian tentang hadis ini jangan hanya berhenti pada:
“Wahai perempuan, tutuplah aurat!”
Karena laki-laki juga memiliki kewajiban.
Allah berfirman:
قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ
Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. (QS. An-Nur: 30)

Kemudian pada ayat berikutnya Allah memerintahkan perempuan beriman untuk menjaga pandangan dan kehormatannya.
(QS. An-Nur: 31)
Maka menjaga kehormatan adalah tanggung jawab bersama.
Tidak adil jika perempuan dituntut menjaga diri sementara laki-laki merasa bebas memandang sesuka hati.

Dari “Berpakaian” Menuju “Berkepribadian”
Pakaian hanyalah salah satu bagian dari kehormatan.
Ada kehormatan dalam: cara berbicara, cara berjalan, cara menggunakan media sosial, cara berinteraksi dengan lawan jenis, cara menjaga pandangan.

Ada yang paling utama:
cara menjaga hati di hadapan Allah.
Karena itu, tujuan akhir dari pakaian bukan sekadar perubahan penampilan.
Tujuannya adalah membangun pribadi yang lebih bertakwa.

Tinggalkan Balasan

Search