Dari A.R. Sutan Mansur 1953 ke Muktamar ke-49 Muhammadiyah 2027

Dari A.R. Sutan Mansur 1953 ke Muktamar ke-49 Muhammadiyah 2026
*) Oleh : Dr. Risman Muchtar, M.Si
Wakil Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah.
www.majelistabligh.id -

3. Mereka Memilih Pemimpin Berdasarkan Kelayakan, Bukan Ambisi
A.R. Sutan Mansur bukanlah figur yang tiba-tiba muncul. Beliau mempunyai rekam jejak panjang dalam mengembangkan Muhammadiyah, terutama di luar Jawa dan di Ranah Minangkabau. Muhammadiyah sendiri menyebut beliau sebagai tokoh yang sukses melebarkan dakwah Muhammadiyah di luar Jawa. Beliau dikenal sebagai tokoh yang mempunyai tempat khusus di hati warga Muhammadiyah.

Sumber sejarah mengenai perkembangan Muhammadiyah di Minangkabau juga mencatat bahwa jasa dan reputasi A.R. Sutan Mansur telah berkembang luas sehingga beliau kemudian diminta menerima amanah sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah, meskipun tidak termasuk daftar sembilan nama yang dipilih pada Muktamar ke-32.

Maka, ketika sembilan tokoh itu mencari sosok yang lebih layak, mereka tidak sedang mencari orang yang paling pandai melakukan lobi. Mereka mencari orang yang memiliki ilmu, pengalaman, reputasi, keteladanan, kemampuan dakwah dan rekam jejak perjuangan yang nyata. Dan nama A.R. Sutan Mansur muncul.

4. Inilah Kepemimpinan yang Lahir dari Rekam Jejak
Kepemimpinan A.R. Sutan Mansur tidak lahir dari kampanye pencalonan dirinya. Tidak lahir dari promosi diri. Tidak lahir dari perebutan suara dengan segala cara. Tidak lahir dari politik transaksional. Ia lahir dari rekam jejak pengabdian. Itulah sebabnya kisah ini sangat penting untuk direnungkan kembali menjelang Muktamar Muhammadiyah ke-49.

Dalam organisasi dakwah, reputasi seharusnya mendahului jabatan. Bukan jabatan yang digunakan untuk membangun reputasi. Seorang kader semestinya terlebih dahulu membuktikan: ilmunya; akhlaknya; ketauhidannya; ibadahnya; pengabdiannya; kemampuan membina kader; kemampuan mengembangkan dakwah; kemampuan mengelola organisasi; kemampuan menyelesaikan masalah umat; dan kesetiaannya kepada prinsip-prinsip Muhammadiyah.
Setelah semuanya teruji, barulah amanah kepemimpinan dipercayakan kepadanya. Bukan sebaliknya.

5. Dari “Saya Layak” Menjadi “Siapa yang Lebih Layak?”
Inilah perubahan paradigma yang sangat diperlukan. Budaya kepemimpinan yang sehat bertanya: “Siapa yang paling layak memimpin?” Budaya perebutan jabatan bertanya: “Bagaimana saya bisa menjadi pemimpin?” Dua pertanyaan tersebut tampak sederhana, tetapi menghasilkan perilaku yang sangat berbeda.

Pertanyaan pertama berorientasi pada kepentingan persyarikatan. Pertanyaan kedua berpotensi berorientasi pada kepentingan diri sendiri. Kisah sembilan tokoh pada Muktamar ke-32 memberikan teladan yang sangat jelas: mereka tidak berhenti pada pertanyaan “siapa di antara kami?”, tetapi berani keluar dari lingkaran dirinya dan bertanya: “Siapa yang paling layak memimpin Muhammadiyah?” Jawabannya adalah A.R. Sutan Mansur.

6. “Hubbur Riyasah” dan Penyakit Pemburu Jabatan
Dalam perspektif Islam, kepemimpinan bukanlah kehormatan yang harus dikejar, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Nabi Muhammad ﷺ bahkan memberikan peringatan keras kepada orang yang meminta jabatan karena ambisi pribadi.

Dalam hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim, Abdurrahman bin Samurah رضي الله عنه berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لَا تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ، فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا، وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا
Janganlah engkau meminta jabatan kepemimpinan. Jika engkau mendapatkannya karena meminta, engkau akan dibebani dengannya; tetapi jika engkau mendapatkannya tanpa meminta, engkau akan mendapatkan pertolongan untuk menjalankannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini tidak berarti seseorang yang memiliki kompetensi tidak boleh dipilih. Justru Islam mengajarkan agar amanah diberikan kepada orang yang memiliki kelayakan. Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. an-Nisa’ [4]: 58)
Maka terdapat dua prinsip yang harus berjalan bersama: jangan meminta-minta jabatan, tetapi jangan pula memberikan jabatan kepada orang yang tidak layak.

7. A.R. Sutan Mansur: Pemimpin yang Dicari
Di sinilah keunikan sejarah A.R. Sutan Mansur. Beliau bukan sekadar orang yang terpilih. Beliau adalah orang yang dicari karena dianggap layak. Sembilan tokoh yang memperoleh mandat muktamar justru datang kepadanya. Ini adalah bentuk penghormatan yang sangat tinggi terhadap kompetensi, integritas dan rekam jejak.

Seseorang dapat tidak berada di ruang muktamar, tetapi namanya berada dalam pertimbangan para pemimpin. Seseorang dapat tidak mencalonkan dirinya, tetapi justru diminta untuk memimpin. Seseorang dapat tidak mengejar jabatan, tetapi akhirnya menerima amanah yang sangat besar. Itulah kepemimpinan berbasis reputasi.

 

Tinggalkan Balasan

Search