8. Minangkabau, Sumatera Barat dan Perluasan Dakwah Muhammadiyah
Tidak dapat dipisahkan dari kisah ini adalah kontribusi A.R. Sutan Mansur dalam pengembangan Muhammadiyah di Minangkabau dan wilayah luar Jawa.
Beliau aktif sebagai guru dan muballigh Muhammadiyah di Minangkabau. Rekam jejaknya turut mengantarkan Muhammadiyah berkembang lebih luas di luar Jawa. Karena itu, ketika sembilan tokoh tersebut mencari figur yang memiliki kapasitas untuk memimpin Muhammadiyah secara nasional, A.R. Sutan Mansur memiliki modal yang sangat penting: pengalaman mengembangkan dakwah Muhammadiyah melampaui batas lokalitas.
Beliau tidak hanya dikenal di satu daerah. Beliau memiliki pengalaman dakwah, pembinaan umat, pengembangan organisasi dan perjalanan Muhammadiyah di berbagai wilayah. Dengan demikian, kepemimpinannya memiliki dasar yang kuat: pengalaman lokal yang berkembang menjadi reputasi nasional.
9. Sebuah Cermin untuk Muktamar Muhammadiyah ke-49
Muktamar Muhammadiyah ke-49 tidak seharusnya hanya menjadi momentum pergantian kepemimpinan. Ia harus menjadi momentum menghidupkan kembali etika kepemimpinan Muhammadiyah. Legacy Muktamar ke-32 tahun 1953 seharusnya direnungkan kembali: Bagaimana jika para calon pemimpin Muhammadiyah hari ini memiliki jiwa seperti sembilan tokoh tersebut? Mereka tidak bertanya: “Bagaimana saya mendapatkan jabatan?” Tetapi: “Siapa yang paling layak memimpin Muhammadiyah?”
Mereka tidak sibuk mengatakan: “Saya sudah berpengalaman.” Tetapi: “Siapa yang mempunyai pengalaman paling relevan untuk membawa Muhammadiyah menghadapi masa depan?” Mereka tidak mengatakan: “Saya lebih berhak.” Tetapi: “Siapa yang lebih amanah?” Mereka tidak mempertahankan jabatan sebagai hak milik. Mereka memahami bahwa jabatan adalah amanah yang dapat diberikan dan dapat pula berakhir.
10. Muhammadiyah Tidak Boleh Kehilangan Tradisi Ini
Sejarah Muhammadiyah memiliki modal moral yang sangat besar. Para pendahulu telah memperlihatkan bahwa kepemimpinan dapat lahir dari: ilmu + amal + keteladanan + integritas + pengabdian + kepercayaan. Bukan dari: ambisi + lobi + transaksi + klaim senioritas + perebutan posisi.
Karena itu, legacy A.R. Sutan Mansur bukan hanya tentang satu nama. Legacy itu adalah budaya kepemimpinan. Budaya yang mengatakan: Jangan mencari jabatan. Bangunlah kelayakan. Jangan mengejar kekuasaan. Bangunlah pengabdian. Jangan mempromosikan diri. Biarkan rekam jejak berbicara.
Jangan merasa paling berhak. Carilah siapa yang paling layak. Dan apabila suatu ketika amanah itu benar-benar datang, maka terimalah bukan sebagai kehormatan, melainkan sebagai beban tanggung jawab di hadapan Allah SWT.
11. Pelajaran Terbesar Justru Berasal dari Sembilan Tokoh
Sering kali ketika kisah ini diceritakan, perhatian kita tertuju kepada A.R. Sutan Mansur. Itu memang wajar. Tetapi ada pelajaran lain yang tidak kalah penting: jangan lupakan sembilan tokoh yang memilih beliau. Mereka adalah bagian penting dari legacy tersebut. Sebab untuk memberikan kesempatan kepada orang lain, seseorang harus mampu menaklukkan egonya sendiri.
Untuk mengatakan “ada yang lebih layak daripada saya”, seseorang harus memiliki kerendahan hati. Untuk menerima keputusan bersama, seseorang harus memiliki kedewasaan organisasi. Untuk tidak mengejar jabatan, seseorang harus memiliki kemerdekaan jiwa.
Dan untuk memilih orang terbaik meskipun bukan dirinya, seseorang harus benar-benar mencintai persyarikatan lebih daripada mencintai kedudukannya di dalam persyarikatan. Inilah mungkin salah satu warisan moral paling indah dari Muktamar ke-32.
PENUTUP
Dari Muktamar ke-32 Menuju Muktamar ke-49 Tujuh puluh tiga tahun telah berlalu sejak Muktamar Muhammadiyah ke-32 di Purwokerto tahun 1953. Zaman berubah. Tantangan berubah. Teknologi pun berubah.
Struktur organisasi berkembang. Muhammadiyah semakin besar. Namun satu hal tidak boleh berubah: akhlak kepemimpinan.
Kisah A.R. Sutan Mansur harus tetap hidup sebagai legacy sejarah Muhammadiyah. Sembilan tokoh telah memberikan teladan bahwa menjadi pemimpin bukanlah tentang siapa yang paling berambisi.
A.R. Sutan Mansur memberikan teladan bahwa pemimpin dapat datang dari seseorang yang tidak mengejar jabatan, tetapi memiliki rekam jejak yang membuat orang lain percaya kepadanya. Karena itu, menjelang Muktamar Muhammadiyah ke-49, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan: “Siapa yang paling ingin menjadi Ketua?” Bukan pula: “Siapa yang paling kuat jaringan pendukungnya?” Bukan: “Siapa yang paling lama memegang jabatan?”
Melainkan: “Siapa yang paling layak diberi amanah untuk menjaga Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah?” Dan lebih jauh lagi: “Siapa yang memiliki ketauhidan yang kokoh, ibadah yang kuat, ilmu yang luas, akhlak yang mulia, integritas yang tidak tergoyahkan, kemampuan memimpin, pengalaman mengembangkan dakwah, komitmen kaderisasi, serta keberanian menjaga marwah Muhammadiyah dari segala bentuk intervensi kepentingan?”
Jika pertanyaan itu dijadikan standar, maka Muktamar bukan lagi arena perebutan jabatan, tetapi forum mencari pemimpin terbaik. Inilah pelajaran A.R. Sutan Mansur. Inilah keteladanan sembilan tokoh Muhammadiyah tahun 1953.
