Fenomena Fatherless dan Krisis Peran Ayah dalam Perspektif Islam

Fenomena Fatherless dan Krisis Peran Ayah dalam Perspektif Islam
*) Oleh : Moh. Mas’al, S.HI, M.Ag
Kepsek SMP Al Fattah & Anggota MTT PDM Sidoarjo
www.majelistabligh.id -

“Aku ingin punya ayah, tetapi aku tidak ingin punya suami seperti ayah.” Kalimat ini mungkin terdengar sederhana, namun menyimpan luka yang dalam. Ia menggambarkan kegelisahan banyak anak yang tumbuh dengan kehadiran ayah yang secara fisik ada, tetapi secara emosional tidak hadir.

Dalam kajian modern, fenomena ini sering disebut fatherless, yaitu kondisi ketika seorang anak kehilangan fungsi ayah dalam pengasuhan, bimbingan, dan keteladanan, meskipun sang ayah masih hidup.

Dalam Islam, ayah bukan sekadar pencari nafkah. Ia adalah pemimpin, pendidik, pelindung, dan teladan bagi keluarganya. Al-Qur’an menampilkan sosok ayah ideal melalui kisah Luqman yang menasihati putranya dengan penuh hikmah:

> ﴿يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ﴾
Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)

Ayat ini menunjukkan bahwa peran pertama seorang ayah adalah menanamkan tauhid dan membimbing hati anak menuju Allah.¹

Rasulullah ﷺ juga menegaskan besarnya tanggung jawab seorang ayah:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”²

Hadits ini menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam keluarga bukanlah privilese, melainkan amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Seorang ayah yang hanya hadir untuk memenuhi kebutuhan materi, tetapi lalai dalam pendidikan, kasih sayang, dan keteladanan, sejatinya belum menunaikan amanah tersebut secara sempurna.

Fenomena fatherless sering melahirkan paradoks psikologis pada anak. Di satu sisi, ia merindukan figur ayah yang hangat, melindungi, dan membimbing. Namun di sisi lain, pengalaman buruk bersama ayah membuatnya takut mengulang pola yang sama dalam kehidupan rumah tangganya kelak. Karena itu muncul ungkapan: “Aku ingin punya ayah, tetapi aku tidak ingin punya suami seperti ayah.”

Islam mengajarkan bahwa keteladanan ayah sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak. Imam Ibn al-Qayyim menjelaskan bahwa kerusakan anak sering kali bermula dari kelalaian orang tua dalam mendidik dan membimbing mereka.³ Oleh sebab itu, keberhasilan seorang ayah tidak diukur dari banyaknya harta yang diwariskan, melainkan dari kualitas iman, akhlak, dan rasa aman yang ia tanamkan dalam jiwa anak-anaknya.

Krisis ayah pada zaman ini bukan semata-mata karena kematian atau perceraian, tetapi juga karena hilangnya fungsi ayah di tengah kesibukan, gawai, pekerjaan, dan berbagai tuntutan dunia. Banyak anak yang mengenal suara notifikasi telepon ayah lebih sering daripada mendengar nasihat atau pelukannya. Padahal, kehadiran emosional seorang ayah merupakan kebutuhan yang tidak tergantikan.

Karena itu, Islam menghendaki lahirnya generasi ayah yang bukan hanya kuat mencari nafkah, tetapi juga kuat dalam membangun kedekatan dengan keluarga. Ayah ideal adalah yang menghadirkan rasa aman, menjadi tempat bertanya, tempat mengadu, dan teladan dalam ibadah serta akhlak. Ketika seorang anak berkata, “Aku ingin suamiku kelak seperti ayahku,” itulah salah satu indikator keberhasilan seorang ayah dalam menjalankan amanahnya.

Ungkapan “Aku ingin punya ayah, tetapi aku tidak ingin punya suami seperti ayah” sejatinya adalah alarm bagi kaum ayah. Ia bukan sekadar keluhan seorang anak, melainkan seruan agar para ayah kembali menempati posisi mulianya sebagaimana diajarkan Islam: menjadi pemimpin yang dicintai, bukan ditakuti; menjadi teladan yang dirindukan, bukan dihindari; dan menjadi sebab lahirnya generasi yang sehat secara iman maupun jiwa. (*)

Footnotes:

1. Tafsir Ibn Kathir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (Riyadh: Dār Ṭayyibah, 1999), 6:333.
2. Sahih al-Bukhari, no. 893; Sahih Muslim, no. 1829.
3. Tuhfat al-Mawdud bi Ahkam al-Mawlud (Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 2006), 229–230

 

Tinggalkan Balasan

Search