IMM sebagai Ruang Menemukan Jati Diri
Masa mahasiswa adalah masa pencarian identitas. Seseorang mulai menentukan nilai hidupnya, lingkungan pergaulannya, cara berpikirnya, bahkan mulai menyusun gambaran tentang masa depannya.
Maka, menemukan organisasi yang tepat pada fase ini dapat menjadi salah satu faktor penting dalam pembentukan karakter.
IMM dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengenal dirinya sendiri. Ia dapat mengetahui apakah dirinya mempunyai kemampuan komunikasi, kepemimpinan, menulis, riset, advokasi, kewirausahaan, pendidikan, sosial, maupun bidang lainnya. Ia diberi kesempatan mencoba, melakukan kesalahan, belajar, lalu mencoba kembali.
Dari proses tersebut lahir keberanian. Keberanian untuk berbicara, keberanian untuk berpikir, keberanian untuk berbeda, keberanian untuk mengambil tanggung jawab, dan yang lebih penting keberanian untuk bermanfaat bagi orang lain.
Karena itu, dakwah IMM kepada mahasiswa baru tidak cukup dengan mengatakan bahwa IMM adalah organisasi Islam. Mahasiswa perlu diperlihatkan bagaimana nilai Islam itu dapat menjadi kekuatan untuk membangun dirinya.
Dari Organisasi Menuju Prestasi dan Karir
Ada anggapan bahwa aktif berorganisasi akan mengganggu kuliah. Anggapan ini tidak sepenuhnya salah apabila organisasi dijalankan tanpa manajemen waktu dan tanpa kesadaran akademik.
Namun, organisasi yang sehat justru dapat menjadi ruang pendukung prestasi akademik dan nonakademik.
Mahasiswa belajar mengatur prioritas. Belajar bekerja dalam target. Belajar mencari informasi. Belajar berdiskusi. Belajar menyusun tulisan. Belajar berpikitr kritis. Belajar berbicara di depan umum. Bahkan belajar membangun jejaring.
Semua pengalaman itu pada akhirnya dapat menjadi modal sosial dan profesional.
Perjalanan kader tidak berhenti di dalam organisasi. Kader justru diharapkan mampu menyebarkan nilai perjuangan ke berbagai bidang kehidupan. Kampus menjadi laboratorium awal untuk belajar sebelum kader terjun lebih luas ke masyarakat.
Maka, mahasiswa baru perlu diberi pemahaman bahwa ber-IMM bukan berarti menjauh dari masa depan profesional. Justru sebaliknya, IMM harus membantu mahasiswa mempersiapkan masa depannya.
Mahasiswa kedokteran dipersiapkan menjadi dokter profesional yang berintegritas. Mahasiswa pendidikan dipersiapkan menjadi pendidik yang memiliki kepedulian sosial. Mahasiswa hukum dipersiapkan menjadi insan hukum yang menjunjung keadilan. Mahasiswa ekonomi dipersiapkan menjadi profesional yang memiliki etika dan keberpihakan kepada kemaslahatan.
Begitu pula dengan berbagai disiplin ilmu lainnya. Karier tidak perlu dipertentangkan dengan dakwah.
Karier yang dibangun dengan ilmu, integritas, profesionalitas, dan orientasi pengabdian justru dapat menjadi bagian dari dakwah.
Inilah gagasan penting tentang karier sebagai ibadah dan diaspora kader, kader tidak selamanya berada di ruang organisasi, tetapi harus mampu membawa nilai-nilai kebaikan ke ruang profesi dan kehidupan masyarakat.
