Ikhtiar Dakwah IMM Saat Masa Awal Mahasiswa Baru

Ikhtiar Dakwah IMM Saat Masa Awal Mahasiswa Baru
*) Oleh : Moch Muzaki
TKK DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Jatim
www.majelistabligh.id -

5. Pendekatan Keakraban

Pada akhirnya, banyak orang bergabung bukan karena sebuah poster.

Mereka bergabung karena pengalaman bersama manusia di dalamnya.

Seorang senior yang mau membantu mahasiswa baru ketika kesulitan mencari ruang kelas. Teman yang menemani mengerjakan tugas. Kakak tingkat yang memberikan informasi akademik. Teman diskusi yang mau mendengarkan. Kelompok yang menerima tanpa menghakimi.

Hal-hal sederhana seperti itu terkadang menjadi dakwah yang jauh lebih kuat daripada pidato panjang.

Karena manusia sering kali tertarik kepada nilai setelah terlebih dahulu merasakan ketulusan orang yang membawa nilai tersebut.

Tantangan Dakwah Tidak Sedikit

Ikhtiar dakwah tentu tidak selalu berjalan mulus. Ada mahasiswa yang malas berorganisasi, ada yang merasa organisasi tidak penting, ada yang hanya ingin fokus kuliah, ada yang sudah memiliki lingkungan pertemanan sendiri, ada pula persoalan internal organisasi yang justru membuat mahasiswa baru tidak tertarik.

Belum lagi tantangan eksternal berupa berbagai pandangan negatif, penolakan, kompetisi antarorganisasi, hingga propaganda yang berusaha menjauhkan mahasiswa dari organisasi tertentu.

Tetapi tantangan terbesar terkadang bukan berasal dari luar.

Tantangan terbesar justru bisa berasal dari dalam diri kader sendiri.

Ketika kader mulai kehilangan semangat, ketika organisasi hanya menjadi tempat mencari jabatan, ketika kader tidak mampu memberikan keteladanan, ketika kegiatan hanya ramai di awal tetapi tidak berkelanjutan.

Karena itu, dakwah tidak hanya membutuhkan strategi merekrut mahasiswa baru. Dakwah membutuhkan pembenahan internal organisasi.

Jika IMM ingin mengajak mahasiswa baru menjadi bagian dari perjuangan, maka kader IMM sendiri harus terlebih dahulu menunjukkan bahwa organisasi ini memang layak menjadi ruang bertumbuh.

Kesolidan Organisasi adalah Bagian dari Strategi Dakwah

Dakwah membutuhkan kekompakan. Strategi sehebat apa pun akan kehilangan daya apabila kadernya tidak solid.

Pembagian tugas harus jelas. Komunikasi harus baik. Senior dan junior harus saling bekerjasama dan memahami. Setiap kader harus memahami tujuan gerakan.

Organisasi juga harus mampu membangun budaya yang sehat. Tidak boleh ada ego kelompok yang berlebihan. Tidak boleh ada persaingan internal yang menghabiskan energi. Tidak boleh ada kader yang merasa bekerja sendirian.

Sebab dakwah adalah pekerjaan kolektif. Organisasi adalah alat perjuangan yang membutuhkan kerja sama, struktur, dan tujuan bersama. Dalam perspektif IMM, aktivitas organisasi dapat menjadi ibadah ketika dijalankan dengan niat pengabdian, amanah, keseriusan, dan tanggung jawab.

Sabar dalam Dakwah Bukan Berarti Pasif

Ada satu hal yang sering terlupakan dalam strategi dakwah: kesabaran.

Namun sabar bukan berarti menunggu tanpa melakukan apa-apa. Sabar dalam dakwah adalah kesanggupan untuk tetap menjalankan proses meskipun hasil belum terlihat.

Hari ini kita mengenalkan IMM kepada mahasiswa baru. Besok mungkin belum ada yang bergabung. Minggu depan mungkin masih sedikit. Bulan berikutnya mungkin ada yang datang lalu pergi.

Tetapi proses harus terus berjalan. Karena dakwah bukan proyek instan.

Kita tidak selalu mengetahui kapan sebuah pesan akan tumbuh menjadi kesadaran. Bisa jadi mahasiswa yang hari ini menolak justru beberapa tahun kemudian memahami nilai yang dahulu pernah kita sampaikan.

Maka tugas kader adalah mengikhtiarkan proses sebaik mungkin, sementara hasil akhirnya diserahkan kepada Allah.

Sabar berarti terus memperbaiki strategi. Sabar berarti tidak mudah menyerah. Sabar berarti mampu mengevaluasi kesalahan.
Sabar berarti tetap menjaga akhlak ketika menghadapi penolakan. Sabar berarti tetap bekerja ketika apresiasi belum datang.

Dan sabar berarti tetap yakin bahwa perjuangan yang dilakukan dengan niat karena Allah tidak pernah benar-benar sia-sia.

 

Tinggalkan Balasan

Search