Maka, Bagaimana Cara Mengajak Mahasiswa Baru?
Di sinilah strategi dakwah diperlukan.
Dakwah tidak cukup hanya bermodal niat baik. Niat adalah fondasi, tetapi strategi adalah jalan untuk mewujudkannya.
Allah berfirman:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…”
QS. An-Nahl: 125
Ayat ini memberikan pelajaran bahwa cara berdakwah sama pentingnya dengan pesan yang disampaikan.
Maka, ada beberapa ikhtiar yang dapat dilakukan IMM dalam menghadapi masa awal mahasiswa baru.
1. Pemetaan Kader Baru
Langkah pertama adalah mengenali. Mahasiswa baru dapat dipetakan berdasarkan latar belakang, minat, karakter, kemampuan, aktivitas, kebutuhan, dan potensinya. Informasi dapat diperoleh melalui perkenalan, interaksi informal, kegiatan mahasiswa baru, media sosial, maupun pengamatan terhadap aktivitas mereka.
Namun pemetaan bukan berarti memberi label. Pemetaan adalah usaha untuk memahami pendekatan yang tepat.
Ada mahasiswa yang senang berdiskusi. Ada yang lebih nyaman melalui kegiatan sosial. Ada yang tertarik pada kepemimpinan. Ada yang tertarik pada akademik. Ada yang menyukai kegiatan kreatif.
Dakwah yang baik berusaha menemukan pintu masuk yang sesuai dengan karakter mad’u.
2. Mengajak dengan Hikmah dan Dialog yang Menggembirakan
Dakwah perlu menghadirkan suasana yang menggembirakan, bersahabat, dan manusiawi.
Dialog harus lebih banyak daripada ceramah satu arah. Dengarkan keresahan mereka. Dengarkan impian mereka. Dengarkan persoalan akademiknya, persoalan pergaulannya, bahkan kebingungannya tentang masa depan.
Dari sana dakwah menemukan relevansinya. Dakwah bukan memaksakan seseorang menjadi seperti yang kita inginkan.
Dakwah adalah menemani seseorang menemukan jalan kebaikan. Dakwah semestinya menghadirkan harapan, ketenangan, dan jalan menuju kehidupan yang lebih bermakna.
3. Menggunakan Cara-Cara Kreatif
Generasi mahasiswa hari ini hidup dalam ekosistem digital. Maka dakwah tidak boleh berhenti di ruang kajian.
Konten media sosial, video pendek, desain kreatif, podcast, diskusi santai, kegiatan olahraga, forum intelektual, pengabdian masyarakat, kegiatan seni, hingga aktivitas kewirausahaan dapat menjadi pintu masuk dakwah.
Yang penting bukan sekadar ramai. Yang penting adalah nilai apa yang ditawarkan.
IMM perlu menunjukkan bahwa menjadi bagian dari organisasi berarti memperoleh pengalaman yang dapat membentuk diri.
4. Propaganda Kebaikan: Tawarkan Nilai, Bukan Sekadar Nama
Kata “propaganda” dalam konteks ini harus dimaknai sebagai penyebarluasan gagasan dan nilai-nilai kebaikan.
Jangan hanya mengatakan:
“Ayo masuk IMM.”
Tetapi tunjukkan:
“Di sini kamu bisa belajar.”, “Di sini kamu bisa berkembang.”, “Di sini kamu bisa menemukan teman seperjuangan.”, “Di sini kamu bisa melatih kemampuanmu.”, “Di sini kamu bisa belajar memahami masyarakat.”, “Di sini kamu bisa mempersiapkan masa depanmu.”
Dan yang paling penting:
“Di sini kita belajar menjadikan ilmu, organisasi, profesi, dan kehidupan sebagai jalan pengabdian kepada Allah.”
IMM sebagai organisasi kader memang memiliki orientasi pada kualitas kader, bukan semata-mata memperbesar jumlah anggota. Karena itu, proses mengajak mahasiswa baru harus diarahkan pada proses pembentukan, bukan sekadar perekrutan.
