Jibran Ammar: Kesenangan Juga Ujian, Kuncinya Husnudzon kepada Allah

Jibran Ammar: Kesenangan Juga Ujian, Kuncinya Husnudzon kepada Allah
www.majelistabligh.id -
Pasangan peserta Akademi Mubaligh Muhammadiyah (AMM) Majelis Tabligh PWM Jawa Timur, Mohammad Dafa dan Jibran Ammar Hisyam, bertugas sebagai imam sekaligus pemateri Kuliah Subuh dalam rangkaian kegiatan AMM yang berlangsung di Masjid Mujahidin SD Muhammadiyah 1 (Mutu) Paiton, Kabupaten Probolinggo, Ahad (21/6/2026).
Dalam tausiyahnya, Jibran Ammar Hisyam mengingatkan para peserta tentang hakikat kehidupan yang tidak lepas dari berbagai ujian. Menurutnya, seluruh manusia pasti akan menghadapi ujian sebagai bagian dari ketetapan Allah SWT untuk mengukur kualitas keimanan dan amal perbuatannya.

Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surat Al-Mulk ayat 2:

” ࣙالَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ ۝٢

…yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.”

“Dari ayat tersebut, Allah menyampaikan tentang amal yang baik, bukan seberapa banyak kita melaksanakan ibadah. Artinya nilai ibadah diutamakan kualitas dari kuantitas,” ujar Jibran.

Jabar yang pernah mondok di Mahad Ali bin Abi Thalib itu kemudian menjelaskan, pemahaman masyarakat tentang ujian sering kali terbatas pada hal-hal yang tidak menyenangkan, seperti musibah, kecelakaan, kehilangan pekerjaan, atau penurunan jabatan. Padahal, menurutnya, kesenangan dan kenikmatan juga merupakan bentuk ujian dari Allah SWT.

Ia mencontohkan kenaikan jabatan, kelimpahan harta, maupun kemampuan membeli kendaraan sebagai bentuk kenikmatan yang harus disikapi dengan penuh kesadaran bahwa semuanya merupakan amanah sekaligus ujian.

“Padahal kesenangan juga sebagai ujian. Sikap kita saat menerima kesenangan tentu saja harus bersyukur, namun di saat yang sama harus menyadari sebagai ujian, misalnya punya mobil apakah itu akan membawa kemudahan kepada ibadah, mendekatkan diri kepada Allah atau justru memperlancar kemaksiatan,” jelas Jibran.

Lebih lanjut, ia mengingatkan tentang konsep istidraj, yaitu keadaan ketika Allah memberikan kenikmatan dan kelapangan rezeki kepada seseorang yang terus-menerus berbuat maksiat dan lalai dari perintah-Nya. Kenikmatan tersebut bukanlah tanda kecintaan Allah, melainkan bisa menjadi jebakan yang membuat seseorang semakin jauh dari jalan kebenaran sebelum datangnya azab.

Karena itu, Jibran mengajak para peserta untuk tidak mudah menilai bahwa Allah SWT tidak adil hanya karena orang yang rajin beribadah belum memperoleh kelapangan ekonomi, sementara ada orang yang tampak kurang taat namun hidupnya serba berkecukupan.

Menurutnya, manusia sering kali hanya melihat apa yang tampak di permukaan, tanpa mengetahui keadaan yang sebenarnya dialami seseorang. Oleh sebab itu, sikap berbaik sangka kepada Allah SWT harus senantiasa dijaga dalam segala kondisi.

“Kuncinya adalah husnudzon, berbaik sangka karena seringkali kita terjebak pada apa yang tampak, padahal kita tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi pada orang tersebut,” ujarnya.

Melalui Kuliah Subuh tersebut, para peserta AMM diajak untuk memaknai setiap peristiwa dalam kehidupan sebagai sarana meningkatkan kualitas amal dan keimanan. Baik kesulitan maupun kesenangan sejatinya merupakan ujian yang menuntut kesabaran, rasa syukur, serta keteguhan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT.  (ono)

 

Tinggalkan Balasan

Search