Muhammadiyah bukan sekadar organisasi yang lahir dari kebutuhan zaman, melainkan suatu gerakan Islam yang sejak awal dibangun dengan kesadaran untuk menghadirkan Islam sebagai kekuatan pembebasan, pencerdasan, dan pemajuan kehidupan. Karena itu, ketika berbicara tentang masa depan Muhammadiyah, kita tidak cukup hanya membicarakan struktur organisasi, amal usaha, kaderisasi, atau regenerasi kepemimpinan.
Ada sesuatu yang jauh lebih mendasar, yaitu karakter apa yang menjadi jiwa gerakan Muhammadiyah? Jawabannya tidak lain adalah karakter Rasulullah Muhammad SAW.
Karakter Rasulullah bukan sekadar kisah keteladanan yang dibaca setiap kali kita memperingati peristiwa kelahiran Nabi. Karakter Rasulullah semestinya menjadi DNA gerakan, yaitu nilai yang menghidupkan cara berpikir, bersikap, memimpin, berdakwah, mengelola organisasi, dan memberikan pelayanan kepada umat.
Sebab, gerakan yang besar secara kelembagaan tetapi kehilangan karakter profetik akan mudah berubah menjadi organisasi yang sibuk mengurus urusan sendiri. Di sinilah relevansi keteladanan Rasulullah bagi Muhammadiyah menjadi semakin penting.
Rasulullah SAW tidak membangun peradaban hanya dengan ceramah. Beliau membangun manusia, membentuk komunitas, memperkuat institusi, menciptakan keadilan sosial, mengembangkan tradisi ilmu, dan menata kehidupan masyarakat.
Karena itu, keteladanan Rasulullah tidak boleh direduksi menjadi empat sifat yang sering kita hafalkan, yaitu siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Keempatnya harus diterjemahkan menjadi karakter gerakan.
Siddiq berarti Muhammadiyah harus memiliki integritas dalam berpikir dan bertindak. Apa yang dikatakan harus sejalan dengan apa yang dilakukan. Di tengah era post-truth, ketika opini sering kali lebih kuat daripada fakta dan popularitas kadang mengalahkan kebenaran, karakter Siddiq menjadi semakin penting.
Kader Muhammadiyah tidak boleh menjadi bagian dari budaya penyebaran informasi yang belum terverifikasi, politik pencitraan, atau dakwah yang dibangun atas dasar kemarahan. Dakwah harus berdiri di atas kebenaran, ilmu, dan tanggung jawab moral.
Amanah berarti kekuasaan, jabatan, dan sumber daya organisasi dipandang sebagai tanggung jawab, bukan sebagai fasilitas pribadi. Jabatan di Muhammadiyah seharusnya tidak melahirkan rasa memiliki organisasi, tetapi rasa memiliki tanggung jawab terhadap umat.
Sementara itu, tabligh menuntut kemampuan untuk menyampaikan kebenaran secara bijaksana, relevan, dan mudah dipahami masyarakat. Dakwah tidak cukup benar secara substansi; ia juga harus tepat secara metodologis.
Adapun fathanah mengingatkan bahwa kesalehan tidak boleh dipisahkan dari kecerdasan. Muhammadiyah membutuhkan kader yang saleh sekaligus kompeten, memiliki kedalaman agama sekaligus kemampuan membaca perubahan zaman. Dengan demikian, karakter Rasulullah bukan sekadar atribut moral personal, melainkan harus menjadi etos kelembagaan Muhammadiyah.
Sejak kelahirannya, Muhammadiyah menunjukkan corak keberagamaan yang unik. Islam tidak berhenti sebagai keyakinan individual, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan sosial. Kiai Ahmad Dahlan tidak hanya mengajarkan Surah Al-Ma’un, tetapi juga mengubah pemahaman terhadapnya menjadi gerakan sosial. Islam diterjemahkan menjadi sekolah, rumah sakit, panti asuhan, pelayanan sosial, pemberdayaan masyarakat, dan berbagai bentuk amal usaha.
Di sinilah sebenarnya terlihat DNA profetik Muhammadiyah. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa keberagamaan harus melahirkan kemaslahatan. Iman tidak boleh berhenti di ruang privat. Ia harus mempunyai konsekuensi sosial.
Karena itu, kemajuan Muhammadiyah tidak seharusnya diukur hanya dari jumlah sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, masjid, atau lembaga yang dimiliki. Pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa besar seluruh aset gerakan itu menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat?
Inilah tantangan penting Muhammadiyah hari ini. Jangan sampai amal usaha semakin besar, tetapi ruh pelayanan semakin kecil. Jangan sampai gedung semakin megah, tetapi kepedulian kepada kaum dhuafa semakin jauh. Jangan sampai organisasi semakin profesional, tetapi keikhlasan semakin terpinggirkan.
