Profesionalisme memang penting. Namun, profesionalisme tanpa keikhlasan dapat melahirkan korporatisasi gerakan. Sebaliknya, keikhlasan tanpa profesionalisme dapat membuat gerakan kehilangan daya saing dan efektivitas. Muhammadiyah membutuhkan keduanya, yaitu profesional dalam mengelola, profetik dalam orientasi.
Salah satu karakter Rasulullah yang penting bagi gerakan Muhammadiyah adalah kemampuannya memanusiakan manusia. Rasulullah tidak membangun umat dengan penghukuman dan penghinaan. Beliau membangun manusia dengan keteladanan, kasih sayang, pendidikan, dialog, dan pembinaan.
Ini menjadi pelajaran penting bagi dakwah Muhammadiyah. Dakwah yang hanya pandai mengatakan bahwa yang salah adalah salah, tetapi tidak mampu menunjukkan jalan keluar, akan kehilangan daya transformasinya. Dakwah yang gemar menghakimi tetapi miskin empati akan menciptakan jarak dengan masyarakat. Di tengah masyarakat yang semakin kompleks, dakwah membutuhkan pendekatan yang lebih humanis.
Generasi muda hari ini hidup dalam lingkungan yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka berhadapan dengan algoritma, media sosial, budaya visual, kecerdasan buatan, tekanan ekonomi, perubahan dunia kerja, krisis identitas, dan banjir informasi.
Jika dakwah hanya mengulang bahasa masa lalu tanpa kemampuan membaca realitas baru, maka pesan yang sebenarnya sangat relevan bisa terdengar tidak relevan. Rasulullah mengajarkan bahwa substansi Islam tetap, tetapi pendekatan dakwah dapat disesuaikan dengan keadaan. Maka Muhammadiyah perlu menjadi gerakan yang teguh dalam prinsip, tetapi lentur dalam strategi.
Di sinilah persoalan kaderisasi menjadi sangat penting. Muhammadiyah tidak kekurangan orang pintar. Muhammadiyah memiliki akademisi, profesional, birokrat, pengusaha, ulama, aktivis, serta berbagai kelompok intelektual. Namun, pertanyaan yang harus terus diajukan adalah apakah semua kecakapan itu secara otomatis menghasilkan karakter kepemimpinan profetik?
Kader yang hebat secara intelektual tetapi lemah integritasnya dapat menjadi masalah. Kader yang aktif secara organisatoris tetapi miskin empati juga dapat menjadi beban. Kader yang memiliki ambisi kepemimpinan tetapi tidak memiliki orientasi pelayanan berpotensi mengubah organisasi menjadi arena perebutan posisi.
Karena itu, kaderisasi Muhammadiyah tidak boleh hanya menghasilkan orang yang mampu mengurus organisasi, tetapi juga orang yang mampu menggerakkan umat.
Kader harus memiliki sifat siddiq agar tidak mudah tergoda oleh kepentingan. Amanah agar tidak menyalahgunakan mandat. Tabligh agar mampu menyampaikan gagasan secara efektif. Dan fathanah agar mampu membaca persoalan serta menawarkan solusi. Lebih jauh lagi, kader Muhammadiyah harus memiliki karakter rahmah, yaitu mampu menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi kehidupan.
Ada perbedaan mendasar antara organisasi yang besar dan gerakan yang berdampak. Organisasi yang besar dapat dikenali dari jumlah struktur, anggota, aset, dan sumber daya yang dimilikinya. Sementara itu, gerakan yang berdampak diukur berdasarkan perubahan yang dihasilkannya.
Muhammadiyah harus terus bergerak dari sekadar pertumbuhan organisasi menuju dampak sosial. Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat pemberdayaan masyarakat. Sekolah bukan sekadar tempat transfer pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan manusia unggul dan berkarakter. Rumah sakit bukan hanya institusi kesehatan, tetapi juga bentuk nyata kepedulian kemanusiaan. Perguruan tinggi bukan hanya pencetak sarjana, tetapi pusat produksi ilmu dan solusi bagi persoalan bangsa.
Semua itu sesungguhnya merupakan aktualisasi karakter Rasulullah. Rasulullah membangun masyarakat bukan untuk menghasilkan komunitas yang sekadar banyak, melainkan untuk menghasilkan masyarakat yang beradab. Maka ukuran keberhasilan Muhammadiyah pun harus bergerak ke arah yang sama, yaitu seberapa jauh keberadaan Muhammadiyah membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik?
