Salah satu tantangan terbesar bagi organisasi yang telah berusia panjang adalah rutinisasi. Gerakan yang dahulu penuh idealisme dapat berubah menjadi rutinitas administrasi. Program yang dahulu lahir dari kegelisahan sosial dapat berubah menjadi agenda tahunan. Rapat menjadi tujuan, bukan sarana. Struktur menjadi lebih penting daripada substansi.
Karena itu, Muhammadiyah harus terus melakukan self-renewal. Pertanyaan reflektif perlu diajukan secara berkala seperti apakah kita masih memiliki kegelisahan seperti para pendiri Muhammadiyah ketika melihat kebodohan, kemiskinan, ketidakadilan, dan keterbelakangan? Apakah kita masih memiliki keberanian untuk melakukan pembaruan? Apakah kita masih mampu melihat persoalan umat sebelum masyarakat sendiri meminta bantuan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena gerakan akan kehilangan daya hidup ketika idealisme berubah menjadi rutinitas. Menghidupkan kembali karakter Rasulullah berarti menghidupkan kembali keberanian Muhammadiyah untuk menghadirkan pembaruan.
Dalam pembangunan organisasi, kita sering berbicara tentang infrastruktur fisik, sistem digital, tata kelola, sumber daya manusia, dan kapasitas kelembagaan. Semua itu penting. Namun, ada satu infrastruktur yang sering tidak terlihat tetapi sangat menentukan, yaitu akhlak.
Kepercayaan adalah modal sosial. Dan kepercayaan tidak dapat dibangun hanya dengan sistem. Ia lahir dari karakter manusia yang menjalankan sistem tersebut.
Organisasi yang memiliki sistem yang bagus, tetapi dihuni oleh orang-orang yang tidak amanah, tetap akan bermasalah. Sebaliknya, organisasi yang memiliki orang-orang berintegritas akan lebih mudah membangun sistem yang sehat.
Karena itu, karakter Rasulullah harus menjadi semacam infrastruktur moral bagi Muhammadiyah. Siddiq menjadi fondasi integritas. Amanah menjadi fondasi tata kelola. Tabligh menjadi fondasi komunikasi. Fathanah menjadi fondasi profesionalisme. Dan rahmah menjadi fondasi orientasi pelayanan.
Jika kelima karakter itu hidup dalam diri kader, maka Muhammadiyah tidak sekadar memiliki organisasi yang tertib, tetapi juga memiliki gerakan yang berjiwa.
Kita tidak kekurangan narasi tentang kecintaan kepada Rasulullah. Hal yang perlu terus diperkuat adalah bagaimana kecintaan itu berubah menjadi karakter. Sebab, mencintai Rasulullah bukan hanya dengan memperbanyak pujian kepada beliau. Mencintai Rasulullah berarti berusaha menghadirkan sifat-sifat beliau dalam kehidupan.
Bagi Muhammadiyah, hal itu berarti menjadikan Rasulullah sebagai cermin dalam mengelola gerakan. Ketika berhadapan dengan perbedaan, kita belajar keluasan hati beliau. Ketika memperoleh amanah, kita belajar integritas beliau. Ketika berdakwah, kita belajar kebijaksanaan beliau. Ketika menghadapi persoalan umat, kita belajar keberanian dan kecerdasan beliau. Ketika berhadapan dengan kaum lemah, kita belajar kasih sayang beliau.
Dengan demikian, Rasulullah tidak hanya hadir di mimbar-mimbar tabligh, tetapi juga hadir dalam keputusan organisasi, perilaku kader, pelayanan amal usaha, dan tindakan sosial Muhammadiyah.
Muhammadiyah telah melewati lebih dari satu abad perjalanan. Tantangan yang dihadapi generasi sekarang tentu berbeda dengan tantangan yang dihadapi Kiai Ahmad Dahlan. Namun, ada satu hal yang tidak boleh berubah yaitu orientasi profetik gerakan.
Zaman boleh berubah. Teknologi boleh berkembang. Struktur organisasi boleh diperbarui. Strategi dakwah boleh berganti. Tetapi karakter dasar yang menjadi ruh gerakan harus tetap terjaga. Inilah makna menjadikan karakter Rasulullah sebagai DNA Muhammadiyah.
DNA tidak selalu terlihat, tetapi ia menentukan bagaimana organisme tumbuh. Begitu pula karakter. Ia tidak selalu tertulis dalam struktur organisasi, tetapi menentukan bagaimana sebuah gerakan berpikir, bertindak, mengambil keputusan, dan memperlakukan manusia.
Muhammadiyah tidak cukup hanya menjadi organisasi Islam yang besar. Muhammadiyah harus tetap menjadi gerakan Islam yang berkarakter profetik yaitu mencerdaskan tanpa menggurui, membangun tanpa mengeksploitasi, berdakwah tanpa membenci, memimpin tanpa mendominasi, dan melayani tanpa pamrih.
