Kebahagiaan Ditentukan oleh Syukur Nikmat, Bukan Besarnya Materi

Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Mukhlis Rahmanto.
www.majelistabligh.id -

Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Mukhlis Rahmanto, menegaskan bahwa kebahagiaan tidak semata ditentukan oleh tingkat kesejahteraan ekonomi, melainkan oleh kekuatan moral, spiritualitas, dan relasi sosial. Hal itu disampaikannya di Masjid KH Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Jumat (1/5/2026).

Mukhlis mengutip hasil riset global Flourishing Study yang melibatkan 22 negara. Penelitian yang bekerja sama dengan Gallup itu menempatkan Indonesia sebagai negara paling bahagia di antara negara-negara yang disurvei.

Menurutnya, terdapat tiga faktor utama yang menjadi penopang kebahagiaan masyarakat Indonesia, yaitu karakter moral dan mental yang tangguh, budaya bersyukur, serta hubungan sosial yang kuat.

“Walaupun secara pendapatan per kapita relatif tidak tinggi, masyarakat Indonesia memiliki tingkat kepuasan batin yang tinggi karena didukung nilai kekeluargaan, gotong royong, dan spiritualitas,” ujarnya.

Ia menjelaskan, rata-rata pendapatan masyarakat Indonesia pada 2025 berkisar Rp83 juta pertahun atau sekitar Rp7 juta per bulan. Namun, kondisi tersebut tidak menghalangi masyarakat untuk merasakan kebahagiaan.

Mukhlis menilai, spiritualitas berperan besar dalam membentuk kebahagiaan tersebut, terutama melalui praktik keagamaan seperti sedekah, donasi, dan kepedulian sosial. Selain itu, sikap husnuzan (berprasangka baik) dan ketangguhan mental membuat masyarakat mampu menghadapi berbagai ujian kehidupan, termasuk bencana alam.

Ia mengutip hadis Nabi Muhammad saw yang menyatakan bahwa setiap keadaan orang beriman adalah baik: ketika mendapat nikmat ia bersyukur, dan ketika ditimpa musibah ia bersabar.

Lebih lanjut, Mukhlis menyoroti kuatnya hubungan sosial di tengah masyarakat Indonesia. Menurutnya, ikatan kekeluargaan, budaya tolong-menolong, dan harmoni sosial mampu meringankan beban hidup. “Di sinilah kebahagiaan tidak identik dengan materi,” katanya.

Ia membandingkan dengan negara maju seperti Amerika Serikat yang memiliki pendapatan per kapita tinggi, namun tidak menempati posisi teratas dalam survei tersebut. Hal ini menunjukkan adanya paradoks antara kekayaan materi dan tingkat kebahagiaan.

Dalam perspektif Islam, Mukhlis menjelaskan bahwa kebahagiaan memiliki dimensi yang lebih luas. Ia mengutip hadis tentang empat indikator kebahagiaan, yaitu pasangan yang saleh, tempat tinggal yang layak, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman.

Selain itu, ia juga mengaitkan konsep kebahagiaan dengan Al-Qur’an, di antaranya dalam Surah Hud ayat 108 yang menggambarkan kebahagiaan hakiki di akhirat sebagai balasan atas amal manusia di dunia.

Mukhlis juga mengulas pandangan para ulama dan filsuf, seperti Socrates yang menyebut kebahagiaan sebagai kemampuan menerima kekurangan, serta Nasiruddin At-Tusi yang memandang kebahagiaan sebagai kesempurnaan diri melalui pemahaman tujuan penciptaan manusia.

Ia juga merujuk pada pemikiran Ibnu Miskawaih yang membagi kebahagiaan ke dalam lima tingkatan, mulai dari kebahagiaan fisik, mental, intelektual, moral, hingga spiritual.

“Puncak kebahagiaan adalah ketika manusia merasakan kedekatan dengan Allah, mencintai Nabi, dan menikmati ibadah,” jelasnya. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search