Manusia diajarkan bagaimana memanfaatkan alam, tetapi tidak selalu diajarkan mengapa alam diciptakan.
Manusia diajarkan bagaimana menghasilkan kekayaan, tetapi tidak selalu diajarkan untuk apa kekayaan itu digunakan.
Manusia diajarkan bagaimana memperoleh kekuasaan, tetapi tidak selalu diajarkan kepada siapa kekuasaan itu harus dipertanggungjawabkan.
Manusia diajarkan bagaimana hidup sukses, tetapi tidak selalu diajarkan apa sebenarnya makna sukses itu.
Di sinilah letak persoalan yang sesungguhnya.
Masalah pendidikan modern bukan karena ia mengajarkan matematika, fisika, biologi, ekonomi, atau teknologi. Ilmu-ilmu tersebut tidak bermasalah. Bahkan Islam sejak awal mendorong manusia untuk membaca, berpikir, mengamati, dan meneliti alam semesta.
Masalahnya muncul ketika ilmu dipisahkan dari pertanyaan tentang makna.
Ketika pengetahuan tidak lagi dihubungkan dengan hikmah.
Ketika kecerdasan tidak lagi dipandu oleh adab.
Ketika akal berjalan tanpa kompas.
Dalam Seri Epistemologi Qurani, persoalan ini dapat dijelaskan melalui tiga fondasi besar.
Pertama adalah Iqra’.
Perintah pertama yang turun kepada Rasulullah ﷺ bukanlah perintah untuk beribadah secara ritual, melainkan perintah untuk membaca. Namun membaca dalam perspektif Al-Qur’an bukan sekadar aktivitas intelektual. Membaca adalah upaya memahami realitas sebagai ayat-ayat Allah. Alam semesta bukan hanya objek penelitian, tetapi juga tanda-tanda yang mengantarkan manusia kepada Sang Pencipta.
Kedua adalah Tauhid sebagai Epistemologi Ayat-Ayat Kehidupan.
Tauhid tidak hanya berbicara tentang keesaan Allah dalam ibadah. Tauhid juga berbicara tentang sumber makna kehidupan. Ketika Allah menjadi pusat orientasi, maka ilmu tidak lagi dipandang sebagai alat menguasai dunia semata, tetapi sebagai sarana memahami amanah kekhalifahan manusia di bumi.
Ketiga adalah Worldview Wahyu.
Setiap manusia memandang dunia melalui kacamata tertentu. Ada yang melihat dunia sebagai arena kompetisi. Ada yang melihatnya sebagai mesin ekonomi. Ada yang melihatnya sebagai hasil kebetulan biologis. Al-Qur’an menawarkan cara pandang yang berbeda. Dunia dipandang sebagai ciptaan Allah yang memiliki tujuan, keteraturan, dan makna.
Ketika tiga fondasi ini hilang, pendidikan tetap berjalan. Sekolah tetap berdiri. Universitas tetap menghasilkan lulusan. Penelitian tetap dilakukan. Namun perlahan-lahan manusia kehilangan hubungan antara ilmu dan tujuan hidup.
Akibatnya lahirlah generasi yang sangat terampil mengelola dunia, tetapi sering kali kebingungan memahami dirinya sendiri.
Mereka mengetahui banyak hal tentang kehidupan, tetapi sedikit memahami mengapa mereka hidup.
Mereka mampu menjelaskan berbagai fenomena alam, tetapi kesulitan menjelaskan makna keberadaannya sendiri.
Mereka menguasai teknologi yang mampu menghubungkan miliaran manusia, tetapi tidak selalu mampu menjawab pertanyaan paling sederhana: ke mana sebenarnya perjalanan hidup ini bermuara?
Karena itu solusi yang dibutuhkan bukanlah permusuhan terhadap pendidikan modern. Bukan pula penolakan terhadap sains dan teknologi. Yang dibutuhkan adalah rekonsiliasi antara ilmu dan wahyu, antara akal dan iman, antara pengetahuan dan adab.
