Kita tidak membutuhkan pendidikan yang anti-modern. Kita membutuhkan pendidikan yang mampu memberikan arah bagi modernitas.
Kita tidak membutuhkan pendidikan yang memusuhi ilmu. Kita membutuhkan pendidikan yang mampu menghubungkan ilmu dengan hikmah.
Kita tidak membutuhkan pendidikan yang hanya menghasilkan tenaga kerja. Kita membutuhkan pendidikan yang melahirkan manusia.
Manusia yang mampu berpikir sekaligus berdzikir.
Manusia yang mampu membaca dunia tanpa kehilangan Tuhannya.
Manusia yang mampu menguasai teknologi tanpa diperbudak olehnya.
Manusia yang mampu membangun peradaban tanpa kehilangan kompas moralnya.
Pada akhirnya, persoalan terbesar pendidikan modern mungkin bukan sekadar sekularisme. Persoalan yang lebih mendasar adalah krisis epistemologi: krisis dalam memahami sumber kebenaran, tujuan ilmu, dan makna kehidupan itu sendiri.
Dan selama krisis itu belum diselesaikan, kita mungkin akan terus menghasilkan generasi yang semakin cerdas, tetapi tidak selalu semakin bijaksana; semakin terampil, tetapi tidak selalu semakin arif; semakin maju secara teknologis, tetapi belum tentu semakin dekat kepada tujuan penciptaannya.
Karena pendidikan yang sejati bukan hanya mengajarkan manusia bagaimana hidup.
Pendidikan yang sejati membantu manusia memahami untuk apa ia hidup. (*)
