Mata Terbelalak Menyaksikan Neraka Yang Dahulu Dipandang Sihir

Mata Terbelalak Menyaksikan Neraka Yang Dahulu Dipandang Sihir
*) Oleh : Dr. Slamet Muliono Redjosari
Wakil Ketua Majelis Tabligh PW Muhammadiyah Jatim
www.majelistabligh.id -

Al-Qur’an berulang-ulang memberitakan adanya hari akhirat, dan itu pasti terjadi. Namun orang kafir senantiasa menganggapnya sihir dan dusta belaka. Al-Qur’an juga memberitakan adanya penyesalan ketika orang kafir melihat langsung neraka di hadapannya.

Mata Terbelalak

Kekafiran senantiasa melahirkan pendustaan setiap menerima berita kebenaran. Namun Al-Qur’an merekam para pendusta kebenaran matanya terbelalak. Ketika matanya terbelalak, baru mereka membenarkan berita Al-Qur’an yang dahulu selalu mereka dustakan.

Hal ini dinarasikan Al-Qur’an sebagaimana berikut :

وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا عَلَى النَّا رِ ۗ اَلَيْسَ هٰذَا بِا لْحَقِّ ۗ قَا لُوْا بَلٰى وَرَبِّنَا ۗ قَا لَ فَذُوْقُوا الْعَذَا بَ بِمَا كُنْـتُمْ تَكْفُرُوْنَ
Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang yang kafir dihadapkan kepada neraka, (mereka akan ditanya), “Bukankah (azab) ini benar?” Mereka menjawab, “Ya benar, demi Tuhan kami.” Allah berfirman, “Maka rasakanlah azab ini, karena dahulu kamu mengingkarinya.“”
(QS. Al-Ahqaf : 34)

Memori Penolakan

Al-Qur’an juga mengingatkan memori manusia yang dulu menolak adanya hari pembalasan (neraka) dan saat itu matanya melihat langsung adanya neraka yang dahulu didustakan. Seolah nggak percaya karena neraka sudah di hadapannya, sehingga mata terbelalak dan sangat kaget bercampur menyesal. Al-Qur’an mengabadikan peristiwa tragis itu sebagaimana firman-Nya :

لَقَدْ كُنْتَ فِيْ غَفْلَةٍ مِّنْ هٰذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَآءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيْدٌ
Sungguh, kamu dahulu lalai tentang (peristiwa) ini, maka Kami singkapkan tutup (yang menutupi) matamu, sehingga penglihatanmu pada hari ini sangat tajam.” (QS. Qaf : 22)

Mereka ingin kembali ke dunia membenarkan berita itu dan ingin berbuat amal kebaikan.
Hal ini terekam di dalam Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :

وَلَوْ تَرٰۤى اِذِ الْمُجْرِمُوْنَ نَا كِسُوْا رُءُوْسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۗ رَبَّنَاۤ اَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَا رْجِعْنَا نَعْمَلْ صَا لِحًـا اِنَّا مُوْقِنُوْنَ
Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata), “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan. Sungguh, kami adalah orang-orang yang yakin. “”
(QS. As-Sajdah : 12)

Namun terlambat karena tidak akan ada lagi episode perulangan hidup. Yang ada hanya hari pembalasan.

Pelaku kejahatan di negeri ini seolah memiliki kepercayaan ketiadaan neraka sehingga mereka tak berhenti melakukan tindak kejahatan seperti korupsi, menindas dan menipu rakyatnya hidup dalam keterbatasan dan kemiskinan.

Apakah mereka menunggu mata terbelalak ketika neraka ada di hadapannya dan siap menjadi penghuninya.
Ketika hati nurani tidak menjadi rujukan maka sulit bagi akal sehatnya untuk mengarahkan tidak kejahatan sosial.

Pacet, 11 Juli 2026

 

Tinggalkan Balasan

Search