Di zaman ketika media sosial dipenuhi berbagai pencapaian, kemewahan, dan gaya hidup yang mengundang decak kagum, tanpa disadari kita sering terbiasa melihat ke atas. Kita membandingkan hidup dengan mereka yang tampak lebih berhasil, lebih kaya, atau lebih beruntung. Akibatnya, hati mudah merasa kurang meskipun Allah telah melimpahkan begitu banyak nikmat. Padahal, salah satu kunci ketenangan hidup adalah belajar melihat ke bawah dalam urusan dunia agar rasa syukur senantiasa tumbuh.
Pagi ini kita masih mampu membuka mata, menghirup udara segar, menggerakkan tangan dan kaki, serta menjalani aktivitas sebagaimana mestinya. Nikmat sehat sering kali terasa biasa karena kita menikmatinya setiap hari tanpa hambatan. Padahal, di berbagai rumah sakit dan ruang perawatan, banyak orang yang hanya berharap dapat bangun dari tempat tidur tanpa rasa sakit. Maka, sebelum mengeluhkan hal-hal kecil, sudah sepatutnya kita mengucapkan, Alhamdulillāh, atas kesehatan yang Allah anugerahkan.
Ketika melihat mereka yang sedang berjuang melawan penyakit, kita akan menyadari betapa berharganya tubuh yang masih mampu berfungsi dengan baik. Ada orang yang kehilangan penglihatan, pendengaran, atau kemampuan berjalan karena musibah yang menimpanya. Bahkan, seseorang yang sedang sakit pun masih dapat menemukan orang lain dengan kondisi yang jauh lebih berat daripada dirinya. Kesadaran semacam inilah yang melahirkan rasa syukur yang tulus, bukan sekadar ucapan di bibir.
Sering kali manusia baru menyadari nilai sebuah nikmat setelah nikmat itu hilang. Saat sehat, kita menganggap tubuh akan selalu kuat sehingga lupa menjaganya dan lupa bersyukur kepada Sang Pemberi nikmat. Ketika sakit datang, barulah kesehatan terasa sebagai karunia yang tidak dapat dibeli dengan harta sebanyak apa pun. Karena itu, melihat ke bawah dalam urusan kesehatan akan membuat hati lebih mudah menerima keadaan dan lebih dekat kepada Allah.
Namun, bersyukur bukanlah perkara yang ringan. Bersyukur bukan hanya mengucapkan Alhamdulillāh, melainkan juga menyadari bahwa setiap nikmat berasal dari Allah dan menggunakannya untuk kebaikan. Oleh sebab itu, Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā mengingatkan dalam firman-Nya:
وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13). Ayat ini menjadi pengingat bahwa menjadi hamba yang benar-benar bersyukur merupakan kemuliaan yang tidak mudah diraih.
Maka, sudah sepantasnya kita memohon kepada Allah agar dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur. Syukur akan menjadikan hati lebih damai sekalipun keadaan belum sempurna. Orang yang bersyukur tidak sibuk menghitung apa yang belum dimiliki, tetapi lebih sering menghitung nikmat yang telah diberikan Allah. Dari sanalah kebahagiaan tumbuh dengan alami.
Salah satu cara menjaga rasa syukur ialah membiasakan diri melihat ke bawah dalam perkara dunia. Ketika kendaraan yang kita miliki terasa sederhana, ingatlah masih banyak orang yang hanya memiliki sepeda motor tua atau bahkan tidak mempunyai kendaraan sama sekali. Ketika rumah kita terasa sempit, masih ada keluarga yang tinggal di rumah kontrakan kecil atau bahkan tidak memiliki tempat tinggal yang layak. Kesadaran itu membuat kita lebih menghargai apa yang telah Allah titipkan.
Demikian pula dalam urusan rezeki. Mungkin penghasilan kita belum sebesar yang diharapkan, tetapi masih banyak orang yang setiap hari berjuang mencari nafkah tanpa kepastian. Ada yang bekerja keras dari pagi hingga malam hanya untuk memenuhi kebutuhan makan keluarganya. Bahkan, tidak sedikit yang harus menahan lapar karena belum mendapatkan pekerjaan. Melihat kenyataan itu semestinya membuat kita lebih banyak bersyukur daripada mengeluh.
Sebaliknya, apabila kita terus melihat ke atas dalam urusan dunia, keinginan tidak akan pernah berakhir. Hari ini ingin memiliki kendaraan yang lebih bagus, besok ingin rumah yang lebih besar, lusa menginginkan kedudukan yang lebih tinggi. Setelah satu keinginan terpenuhi, muncul lagi keinginan berikutnya tanpa jeda. Hati akhirnya terus merasa kurang meskipun nikmat yang dimiliki sudah sangat banyak.
Rasulullah ﷺ telah mengingatkan bahwa sifat manusia memang cenderung tidak pernah merasa puas terhadap dunia. Beliau bersabda:
لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا، وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ
“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta, niscaya ia akan mencari lembah yang ketiga. Tidak ada yang memenuhi perut anak Adam selain tanah.” (HR. Al-Bukhari). Hadis ini menggambarkan bahwa kerakusan terhadap dunia hanya akan berhenti ketika manusia meninggal dunia.
Dunia memang ibarat air laut yang asin. Semakin banyak diminum, rasa haus justru semakin bertambah. Keinginan yang tidak dikendalikan akan membuat seseorang terus mengejar dunia tanpa pernah benar-benar menikmatinya. Karena itu, Islam mengajarkan agar dunia berada di tangan, bukan menguasai hati.
Akan tetapi, prinsip melihat ke bawah tidak berlaku dalam semua perkara. Dalam urusan akhirat, justru kita diperintahkan untuk melihat ke atas. Kita dianjurkan meneladani orang-orang yang lebih saleh agar semangat ibadah terus meningkat. Semakin tinggi teladan yang kita lihat, semakin besar pula dorongan untuk memperbaiki diri.
Setiap hari dalam salat, kita membaca doa:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.”
Orang-orang yang diberi nikmat itu adalah para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Allah mengajarkan kita agar menjadikan mereka sebagai teladan dalam beriman dan beramal. Kita diminta melihat ke atas agar tidak cepat merasa puas dengan kualitas ibadah sendiri. Semangat untuk terus memperbaiki diri lahir dari keinginan mengikuti jejak orang-orang terbaik.
Al-Qur’an juga memerintahkan manusia agar berlomba-lomba dalam kebaikan. Allah berfirman:
وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ
“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang-orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 26).
Allah juga berfirman:
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
“Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148). Perintah ini menunjukkan bahwa ambisi seorang mukmin seharusnya diarahkan kepada amal saleh, bukan semata-mata kepada urusan dunia. Persaingan terbaik adalah persaingan untuk semakin dekat kepada Allah.
Demikian pula firman Allah:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ
“Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” (QS. Āli ‘Imrān: 133). Ayat ini mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak boleh bermalas-malasan dalam mengejar ridha Allah. Justru dalam urusan akhirat, kita diperintahkan memiliki cita-cita setinggi mungkin.
Kesalahan yang sering terjadi adalah kebalikan dari ajaran Islam. Dalam urusan dunia, kita terus melihat orang yang lebih kaya sehingga merasa kekurangan. Namun, dalam urusan ibadah, kita justru melihat orang yang lebih buruk sehingga merasa sudah cukup baik. Akibatnya, semangat memperbaiki diri menjadi lemah dan rasa ujub perlahan tumbuh di dalam hati.
Padahal, seorang mukmin hendaknya selalu merasa masih memiliki banyak kekurangan dalam beribadah. Ketika telah rutin salat berjamaah, ia melihat orang yang lebih khusyuk. Ketika telah mampu membaca Al-Qur’an setiap hari, ia melihat orang yang menghafal dan mengamalkan isinya. Dengan demikian, ia terdorong untuk terus bertumbuh tanpa merasa paling baik.
Rasulullah ﷺ bahkan mengajarkan agar seorang mukmin memiliki cita-cita tertinggi dalam urusan akhirat. Beliau bersabda:
فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ، وَأَعْلَى الْجَنَّةِ
“Apabila kalian meminta kepada Allah, mintalah Surga Firdaus, karena itulah surga yang paling tinggi.” (HR. Al-Bukhari). Hadis ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan umatnya memiliki himmah ‘āliyah, yakni semangat yang tinggi dalam mengejar kemuliaan akhirat.
Maka, kebahagiaan bukan ditentukan oleh seberapa banyak yang kita miliki, melainkan oleh cara kita memandang kehidupan. Melihat ke bawah dalam urusan dunia akan menumbuhkan syukur, sedangkan melihat ke atas dalam urusan akhirat akan menumbuhkan semangat beramal. Keduanya merupakan keseimbangan yang diajarkan Islam agar hati tidak terjebak dalam kesombongan ataupun keputusasaan. Semoga Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menjadikan kita hamba-hamba yang selalu bersyukur atas nikmat dunia dan tidak pernah berhenti berlomba mengejar kemuliaan akhirat. (*)
