Perayaan Milad ke-100 Pondok Modern Darussalam Gontor berlangsung meriah dan penuh makna. Acara yang digelar di lingkungan kampus Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor itu dihadiri keluarga besar pesantren. Tampak dua Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor yaitu KH Hasan Abdullah Sahal dan Drs. KH Muhammad Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed. civitas akademika UNIDA, para alumni, serta ribuan masyarakat dari berbagai daerah, Kamis (9/7/2026).
Momentum satu abad Gontor tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga menjadi ruang refleksi atas perjalanan panjang pesantren dalam membangun pendidikan Islam, mencetak kader umat, serta menjaga peradaban bangsa.

Kehadiran Ustaz Adi Hidayat (UAH) sebagai penceramah utama semakin menguatkan nuansa intelektual dan spiritual dalam peringatan bersejarah tersebut. Mengusung tema “Peran Pesantren dalam Menjaga Peradaban”, Milad ke-100 Gontor menegaskan kembali posisi strategis pesantren sebagai pusat pembinaan moral, intelektual, dan kepemimpinan umat.
Dalam ceramahnya, UAH menegaskan bahwa usia 100 tahun bukan sekadar pencapaian historis, melainkan momentum untuk melangkah lebih jauh dalam menghadapi tantangan zaman.
“Usia 100 tahun bukan sekadar pencapaian historis, tetapi menjadi titik tolak untuk melangkah lebih besar,” ungkapnya.
Ia menyampaikan optimisme bahwa Gontor akan terus memberikan kontribusi nyata bagi dunia pendidikan dan peradaban, baik di tingkat nasional maupun global.
Menurut UAH, memasuki abad kedua, Gontor dituntut mampu melahirkan tokoh-tokoh peradaban yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral, visi yang kuat, serta mampu memberikan pengaruh positif bagi masyarakat.
“Pesantren harus menjadi kawah candradimuka bagi lahirnya pemimpin umat yang berintegritas dan berpengaruh,” tegasnya.
UAH juga mengingatkan bahwa tantangan yang akan dihadapi umat pada masa mendatang semakin kompleks. Karena itu, pesantren beserta seluruh elemen umat Islam perlu memperkuat kesiapan, baik dari aspek keilmuan, mentalitas, maupun spiritualitas, agar mampu menjawab perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat.
Dalam bagian lain ceramahnya, UAH menekankan bahwa Al-Qur’an merupakan sumber utama perubahan peradaban. Menurutnya, Al-Qur’an tidak cukup hanya dibaca, tetapi harus dipahami dan diamalkan secara konsisten agar mampu membentuk karakter individu sekaligus melahirkan masyarakat yang beradab.
“Al-Qur’an tidak hanya untuk dibaca, tetapi harus diamalkan secara konsisten agar mampu membentuk karakter individu dan membangun masyarakat yang beradab,” ujarnya.
Ia juga mengajak generasi muda untuk memilih lingkungan yang mampu mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagai fondasi utama dalam meraih kesuksesan.
“Keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari capaian duniawi, tetapi dari kedekatan spiritual dan keberkahan hidup yang diraih,” tuturnya.
Lebih jauh, UAH menegaskan bahwa kesuksesan tidak dapat diraih tanpa keberanian menghadapi berbagai tantangan. Menurutnya, setiap ujian merupakan bagian penting dalam proses pembentukan kualitas diri dan kedewasaan seseorang.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga persatuan serta menghindari perpecahan sebagai syarat utama kemajuan umat Islam.
Menutup ceramahnya, UAH menguatkan pentingnya keimanan dalam proses menuntut ilmu dengan merujuk pada QS At-Taubah ayat 122. Ia menegaskan bahwa seluruh aktivitas belajar harus dilandasi kesadaran iman dan diarahkan untuk meraih ridha Allah SWT, sehingga ilmu yang diperoleh benar-benar membawa manfaat bagi kehidupan dan peradaban.
Melalui peringatan Milad ke-100 ini, Gontor diharapkan memasuki abad keduanya dengan semangat baru untuk terus melahirkan generasi unggul yang berakhlak, berilmu, dan siap menjaga serta membangun peradaban masa depan, sebagaimana cita-cita besar para pendirinya. (sholihin fanani)
