Perkara Penguat dan Perusak Iman

Perkara Penguat dan Perusak Iman
*) Oleh : Ferry Is Mirza
Wartawan senior & Aktivis Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Hidup ini adalah perjalanan menuju Allah. Dalam perjalanan itu, ada bekal yang menguatkan iman, dan ada pula jebakan yang menghancurkan kehidupan.

Dalam kitab Nashaih al-‘Ibad, para ulama merangkum hikmah yang sangat dalam: ada perkara yang mengangkat derajat manusia, dan ada yang justru menjatuhkannya tanpa ia sadari.

Renungan ini bukan sekadar untuk dibaca, tapi untuk ditanya kepada diri sendiri : di posisi mana kita hari ini ?

Perkara yang Menguatkan Iman;

1. Ilmu

Ilmu bukan sekadar pengetahuan, tapi cahaya yang membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Tanpa ilmu, seseorang bisa merasa benar padahal sedang tersesat.

Ilmu juga yang menumbuhkan rasa takut kepada Allah, karena semakin seseorang mengenal Rabb-nya, semakin ia sadar betapa kecil dirinya.

Allah Wa Ta’ala berfirman:
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-Nya hanyalah ulama.”
(QS. Fathir: 28)

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan jalannya ke surga.”
(HR. Muslim)

Apakah ilmu kita sudah mendekatkan kita kepada Allah, atau justru hanya menambah kesombongan?

2. Amal

Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah. Ia ada, tapi tidak memberi manfaat. Amal adalah bukti keimanan yang nyata.

Bahkan amal kecil yang konsisten lebih dicintai Allah daripada amal besar tapi jarang dilakukan.

Allah Wa Ta’ala berfirman:
“Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh…”
(QS. Al-‘Asr: 3)

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus walaupun sedikit.”. (HR.Bukhari Muslim)

Sudahkah kita mengamalkan apa yang kita ketahui?

3. Ikhlas

Ikhlas adalah rahasia antara hamba dan Allah. Amal yang besar bisa menjadi tidak bernilai jika kehilangan keikhlasan.

Ikhlas juga berat, karena ia menuntut kita untuk tidak mencari pujian manusia, bahkan tidak peduli apakah orang lain melihat atau tidak.

Allah Wa Ta’ala berfirman:
Padahal mereka hanya diperintah untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas…
(QS. Al-Bayyinah: 5)

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya.”
(HR. Bukhari Muslim)

Apakah kita beramal karena Allah, atau karena ingin dilihat manusia?

4. Tawakal

Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, tapi berserah diri setelah maksimal berikhtiar. Hati yang bertawakal tidak mudah gelisah, karena ia yakin Allah adalah sebaik-baik pengatur.

Orang yang bertawakal tidak takut kehilangan, karena ia tahu semua sudah dalam ketetapan Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupkannya.”
(QS. At-Talaq: 3)

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya kalian diberi rezeki seperti burung…
(HR. Tirmidzi)

Apakah kita benar- benar percaya kepada Allah, atau masih bergantung pada selain-Nya?

Perkara yang Membinasakan Manusia:

1. Cinta Dunia Berlebihan

Dunia bukan untuk ditinggalkan, tapi jangan sampai ia menguasai hati. Ketika dunia menjadi tujuan utama, akhirat akan dilupakan.

Cinta dunia membuat seseorang rela melakukan apa saja, bahkan mengorbankan agama.

Allah Wa Ta’ala berfirman:
“Kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau…
(QS. Al-Hadid: 20)

Rasulallah Shallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin…”
(HR. Muslim)

Apakah dunia ada di tangan kita, atau justru sudah masuk ke dalam hati kita?

2. Mengikuti Hawa Nafsu

Hawa nafsu selalu mengajak kepada kesenangan sesaat, tapi melupakan akibat jangka panjang.

Nafsu tidak akan pernah puas. Jika diikuti, ia akan terus menuntut hingga manusia jatuh dalam dosa.

Allah Wa Ta’ala berfirman:
“Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan…”
(QS. Shad: 26)

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
Tidak beriman seseorang hingga hawa nafsunya mengikuti ajaran yang aku bawa.”
(HR. Hakim)

Apakah kita mengendalikan nafsu, atau justru dikendalikan olehnya.

3. Panjang Angan- angan

Terlalu banyak angan membuat manusia menunda taubat, menunda ibadah, dan merasa masih punya banyak waktu.

Padahal kematian bisa datang kapan saja.

Allah Wa Ta’ala berfirman:
“Biarkan mereka dilalaikan oleh angan-angan…”
(QS. Al-Hijr: 3)

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan (kematian).”
(HR. Tirmidzi)

Berapa banyak rencana dunia yang kita susun, tapi lupa mempersiapkan akhirat?

4. Sombong

Kesombongan adalah dosa pertama yang dilakukan makhluk (Iblis). Ia merasa lebih baik, sehingga menolak kebenaran.

Orang sombong sulit menerima nasihat, karena merasa dirinya paling benar.

Allah Wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.”
(QS. An-Nahl: 23)

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda :
Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan…”
(HR. Muslim)

Apakah kita mudah menerima kebenaran, atau justru menolaknya karena ego ?

Hidup ini bukan tentang siapa yang paling kaya, tapi siapa yang paling siap kembali kepada Allah.
Empat perkara menguatkan iman—dan empat lainnya bisa menghancurkan segalanya.

Maka setiap hari adalah pilihan:
menguatkan iman… atau perlahan menghancurkannya.

Ya Allah, terangilah hati kami dengan ilmu-Mu,
hiasilah amal kami dengan keikhlasan,
kuatkan kami dalam bertawakal kepada-Mu.

Jauhkan kami dari cinta dunia yang melalaikan,
hawa nafsu yang menyesatkan,
angan-angan yang menipu,
dan hati yang sombong.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

In syaa Allah bermanfaat.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Search