Rabo Wekasan: Ketika Hadis Palsu Melahirkan Tradisi

REBO WEKASAN: Ketika Hadits Palsu Melahirkan Tradisi
*) Oleh : Moh. Mas’al, S.HI, M.Ag
Kepala SMP AL Fattah Sidoarjo, dan Anggota MTT PDM Kab. Sidoarjo
www.majelistabligh.id -

Perkembangan Tradisi Rebo Wekasan di Indonesia
Dalam penelusuran pakar hadis Dr. Zainuddin MZ, sosok ustadz yang pernah dikontrak negara Saudi Arabiyah selama 5 tahun untuk mengajar di sana, menuturkan bahwa, sebenarnya tradisi Rabu Wekasan bukan tradisi murni masyarakat Indonesia, melainkan masyarakat dunia, tuturnya pula. Pencetus awalnya juga bukan bangsa Indonesia. Itulah sebabnya diskursus tradisi Rabu Wekasan banyak ditemukan dalam berbagai literatur kitab kuning, yang tentunya dengan beberapa istilah yang berbeda.

Perkembangan di Indonesia mempunyai beragam penamaan dan tata cara. Misalnya di Aceh dikenal dengan tradisi Makmegang dan Ratu Abeh. Sedang di Bantul Jawa Tengah dikenal dengan tradisi Rebu Pungkasa. Di Banten dikenal dengan tradisi Dudus, di Banyuwangi dikenal dengan Ritual Petik Laut, Kalimantan Selatan dikenal dengan Ritual Arba Mustamir, sedang di Maluku dikenal Mandi shafar.

Beragam penamaan istilah ini, menurut Zainuddin, mempunyai substansi yang sama yaitu untuk tolak bala’ yang diyakini akan turun dan menyebar di Rabu terakhir di bulan Shafar, yang tentunya model sesuai dengan kearifan lokal masing-masing.  Tradisi atau ritual ini dilakukan untuk tola’ bala’ agar tidak terjadi hal-hal Tatsya’um atau kesialan bahkan yang lebih besar lagi adalah musibah atau bencana.

Jenis dan Cara Tradisi Rebo Wekasan
Ibadah dalam Islam bersumber dari dalil nash-nash Alqur’an maupun hadis Nabi SAW, baik itu kaifiyat, waktu, dan dikerjakan berjama’ah atau sendiri-sendiri. Namun dalam Tradisi Rebo Wekasan ini terdapat banyak amaliyah yang dilaksanakan pada hari tersebut yang mencakup shalat, dzikir, doa, dan tabarruk (ngalap berkah) dengan asma Allah atau ayat-ayat al-Quran yang dikenal dengan ayat Selamat.

Amaliyah tersebut dilakukan sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar terhindar dari segala macam musibah dan cobaan. Diantara amalan yang dianjurkan para ulama’ shaleh yang terdapat dalam kitab-kitab mereka adalah sebagai berikut:

Pertama.
Salat 4 rakaat, dimana setiap satu rakaat sesudah surat Al Fatihah dia membaca Surat Innaa A’thainaakal Kautsar 17 kali, Surat Al Ikhlash 5 kali, Al Mu’awwidzatain (Surat Al Falaq dan Surat Annaas) masing-masing satu kali. Maka Allah Ta’ala dengan kemurahan_Nya menjaga orang tersebut dari semua bala` yang turun pada hari itu, dan satu bala` dari bala` – bala` tersebut tidak mengitarinya sampai akhir tahun. Dan ba’da salam dengan membaca do’a al-Muadham (doa yang Agung) sebagai berikut:
اَللّـٰـهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقُوٰى ، وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَالِ ، يَا عَزِيْزُ ، يَا مَنْ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيْعُ خَلْقِكَ ، اِكْفِـنِيْ مِنْ شَرِّ جَمِيْعِ خَلْقِكَ ، يَا مُحْسِنُ ، يَا مُجَمِّلُ ، يَا مُتَفَضِّلُ ، يَا مُنْعِمُ ، يَا مُتَكَرِّمُ، يَا مَنْ لآَ إِلٰـهَ إِلاَّ أَنْتَ ، اِرْحَمْنِيْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Ya Allah Wahai Yang Maha Kuat kekuatan-Nya, wahai Yang sangat rekadaya-Nya, wahai Yang Maha Perkasa yang mana kepada keperkasaan-Mu tunduklah segala makhluk, cukupkanlah aku dari segala makhluk-Mu, wahai Yang Maha Baik, wahai Yang Maha Memperindah, wahai Yang Maha Memberi karunia, wahai Yang Maha Memberi nikmat, wahai Yang Maha Memulyakan, wahai Yang tiada Tuhan selain Engkau, kasihilah aku dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Kedua.
Membaca Surat Yasin, sebagian orang-orang yang shaleh menuturkan bahwasanya akhir Rabu di dalam bulan Shafar adalah hari nahas yang terus menerus. Dianjurkan agar membaca Surat Yasin pada hari itu. Ketika sampai “سلام قولا من رب رحيم” diulang 313 kali.

Ketiga.
Banyu Jimat, diawali dengan salat sunnah terlebih dahulu, kemudian menulis ayat-ayat berikut, (سلام قولا من رب رحيم),(سلام على نوح في العالمين ),(سلام على إبراهيم ),(سلام على موسى وهارون), (سلام على إلياسين), (سلام عليكم طبتم فادخلوها خالدين), (سلام هي حتى مطلع الفجر)
dan meleburnya (dengan air) kemudian diminum airnya, dan inilah diantara yang mujarrab untuk menolak bala` dan menjaga dari bala’.

Analisis.
Islam mengatur tentang tata keyakinan, mana yang boleh diimani kebenarannya dan mana yang tidak boleh diyakini kebenarannya. Tentu saja termasuk tata keyakinan tentang Rabu terakhir di bulan Shafar. Adanya keyakinan kesialan di bulan Shafar memang sudah menjadi mitos masyarakat jahiliyah. Itulah sebabnya Islam mengatur keyakinan bahwa semua masa adalah baik, bahkan Islam melarang seseorang mencaci masa. Sebagaimana hadis Abu Hurairah ra :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا تَسُبُّوا الدَّهْرَ، فَإِنَّ اللهَ هُوَ الدَّهْرُ»
Diberitakan dari Abu Hurairah ra, dari nabi SAW bersabda; Janganlah kamu mencela masa, karena Allah lah masa itu” (HR. Muslim. no. 2246, Ahmad.no.9126).

Adapun hadis yang telah viral menjelaskan tentang hari Rabu terakhir di bulan shafar merupakan hari naas/kesialan yang berkepanjangan, diriwayatkan oleh sahabat Ibn Abbas ra. :
عن ابن عباس a عن النبي ﷺ قال: آخِرُ أَرْبِعَاءَ فِي الشَّهْرِ، يَوْمُ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ ( رواه وكيع فى الغُرَر ، وابن مردويه فى تفسيره ، والخطيب البغدادي في تاريخـه(
Dikisahkan dari Ibn Abbas ra. Nabi SAW bersabda;” Rabu terakhir di sebulan adalah hari terjadinya Naas/kesialan yang terus menerus” (HR. Waki’ dalam Al-Ghurar, Ibn Mardawaih dalam tafsir, dan Al-Khatib dalam kitabTarikh).

 

Tinggalkan Balasan

Search