Kritik ulama’ hadis atas riwayat di atas, pada sanadnya ada seorang bernama “Maslamah ibn Shalt” ia dinilai Matruk hadisnya, ia juga dikatakan sanad majhul hal, ada pula yang menilai munqati’, sehingga tidak heran jika para ulama’ memasukkan hadits di atas ke dalam katagori hadits maudhu’ (palsu), di antaranya ialah:
1. Ibn al-Jauzy dalam kitab ;“Al-Maudhu’at”
2. Imam As-Syuyuti dalam kitab; “Al-Lali’u Al-Masnu’ah fi Ahaditsi Al-Maudhu’ah”
3. Ahmad Muhammad Shadiq Al-Ghumari dalam kitab;” Al-Mudawa Li’Ilali Al-Jami’us Shaghir wa Sharhi Al-Munawi”
4. Imam Adz-Dzahabi dalam kitab; “Mukhtashar Al-Maudhu’at”.
5. Imam Al-Hafidz Ibn Hajar Al-Asyqalani, berkata: Hadits Mungkar, dalam kitab; “Lisan Al-Mizan”.
6. Imam Al-Hafidz Al-Syakhawi, berkata: semua jalan sanadnya lemah, dalam kitab; “Al-Maqasid Al-Hasanah”
7. Imam Asy-Syaukani, dalam kitab; “ Fawa’id Al-Majmu’ah fi Al-Ahadits Al-Maudhu’ah”
8. Al-Khatib Al-Baghdadi, dalam kitab; “Tarikh Baghdad”
9. DR Bakr Abu Zayd, dalam kitab; “Mu’zam Al-Manahi Al-Lafdziyah”.
Keyakinan yang batil yang berkembang di masa jahiliyah seputar kesialan di hari Rabu terakhir di bulan shafar itu dijawab sekaligus menjadi bantahan dari Nabi SAW sebagai berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ، وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ»
Dikisahkan dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulallah SAW telah bersabda:’ Tidak ada penularan penyakit, tidak ada kesialan karena arah terbang burung, tidak ada kesialan karena burung hantu, tidak ada kesialan karena bulan shafar.”(HR. Bukhari.no.5757, Muslim.no. 2220).
Hadis maudhu’ (palsu) seputar tradisi Rebo Wekasan ini, jelas ajakan kepada umat ini tasya’um (pesimis) dan takhayyul (hayalan), bahkan diantara salah satu dampak buruknya di beberapa negara Islam adalah masyarakatnya pesimis hingga hari ini dan tidak sedikit dari mereka menghindari untuk bepergian, menikah, menjenguk orang sakit, dan segala hal yang mengharapkan kebaikan.
Ini adalah perkara dan keyakinan yang batil karena tidak ada kesialan dan keburukan pada hari-hari tersebut. Semuanya itu hanya di tangan Allah SWT. Sebaliknya Islam mengajarkan kepada umat ini keyakinan hidup optimis bukan pesimis, tentunya dengan tetap beriikhtiyar, berdo’a untuk menggapai kesuksesan dan bertawakkal kepada Allah serta meyakini bahwa itu menjadi ketetapan yang terbaik.
Dasar tradisi Rebo Wekasan adalah berasal dari ilham/Isyarat para masyayikh ahli Kasyf (Para sufi yang telah melihat kebenaran dunia spiritual dengan cahaya yang Tuhan berikan ke dalam hati mereka) wa Tamkin ( kemampuan diri) atau lebih dikenal dengan istilah ulama’ ahli Arifin (cerdik pandai) lebih tepatnya disebut ulama’ sufi. Dasar ibadah mereka dengan melalui ilham (inspirasi, wahyu atau sugesti) termasuk tradisi Rebo Wekasan adalah didasarkan pada ilham atau inspirasi ulama’ sufi, yang akhirnya membudaya di kalangan jahiliyah.
Sahabat Umar Ibn Khattab ra mengingatkan kepada kita tentang bahayanya jika tidak mengetahui perkara-perkara jahiliyah, sebagai berikut :
قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ a إنَّمَا تُنْقَضُ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً إذَا نَشَأَ فِي الْإِسْلَامِ مَنْ لَمْ يَعْرِفْ الْجَاهِلِيَّةَ
“Sesungguhnya ikatan Islam hanyalah terurai satu per satu apabila di dalam Islam tumbuh orang yang tidak mengetahui perkara jahiliyah.”
Kesimpulan
Dalam melakukan ritual keagamaan tentunya harus bertumpu pada kerangka hukum yang layak dijadikan hujjah, baik tersurat maupun tersirat, baik mantuq maupun mafhumnya, agar kegiatan ritual tersebut sesuai dengan pedoman Islam.
Betapa ruginya seseorang yang berjuang untuk keta’atan namun tidak mendapatkan Ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.
