Rencana Normatif dan Takdir Allah: Ketika Hidup Tidak Pernah Patuh pada Skenario Manusia

Rencana Normatif dan Takdir Allah: Ketika Hidup Tidak Pernah Patuh pada Skenario Manusia
*) Oleh : Ruli Alqodri Mustafa
Kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics and Social Studies – Cilegon, Banten.
www.majelistabligh.id -

Lebih menarik lagi ketika manusia berbicara tentang tiga wilayah yang hampir semua orang akui sebagai rahasia Allah, yaitu jodoh, rezeki, dan maut. Anehnya, meskipun semua orang mengakui bahwa ketiganya adalah takdir Allah, tetap saja banyak yang bersikap seolah-olah semuanya dapat dipastikan melalui rumus manusia. Padahal, jika manusia benar-benar mampu merancang semuanya secara presisi, tentu tidak akan ada orang yang gagal menikah, tidak ada yang bangkrut, dan tidak ada yang meninggal secara tiba-tiba. Faktanya tidak demikian. Takdir selalu menyisakan misteri, bukan karena Allah ingin membingungkan manusia, melainkan karena manusia memang bukan Tuhan.

Di sinilah letak keindahan iman. Islam tidak melarang manusia membuat rencana. Bahkan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam mengajarkan ikhtiar yang maksimal. Namun setelah seluruh ikhtiar dilakukan, seorang mukmin diperintahkan menerima bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan Allah. Ini bukan berarti pasrah tanpa usaha, bukan pula menolak pentingnya perencanaan. Yang ditolak adalah kesombongan halus yang menganggap bahwa rencana manusia pasti identik dengan kehendak Allah.

Sering kali Allah justru mendidik manusia melalui jalan yang sama sekali tidak pernah masuk ke dalam perencanaannya. Ada yang gagal diterima di tempat kerja impiannya, tetapi kemudian menemukan pekerjaan yang jauh lebih baik. Ada yang batal menikah dengan orang yang sangat dicintainya, namun bertahun-tahun kemudian baru menyadari bahwa kegagalan itu adalah bentuk kasih sayang Allah. Ada pula yang kehilangan hampir seluruh hartanya, tetapi justru menemukan ketenangan batin yang selama ini tidak pernah dimiliki.

“Takdir selalu menyisakan misteri. Bukan karena Allah ingin membingungkan manusia, tetapi karena manusia memang bukan Tuhan.”

Takdir kematian adalah contoh paling nyata tentang keterbatasan manusia dalam memahami kehidupan. Tidak seorang pun mengetahui dengan pasti kapan waktunya tiba, di mana tempatnya, dan dengan cara apa Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memanggilnya pulang. Ada orang yang masih muda, sehat, dan penuh semangat, tetapi meninggal ketika pesawat yang ditumpanginya meledak di udara. Ada yang wafat karena kecelakaan lalu lintas saat berangkat bekerja seperti hari-hari sebelumnya. Ada yang meninggal karena kebakaran, tenggelam, atau sebab-sebab lain yang sama sekali tidak pernah terbayangkan. Sebaliknya, ada pula yang berkali-kali lolos dari maut dalam berbagai musibah dan tetap bertahan hidup hingga usia yang sangat lanjut meskipun kondisi fisiknya telah renta.

Fenomena-fenomena tersebut mengingatkan bahwa kehidupan tidak dapat dijelaskan dengan logika yang serba linier. Hidup ini tidak bisa diukur memakai “meteran baju”, seolah-olah ada satu ukuran yang pasti berlaku bagi semua orang. Setiap manusia memiliki jalan hidup, ujian, dan garis takdirnya masing-masing. Karena itu, sikap yang paling bijaksana bukanlah merasa paling tahu tentang apa yang akan terjadi, melainkan tetap berikhtiar sebaik-baiknya seraya merendahkan hati di hadapan ketetapan Allah.

Pada akhirnya, rencana normatif tetaplah penting. Ia adalah kompas, bukan peta yang menjamin setiap perjalanan akan berjalan sesuai harapan. Kita tetap wajib belajar, bekerja, menabung, menjaga kesehatan, mencintai keluarga, dan menyusun masa depan dengan sebaik-baiknya. Namun, semua itu harus disertai kesadaran bahwa ada satu kehendak yang berada di atas seluruh rencana manusia.

Mungkin itulah makna terdalam dari tawakal. Kita bekerja seolah-olah keberhasilan bergantung pada usaha kita, tetapi kita berserah diri sepenuhnya karena sadar bahwa hasil akhirnya bergantung pada keputusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebab hidup ini bukan naskah yang ditulis manusia. Hidup adalah kisah yang sedang ditulis oleh Allah, dan tidak ada Penulis yang lebih mengetahui akhir cerita selain Dia. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search