Di sebagian kalangan masyarakat nusantara, terdapat sebuah anggapan atau mitos yang diwariskan secara turun-temurun mengenai bulan Muharram, atau yang lebih dikenal dengan sebutan bulan Sura (Asyura). Sebagian orang menganggap bulan ini sebagai bulan yang keramat, wingit, bahkan pembawa sial. Akibatnya, muncul berbagai larangan adat yang tidak berdasar, seperti larangan mengadakan pernikahan, membangun rumah, hingga memulai usaha di bulan ini karena dikhawatirkan akan mendatangkan malapetaka atau kegagalan.
Pandangan ini tentu menciptakan rasa takut yang tidak beralasan di tengah umat dan berpotensi mengotori kesucian akidah Islam. Lantas, bagaimanakah Islam memandang bulan Muharram dan hari Asyura yang sebenarnya? Apakah benar ia merupakan bulan kesialan, ataukah justru sebaliknya—sebuah bulan yang penuh berkah dan kemuliaan?
Allah SWT sendiri menetapkan bulan Muharram sebagai salah satu dari empat bulan yang sangat suci dan mulia di sisi-Nya. Bulan ini disebut sebagai syarullah (bulan Allah) di mana bulan ini mendatangkan kemenangan dan keberuntungan bagi orang-orang saleh. Karenanya, bulan ini jauh dari kesialan atau kegagalan.
Dalam Al-Qur’an Allah SWT menegaskan posisi bulan-bulan haram ini:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu…” (QS. At-Taubah: 36)
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan empat bulan haram tersebut adalah Dzulkadah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Di bulan-bulan ini, Allah melarang keras manusia untuk berbuat zalim dan maksiat karena dosanya akan dilipatgandakan. Sebaliknya, amal saleh yang dilakukan di bulan ini juga memiliki nilai pahala yang sangat besar.
Disadari atau tidak, menganggap bulan yang dimuliakan oleh Allah sebagai “bulan sial” adalah bentuk kezaliman terhadap diri sendiri dan penentangan terhadap ketetapan-Nya. Hari`Asyura atau tanggal 10 Muharram, bukanlah hari yang dipenuhi kutukan, melainkan hari kemenangan dan rasa syukur. Pada hari inilah Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa As. dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun.
Hal ini termaktub dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari Ibnu Abbas ra.: “Ketika Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya, ‘Hari apa ini?’ Mereka menjawab, ‘Ini adalah hari yang baik. Pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa pun berpuasa pada hari ini.’ Maka Rasulullah bersabda, ‘Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.’ Lalu beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis di atas secara tegas menyebutkan bahwa Asyura adalah hari yang baik. Sungguh ironis jika hari yang disebut baik oleh Rasulullah SAW justru dianggap sebagai hari sial oleh sebagian kaum muslimin karena terpengaruh mitos dan budaya lokal.
Selain itu, Rasulullah SAW juga menegaskan keutamaan berpuasa di bulan Muharram secara umum, dan hari Asyura secara khusus, melalui sabdanya:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ
Artinya: “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadan adalah puasa di bulan Allah, Muharram.” (HR. Muslim)
Mengenai pahala khusus puasa Asyura atau 10 Muharram, beliau bersabda:
صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
Artinya: “Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar ia dapat menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)
Kita patut berpikir, bagaimana mungkin sebuah bulan yang menawarkan pengampunan dosa setahun penuh dan dipuji sebagai bulan puasa terbaik setelah Ramadan, divonis sebagai bulan kesialan?
Mengapa muncul mitos bulan sial? Jika ditelisik lebih jauh dari sudut pandang sejarah Islam dan budaya, setidaknya ada dua faktor utama mengapa bulan Muharram kerap diasosiasikan dengan kesedihan atau kesialan.
Pertama, adanya Tragedi Karbala. Pada tanggal 10 Muharram tahun 61 H., terjadi tragedi memilukan di mana cucu tercinta Rasulullah SAW, Sayyidina Husein bin Ali Radhiyallahu ‘anhuma, gugur syahid di Karbala. Sebagian kelompok mengekspresikan duka cita ini secara berlebihan (ratapan) dari tahun ke tahun, sehingga memunculkan aura bahwa bulan ini adalah bulan berkabung dan duka. Namun, dalam akidah Ahlussunnah wal Jamaah, kematian seorang wali Allah tidak boleh dijadikan alasan untuk menganggap suatu hari atau bulan menjadi sial.
Kedua, sinkretisme budaya lokal. Di Indonesia, khususnya dalam tradisi Jawa, bulan Sura dianggap sakral. Pada masa lalu, para penguasa sering kali menyarankan rakyatnya untuk prihatin, menahan diri, dan melakukan refleksi spiritual (seperti tapa bisu atau menguras pusaka). Seiring berjalannya waktu, imbauan untuk “prihatin dan mawas diri” ini disalahpahami oleh masyarakat awam sebagai larangan ketat untuk mengadakan hajatan karena takut akan kutukan atau kesialan (apes).
Menganggap suatu waktu, tempat, hewan, atau angka tertentu sebagai pembawa sial tanpa dalil syar’i disebut dengan istilah thathayyur atau tiyarah. Dalam akidah Islam, mempercayai hal semacam ini termasuk perbuatan syirik ashghar (syirik kecil) yang dapat merusak tauhid seseorang.
Rasulullah SAW bersabda dengan tegas:
الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، ثَلَاثًا
Artinya: “Tiyarah (merasa sial karena sesuatu) adalah syirik, tiyarah adalah syirik (beliau mengucapkannya tiga kali).” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi 1614)
Dalam hadis lain, beliau juga bersabda:
مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ، فَقَدْ أَشْرَكَ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ؟ قَالَ: أَنْ يَقُولَ أَحَدُهُمْ: اللَّهُمَّ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ، وَلَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ
Artinya: “Barangsiapa yang mengurungkan hajatnya (keperluannya) karena tiyarah (merasa sial), maka dia telah berbuat syirik.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa kafarat (penebus) dari hal itu?” Beliau menjawab, “Hendaknya ia berdoa: ‘Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan-Mu, tidak ada kesialan kecuali kesialan yang Engkau takdirkan, dan tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau’.” (HR. Ahmad).
Islam mengajarkan bahwa segala manfaat, mudarat, rezeki, jodoh, dan kematian berada sepenuhnya di tangan Allah SWT. Tidak ada satu pun bulan atau hari yang memiliki kekuatan mandiri untuk mendatangkan sial atau untung.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa bulan Muharram dan hari Asyura bukanlah bulan sial, bulan angker, atau waktu yang harus dihindari untuk melakukan kebaikan seperti pernikahan atau berniaga. Namun sebaliknya, Muharram adalah Syarullah (bulan Allah) yang penuh kemuliaan, keberkahan, dan peluang amal saleh yang sangat besar.
Oleh karenanya, sebagai muslim yang lurus akidahnya, sudah sepatutnya kita membersihkan hati dan pikiran dari sisa-sisa mitos jahiliyah dan takhayul. Mari kita isi bulan Muharram ini dengan memperbanyak puasa sunnah, menyantuni anak yatim, meningkatkan ketakwaan, serta membuang jauh-jauh rasa takut akan kesialan waktu, karena sejatinya seluruh waktu adalah milik Allah, dan kesialan yang hakiki adalah ketika seorang hamba jauh dari ketaatan kepada-Nya. (*)
