D. Keahlian harus didasarkan pada pengetahuan
Allah SWT berfirman: وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. Al-Isra’ [17]: 36). Ayat ini mengandung prinsip epistemologis yang sangat penting: manusia tidak boleh berbicara, mengambil keputusan, atau melakukan tindakan tanpa dasar pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam kehidupan profesional, prinsip ini relevan untuk mencegah seseorang mengambil pekerjaan di luar batas kemampuan dan kewenangannya, terlebih apabila tindakan tersebut berpotensi merugikan orang lain.
E. Menyerahkan pekerjaan kepada yang bukan ahlinya merupakan ancaman
Rasulullah SAW bersabda: إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ “Apabila suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” (HR. Bukhari, no. 59).
Hadis ini memberikan peringatan bahwa penempatan seseorang dalam suatu tanggung jawab harus mempertimbangkan kelayakan dan keahliannya. Namun, konsep ahl atau orang yang ahli tidak boleh dimaknai secara sempit hanya berdasarkan kepemilikan ijazah. Sebaliknya, kompetensi juga tidak boleh hanya didasarkan pada pengakuan pribadi. Keduanya harus dibuktikan melalui mekanisme yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pesan utamanya adalah: Islam tidak mengajarkan formalisme ijazah, tetapi juga tidak membenarkan pengabaian ilmu dan kualifikasi. Islam menuntut keahlian yang disertai amanah.
7. Mengapa Kompetensi Tanpa Fondasi Keilmuan Dapat Berbahaya?
Bagian ini perlu mendapat perhatian khusus karena tidak semua pekerjaan memiliki tingkat risiko yang sama. Ada pekerjaan yang memungkinkan seseorang belajar secara mandiri, mengembangkan keterampilan melalui pengalaman, dan menunjukkan kemampuannya melalui portofolio.
Namun, ada pekerjaan yang menyangkut keselamatan, kesehatan, hak, dan kehidupan orang lain sehingga membutuhkan pendidikan khusus, kualifikasi, sertifikasi, serta pengawasan profesional.
Perhatikan beberapa ilustrasi berikut.
Bidang Kompetensi Yang Dibutuhkan Pentingnya Kualifikasi
Kedokteran Diagnosis dan tindakan medis Pendidikan dan izin praktik sesuai ketentuan
Hukum Analisis dan penerapan hukum Kualifikasi sesuai profesi hukum
Teknik sipil Perencanaan dan keamanan konstruksi Pendidikan, standar, dan sertifikasi yang relevan
Pendidikan Penguasaan materi dan pedagogi Kualifikasi pendidik sesuai ketentuan
Teknologi informasi Pemrograman dan keamanan sistem Kompetensi teknis dan pembuktian keahlian
Kewirausahaan Manajemen dan inovasi Pengalaman, kompetensi, dan integritas
Contoh tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan ijazah, sertifikat profesi, dan kompetensi harus disesuaikan dengan karakteristik pekerjaan. Seorang programmer, misalnya, dapat membuktikan kemampuan melalui portofolio dan hasil pengembangan sistem. Sebaliknya, seseorang tidak dapat begitu saja mengklaim berkompeten melakukan tindakan medis hanya karena memiliki pengalaman mengamati praktik kedokteran.
Perbedaan ini penting agar masyarakat tidak terjebak dalam generalisasi bahwa semua bidang pekerjaan memiliki persyaratan yang sama.
8. Dampak terhadap Masa Depan Generasi Muda
Mengapa persoalan ini harus menjadi perhatian orang tua, pendidik, lembaga pendidikan, dan pemangku kebijakan? Karena narasi yang berkembang hari ini dapat memengaruhi orientasi pendidikan generasi berikutnya.
A. Degradasi budaya akademik
Budaya akademik dibangun melalui tradisi membaca, meneliti, berdiskusi, menguji teori, menyusun argumentasi, dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Jika proses tersebut dipandang tidak penting dibandingkan keterampilan praktis jangka pendek, generasi muda berisiko kehilangan penghargaan terhadap kedalaman ilmu.
B. Menurunnya motivasi untuk mengembangkan pengetahuan
Generasi muda dapat terpengaruh oleh anggapan bahwa belajar bertahun-tahun tidak diperlukan karena keterampilan praktis dapat diperoleh melalui pelatihan singkat. Padahal, kemampuan tingkat tinggi membutuhkan fondasi pengetahuan, latihan berkelanjutan, dan proses pembelajaran yang sistematis.
C. Munculnya budaya instan dan pragmatis
Pendidikan berisiko dipandang hanya sebagai alat memperoleh pekerjaan atau penghasilan. Akibatnya, aspek pembentukan karakter, wawasan kebangsaan, etika, tanggung jawab sosial, dan kematangan intelektual dapat terabaikan.
D. Melemahnya penghargaan terhadap profesi dan keahlian
Setiap profesi memiliki standar keilmuan dan etika yang harus dihormati. Mengabaikan kualifikasi yang dipersyaratkan dapat membuka ruang bagi praktik yang tidak memenuhi standar keselamatan dan pertanggungjawaban.
E. Terhambatnya pembangunan peradaban ilmu
Bangsa yang maju tidak cukup hanya memiliki tenaga kerja yang terampil. Bangsa juga membutuhkan ilmuwan, peneliti, akademisi, pendidik, insinyur, dokter, ahli hukum, dan pemikir yang mampu menghasilkan pengetahuan baru. Semua itu membutuhkan ekosistem pendidikan dan penelitian yang kuat.
Dengan demikian, pendidikan formal tidak boleh dipersempit hanya sebagai jalur mendapatkan pekerjaan, tetapi harus dipahami sebagai bagian dari strategi pembangunan peradaban.
9. Membangun Paradigma Integratif: Ijazah, Kompetensi, Pengalaman, dan Integritas
Sebagai jalan keluar dari perdebatan tersebut, diperlukan paradigma pendidikan yang tidak mempertentangkan keempat unsur berikut.
