Ijazah Tidak Penting, Kompetensi Yang Penting?

Ijazah Tidak Penting, Kompetensi Yang Penting?
*) Oleh : Dr. Risman Muchtar, M.Si
Wakil Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Empat pilar kualitas sumber daya manusia
1) KUALIFIKASI AKADEMIK
Pendidikan formal, penguasaan ilmu, metodologi berpikir, dan landasan teoritis.

2) KOMPETENSI
Kemampuan menerapkan ilmu, keterampilan teknis, pemecahan masalah, dan produktivitas.
3) PENGALAMAN
Pembelajaran praktik, kematangan profesional, adaptasi, dan pembuktian hasil kerja.
4) INTEGRITAS
Kejujuran, amanah, disiplin, etika, dan tanggung jawab sosial.

PROFESIONALISME
Ilmu yang dikuasai, kompetensi yang terbukti, pengalaman yang matang, dan integritas yang terjaga. Paradigma tersebut mengandung beberapa implikasi:

Pertama, lembaga pendidikan harus meningkatkan mutu pembelajaran, bukan sekadar menghasilkan lulusan dan ijazah.

Kedua, dunia kerja harus memberikan ruang bagi pembuktian kompetensi melalui uji kemampuan, portofolio, pengalaman, dan sertifikasi yang relevan.

Ketiga, pemerintah harus memperkuat sistem pengakuan pembelajaran sepanjang hayat, termasuk kompetensi yang diperoleh melalui jalur nonformal dan informal.

Keempat, masyarakat harus menghargai pendidikan formal sekaligus memberikan kesempatan yang adil kepada orang-orang yang memiliki kompetensi melalui jalur lain.

UNESCO sendiri mengakui pentingnya pengakuan terhadap prior learning, yaitu pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh melalui pendidikan formal, nonformal, maupun informal, sepanjang dinilai berdasarkan standar dan capaian pembelajaran tertentu (UNESCO, Global Convention on the Recognition of Qualifications concerning Higher Education).

Dengan demikian, sistem pendidikan yang ideal bukan sistem yang memonopoli pengakuan kemampuan melalui ijazah, tetapi juga bukan sistem yang mengabaikan standar akademik dan profesional.

10. Rekomendasi Strategis: Membangun Budaya Pendidikan yang Sehat
Untuk menghadapi perkembangan narasi tersebut, diperlukan langkah strategis yang melibatkan keluarga, lembaga pendidikan, masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah.

A. Bagi keluarga dan orang tua
Orang tua perlu menanamkan kesadaran bahwa pendidikan merupakan investasi masa depan, bukan sekadar kewajiban administratif untuk mendapatkan ijazah. Jangan sampai anak-anak tumbuh dengan pemahaman bahwa sekolah dan perguruan tinggi tidak penting karena kesuksesan dapat diperoleh tanpa pendidikan formal.
Namun, orang tua juga tidak boleh menjadikan gelar akademik sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan anak.

B. Bagi lembaga pendidikan
Sekolah dan perguruan tinggi harus melakukan pembenahan secara serius. Pendidikan harus menghasilkan lulusan yang:
• Menguasai ilmu pengetahuan.
• Memiliki kemampuan berpikir kritis dan sistematis.
• Mampu menerapkan ilmu dalam kehidupan nyata.
• Memiliki keterampilan sesuai bidang keahlian.
• Memiliki etika, karakter, dan integritas.
• Mampu belajar dan beradaptasi sepanjang hayat.
Dengan demikian, ijazah merupakan pengakuan atas proses pendidikan yang bermutu, bukan tujuan akhir pendidikan.

C. Bagi dunia usaha dan dunia industri
Dunia usaha harus mengembangkan sistem rekrutmen yang proporsional. Jangan hanya terpaku pada ijazah apabila pekerjaan tersebut memungkinkan kompetensi dibuktikan melalui mekanisme lain. Namun, jangan pula mengabaikan kualifikasi akademik dan sertifikasi profesi yang memang diwajibkan oleh standar pekerjaan dan peraturan perundang-undangan.

D. Bagi pemerintah
Pemerintah perlu memperkuat sinergi antara pendidikan formal, pendidikan vokasi, pelatihan kerja, sertifikasi kompetensi, dan kebutuhan pembangunan nasional. Pemerintah juga perlu memastikan bahwa pengakuan terhadap pembelajaran nonformal dan informal memiliki standar penilaian yang kredibel.

E. Bagi generasi muda
Generasi muda harus memiliki orientasi pendidikan yang lebih luas. Jangan hanya mengejar ijazah, tetapi jangan pula meremehkannya. Jangan hanya mengejar keterampilan, tetapi jangan mengabaikan ilmu pengetahuan.
Jangan hanya mengejar kesuksesan ekonomi, tetapi jangan meninggalkan integritas dan tanggung jawab moral. Jadilah generasi yang berilmu, terampil, berkarakter, berintegritas, dan terus belajar.

 

Tinggalkan Balasan

Search