Penutup: Jabatan Dicari atau Amanah yang Datang?
Kisah terpilihnya K.H. Mas Mansur dalam Kongres Muhammadiyah ke-26 tahun 1937 merupakan salah satu episode penting dalam sejarah kepemimpinan Muhammadiyah. Ia tidak menunjukkan pola bahwa seseorang harus mengejar jabatan untuk membuktikan dirinya berguna.
Sebaliknya, sejarah memperlihatkan pola yang berbeda: berkhidmat terlebih dahulu, membangun kompetensi, menjaga akhlak, mendapatkan kepercayaan, kemudian menerima amanah ketika diperlukan.
Begitu pula generasi tua. Mereka tidak mempertahankan jabatan dengan segala cara. Ketika organisasi membutuhkan regenerasi, mereka memberikan ruang. Dan ketika generasi baru datang, mereka tidak diperlakukan sebagai musuh. Inilah salah satu rahasia mengapa pergantian kepemimpinan pada Kongres 1937 tidak menghancurkan Muhammadiyah. Sebaliknya, organisasi terus berkembang.
Kiai Mas Mansur kemudian dikenal sebagai salah satu pemimpin penting Muhammadiyah. Di bawah kepemimpinannya, Muhammadiyah terus berkembang dalam dakwah, pendidikan, kaderisasi dan pergerakan kebangsaan. Muhammadiyah mencatat bahwa ia juga berperan dalam pembentukan Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) dan kemudian menjadi salah satu tokoh nasional dalam masa pendudukan Jepang. (Muhammadiyah Resmi)
Karena itu, warisan terbesar Kongres 1937 bukan hanya siapa yang menjadi Ketua Pengurus Besar, tetapi bagaimana kepemimpinan itu lahir. Barangkali inilah pesan terpenting yang dapat kita ambil: Pemimpin sejati tidak menjadikan jabatan sebagai jalan untuk memperoleh kemuliaan. Ia menjadikan amanah sebagai jalan untuk memberikan kemanfaatan.
Dan dalam tradisi Muhammadiyah, prinsip tersebut sejalan dengan semangat amal saleh: hidup bukan untuk mencari posisi dalam Persyarikatan, tetapi menghidupkan Persyarikatan sebagai sarana beribadah dan berkhidmat kepada Allah, umat, bangsa dan kemanusiaan. (*)
Daftar Pustaka
• Al-Bukhari, Muhammad ibn Ismail. Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir.
• Al-Nawawi, Yahya ibn Syaraf. Syarh Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi.
• Basyir, Ahmad Azhar. 1993. Refleksi atas Persoalan Keislaman: Seputar Filsafat, Hukum, Politik, dan Ekonomi. Bandung: Mizan.
• Darul Aqsha. 2005. Kiai Haji Mas Mansur (1896–1946): Perjuangan dan Pemikiran. Jakarta: Erlangga.
• Hadikusuma, Djarnawi. Matahari-Matahari Muhammadiyah. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
• Mu’arif. 2021. “Kaum Muda dan Dinamika Muhammadiyah: Catatan Kongres 1937.” Suara Muhammadiyah. (Suara Muhammadiyah)
• Muhammadiyah. 2021. “KH. Mas Mansoer, Pahlawan Nasional dari Muhammadiyah.” Muhammadiyah.or.id. (Muhammadiyah)
• Muhammadiyah. 2022. “Lengkap, Inilah Daftar Muktamar Muhammadiyah dari Masa ke Masa (1912–2022).” Muhammadiyah.or.id. (Muhammadiyah)
• Pimpinan Pusat Muhammadiyah. 1938. Boeah Congres 26 Terlengkap dari Poetoesan Moehammadijah, ‘Aisjijah dan Pemoeda serta Madjlis Tanwir dan Madjlis Tardjih. Yogyakarta: Pimpinan Pusat Muhammadiyah. (Khazanah Muhammadiyah)
• Rosyadi, Imron. 2010. “Pola Penetapan Fatwa Menurut Majlis Tarjih Muhammadiyah.” Tajdida, 8(2).
• Soebagijo, I.N. K.H. Mas Mansur: Pembaharu Islam di Indonesia.
