Betapa indahnya hubungan itu.
Seorang ulama tidak kehilangan kehormatannya hanya karena berbeda organisasi dengan ulama lainnya.
Bahkan terdapat titik temu lain yang menarik. Sejumlah sumber mencatat bahwa kedua tokoh tersebut memiliki hubungan nasab yang dikaitkan dengan jaringan keturunan ulama dan Wali Songo. KH Ahmad Dahlan dikaitkan dengan Sunan Gresik, sementara KH Hasyim Asy’ari memiliki jalur kekerabatan yang dikaitkan dengan Sunan Giri. Terlepas dari rincian penelitian nasab yang tentu memiliki kajian tersendiri, yang jelas keduanya sama-sama mewarisi tradisi dakwah Islam Nusantara.
Murid Hasyim Asy’ari, Pemimpin Muhammadiyah
Salah satu kisah yang sangat menarik adalah perjalanan KH Mas Mansur.
Beliau pernah belajar kepada KH Hasyim Asy’ari, tetapi kemudian berguru pula kepada KH Ahmad Dahlan. Bahkan, Kiai Mas Mansur kemudian menjadi salah satu tokoh penting Muhammadiyah dan dipercaya menjadi Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah.
Kisah ini menunjukkan bahwa hubungan keilmuan tidak selalu dapat dipagari oleh batas-batas organisasi.
Seorang santri dapat mengambil ilmu dari seorang kiai, kemudian memperluas wawasan kepada kiai lainnya. Yang dicari adalah ilmu dan kebenaran, bukan sekadar identitas kelompok.
Maka, jika pada masa lalu seorang murid KH Hasyim Asy’ari dapat menjadi pemimpin Muhammadiyah, mengapa hari ini kita justru harus sibuk mempertentangkan anak-anak kita hanya karena mereka belajar di sekolah, perguruan tinggi, atau lembaga yang berbeda?
Tradisi Ukhuwah yang Terus Berlanjut
Romantisme persahabatan Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari bukan sekadar cerita masa lalu. Tradisi tersebut juga diwariskan oleh generasi berikutnya.
Kita mengenal sosok KH Hasyim Muzadi yang dikenal luas sebagai tokoh NU yang memiliki hubungan persahabatan erat dengan para tokoh Muhammadiyah. Dalam berbagai kesempatan, beliau mendorong Muhammadiyah dan NU untuk bersama-sama menghadapi persoalan umat dan bangsa.
KH Hasyim Muzadi dikenal sebagai sosok yang hangat, bersahabat, dan mampu menjadi perekat ukhuwah. Hubungannya dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah seperti Buya Ahmad Syafii Maarif dan Din Syamsuddin menunjukkan bahwa perbedaan organisasi tidak menjadi penghalang untuk membangun persaudaraan dan kerja sama.
Tradisi semacam ini harus terus dirawat oleh generasi sekarang.
Dalam Kehidupan Nyata, Kita Saling Melengkapi
Hari ini, kita sebenarnya menemukan begitu banyak contoh bahwa Muhammadiyah dan NU hidup berdampingan dan saling melengkapi.
Perguruan tinggi dan sekolah Muhammadiyah menerima peserta didik dari berbagai latar belakang, termasuk keluarga NU. Amal Usaha Muhammadiyah juga menjadi ruang pengabdian bagi banyak orang dengan latar belakang keagamaan yang beragam.
Demikian pula dalam bidang sosial. Rumah sakit, sekolah, perguruan tinggi, panti asuhan, layanan sosial, dan berbagai fasilitas kemasyarakatan yang dikembangkan Muhammadiyah pada dasarnya hadir untuk melayani masyarakat luas. Dalam praktik pentasyarufan zakat dan kegiatan sosial pun semangat utamanya adalah membantu mereka yang membutuhkan, bukan terlebih dahulu bertanya: “Anda Muhammadiyah atau NU?”
Begitu pula warga NU dengan pesantren, madrasah, lembaga pendidikan, rumah sakit, dan berbagai aktivitas sosialnya yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
Inilah wajah Islam yang sesungguhnya kita harapkan: berbeda dalam khazanah, tetapi bersatu dalam kemanusiaan dan kemaslahatan.
Jangan Wariskan Perdebatan, Wariskan Keteladanan
Karena itu, sudah saatnya kita membaca kembali sejarah persahabatan KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari bukan sekadar sebagai cerita nostalgia.
