Kita harus menjadikannya sebagai teladan.
Para mubaligh Muhammadiyah maupun NU memiliki tanggung jawab besar untuk memberikan pemahaman agama secara utuh kepada jamaahnya. Jangan sampai perbedaan fikih berubah menjadi kebencian. Jangan sampai perbedaan tradisi berubah menjadi permusuhan. Jangan sampai perbedaan organisasi membuat kita lupa bahwa kita semua masih berada dalam satu kalimat tauhid.
Mubaligh seharusnya menjadi pencerah, bukan provokator; perekat, bukan pemecah; pendidik, bukan penghasut.
Kalau ada perbedaan, sampaikan dengan ilmu. Kalau ada persoalan, selesaikan dengan tabayun. Kalau ada kekeliruan, nasihati dengan kasih sayang. Kalau ada program kebaikan, mari kita dukung bersama.
Sebab umat terlalu besar untuk dihabiskan energinya hanya untuk mempertentangkan perbedaan-perbedaan kecil.
Bukankah Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari telah memberikan teladan?
Mereka pernah satu guru. Pernah satu kamar. Pernah makan bersama. Pernah menuntut ilmu di tempat yang sama. Saling mengenal, saling menghormati, bahkan saling mengagumi. Setelah dewasa, mereka memilih jalan dakwah yang tidak sepenuhnya sama. Namun perbedaan itu tidak menghapus persaudaraan.
Inilah romantisme yang harus kita hidupkan kembali
Bukan romantisme masa lalu semata, tetapi romantisme ukhuwah yang relevan untuk masa kini.
Mari berbeda dengan dewasa. Mari berdakwah dengan ilmu. Mari berorganisasi tanpa kehilangan persaudaraan. Mari saling melengkapi, bukan saling meniadakan.
Karena pada akhirnya, Muhammadiyah dan NU bukan dua umat yang berbeda. Keduanya adalah bagian dari umat Islam Indonesia yang sama-sama memiliki tugas besar: mencerdaskan kehidupan bangsa, menjaga persatuan, dan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi semesta.
Jika para pendiri mampu bersahabat dalam perbedaan, maka sudah semestinya kita sebagai generasi penerus mampu melakukan hal yang sama.
Berbeda jalan dakwah, satu iman. Berbeda tradisi, satu persaudaraan. Berbeda organisasi, satu cita-cita: kemaslahatan umat dan kemajuan bangsa. (*)
