Mentalitas Merdeka di Negara Terjajah dan Mentalitas Terjajah di Negara Merdeka

Mentalitas Merdeka di Negara Terjajah dan Mentalitas Terjajah di Negara Merdeka
*) Oleh : Dr. Risman Muchtar, M.Si
Wakil Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah.
www.majelistabligh.id -

Demikian pula para tokoh pergerakan nasional seperti Haji Oemar Said Tjokroaminoto, Ki Hajar Dewantara, dan Mohammad Hatta menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan pada dasarnya adalah perjuangan membangun manusia yang memiliki kesadaran sebagai bangsa.

Mentalitas merdeka setidaknya memiliki beberapa ciri:
1. Memiliki harga diri sebagai manusia dan bangsa.
2. Berani berpikir kritis dan tidak mudah didikte.
3. Memiliki keyakinan terhadap kemampuan sendiri.
4. Berani melawan ketidakadilan.
5. Mengutamakan kepentingan bangsa dan masyarakat.
6. Memiliki kemandirian ekonomi dan intelektual.
7. Tidak kehilangan identitas dan jati diri.

Mentalitas seperti inilah yang memungkinkan sebuah bangsa yang secara fisik masih terjajah untuk pada akhirnya memperoleh kemerdekaan politik.

3. Mentalitas Terjajah di Negara Merdeka
Persoalan yang lebih rumit justru muncul ketika sebuah bangsa telah merdeka tetapi sebagian masyarakatnya masih memiliki mentalitas terjajah. Mentalitas terjajah tidak selalu terlihat dalam bentuk tunduk kepada penjajah secara langsung. Ia dapat hadir dalam bentuk yang lebih halus: ketergantungan, inferioritas, kehilangan kepercayaan diri, konsumerisme, imitasi budaya, serta ketidakmampuan menentukan agenda pembangunan sendiri.

Frantz Fanon dalam The Wretched of the Earth menjelaskan bahwa kolonialisme tidak hanya menguasai wilayah dan sumber daya, tetapi juga dapat memengaruhi kesadaran manusia yang dijajah (Fanon, 1963). Karena itu, setelah penjajahan formal berakhir, problem pembebasan mental tetap menjadi pekerjaan besar. Bangsa yang memiliki mentalitas terjajah dapat menunjukkan gejala sebagai berikut;

Pertama, inferior terhadap bangsa lain:
Segala sesuatu yang berasal dari luar dianggap lebih baik, lebih modern, dan lebih bermutu. Sebaliknya, produk, pemikiran, tradisi, bahkan kemampuan bangsa sendiri dipandang rendah.
Sikap terbuka terhadap kemajuan dunia tentu merupakan sesuatu yang positif. Yang berbahaya adalah ketika keterbukaan berubah menjadi inferioritas, sehingga bangsa sendiri kehilangan kepercayaan diri.

Kedua, ketergantungan yang berlebihan:
Ketergantungan dapat terjadi dalam bidang ekonomi, teknologi, pangan, energi, pendidikan, bahkan kebijakan publik. Kerja sama internasional tentu diperlukan. Namun, kerja sama yang tidak disertai kemandirian dapat berubah menjadi ketergantungan.

Bangsa yang merdeka harus mampu bekerja sama dengan bangsa lain tanpa kehilangan kemampuan menentukan kepentingan nasionalnya sendiri.

Ketiga, menjadi konsumen, bukan produsen
Mentalitas terjajah sering menghasilkan budaya konsumtif. Masyarakat lebih bangga menggunakan produk dan teknologi dari luar daripada mengembangkan kemampuan produksi sendiri. Padahal, kemerdekaan ekonomi menuntut kemampuan untuk menghasilkan nilai tambah, menciptakan teknologi, mengembangkan industri, memperkuat pertanian, dan membangun sumber daya manusia.

Keempat, mudah dikendalikan oleh kekuatan modal dan informasi
Penjajahan modern tidak selalu dilakukan melalui pendudukan militer. Pengaruh dapat bekerja melalui ekonomi, teknologi, informasi, media, budaya, dan jejaring kekuasaan.
Karena itu, masyarakat yang tidak memiliki literasi ekonomi, politik, digital, dan ideologi yang memadai akan lebih mudah menjadi objek manipulasi.

Kelima, kehilangan keberanian moral

Mentalitas terjajah juga dapat muncul ketika seseorang takut menyampaikan kebenaran karena berhadapan dengan kekuasaan. Ia memilih diam demi keselamatan pribadi, jabatan, fasilitas, atau keuntungan ekonomi.

Dalam perspektif Islam, keberanian menyampaikan kebenaran merupakan bagian penting dari akhlak seorang Muslim. Rasulullah SAW bersabda: “Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kalimat yang benar di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Dawud, al-Tirmidzi, dan Ibn Majah).
Hadis ini menunjukkan bahwa kemerdekaan jiwa berkaitan erat dengan keberanian moral.

Tinggalkan Balasan

Search